Wartatrans.com, CIANJUR — Di lereng selatan Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Gunung Padang berdiri sunyi, menyimpan batu-batu tua yang telah menyaksikan ribuan musim silih berganti. Bagi banyak orang, situs ini mungkin sekadar hamparan batu pada puncak bukit yang megah. Namun bagi mereka yang menelusuri jejak sejarah dan peradaban, Gunung Padang adalah teka-teki besar—sebuah halaman sunyi dari masa lampau yang terus memanggil generasi sekarang untuk membaca ulang asal usul manusia Nusantara.
Rogier Verbeek, ahli geologi dan peneliti Hindia Belanda, menjadi salah satu orang pertama yang mencatat Gunung Padang dalam tulisan ilmiah. Dalam Antiquities of Java: List of the Most Important Remains from the Hindu Period on Java, Verbeek menggambarkan puncak Gunung Padang sebagai serangkaian empat teras yang dihubungkan oleh anak tangga batu kasar, berlantai batu datar, dan dihiasi kolom-kolom andesit tegak, tajam bak pilar yang menantang waktu.

“Di setiap teras terdapat gundukan, kemungkinan sebuah makam, dikelilingi dan ditutupi dengan batu, dan dihiasi dua batu runcing di puncaknya,” catat Verbeek, yang pula menyebut kunjungan Monsieur De Corte pada tahun 1890. Catatan ini merupakan awal dari dokumentasi akademis situs yang pelik dan penuh misteri itu.
Abad berikutnya, pada 1914, arkeolog Belanda NJ Krom—yang dikenal pula sebagai peneliti Borobudur—mengonfirmasi keberadaan struktur megalitik di kawasan itu. Namun setelah itu, Gunung Padang kembali tenggelam dalam lupa, hingga seorang petani setempat pada 1979 menemukan kembali susunan batu yang agung namun sunyi.
Temuan yang Mengguncang: “Kujang Gunung Padang” dan Usia Situs
Seiring penelitian yang makin intensif, sejumlah temuan unik mulai muncul. Pada 2014, tim arkeolog menemukan sebuah artefak yang diperkirakan berasal dari rentang waktu antara 5200 SM hingga 500 M. Bentuknya menyerupai senjata tradisional, sehingga dilesakkan dengan nama “Kujang Gunung Padang” oleh salah satu arkeolog yang menelitinya, Ali Akbar.
Kujang ini bukan sekadar artefak: ia adalah jembatan imajinatif antara masa lalu yang nyaris terlupakan dan wujud budaya yang tak lagi hidup. Namun persoalan yang lebih besar justru terletak pada usia dan makna struktur itu sendiri — sebelum artefak tertanggal, bangunan megalitiknya sendiri menjadi sumber kontroversi yang terus bergema hingga kini.
Penelitian Kontemporer: Menguak Lapisan Waktu
Sejak penemuan awal itu, penelitian Gunung Padang telah memasuki fase baru. Pada awal 2020-an hingga akhir 2025, tim peneliti gabungan melakukan penggalian di beberapa titik teras utama situs, mengambil sampel bahan karbon dan batu yang kemudian diuji di laboratorium untuk menakar umur sebenarnya.
Hasil sementara menunjukkan bahwa usia Gunung Padang mungkin jauh lebih tua dari yang selama ini diperkirakan—bahkan ada klaim yang menyebutnya lebih tua dari piramida Mesir. Klaim ini memicu gelombang perhatian masyarakat, namun juga disertai perdebatan di kalangan ilmuwan karena membutuhkan verifikasi dan publikasi peer-review yang kuat untuk bisa diterima secara akademis.
Selain itu, sebuah temuan lain yang tak kalah menarik adalah “semen purba” —adukan bahan perekat yang ditemukan di antara susunan batu, yang diduga menjadi penopang struktur megalitik agar lebih kokoh. Bukti ini membuka kemungkinan bahwa masyarakat pembangun Gunung Padang memiliki teknik konstruksi yang lebih canggih daripada yang selama ini dibayangkan para peneliti.
Batu, Ingatan, dan Identitas Budaya
Gunung Padang bukan hanya tumpukan batu. Ia adalah perpaduan antara alam dan karya manusia, kisah lama dan pertanyaan masa kini. Batu-batu itu bukan sekadar benda mati: ia adalah ingatan yang dibekukan oleh waktu, menunggu untuk dibaca ulang dan dipahami.
Bagi komunitas lokal, situs ini adalah bagian dari warisan budaya yang harus dilestarikan. Bagi peneliti, ia adalah laboratorium waktu yang terus diuji. Dan bagi bangsa yang merayakan keragaman sejarahnya, Gunung Padang menjadi simbol pencarian tanpa henti atas siapa kita sebenarnya — sebelum kita tercatat dalam dokumen kolonial, sebelum kerajaan-kerajaan besar di Nusantara, dan mungkin jauh sebelum itu semua.
Menutup Sunyi, Membuka Waktu
Di setiap lapisan tanah yang diangkat, di setiap potongan artefak yang ditemukan, Gunung Padang menunjukkan bahwa sejarah tidak pernah lurus, jelas, atau mudah dipahami. Ia berliku dan penuh teka-teki — namun justru itulah yang membuatnya bernilai, bukan hanya sebagai objek arkeologi, tetapi sebagai cerita manusia yang terus hidup dalam sunyi.
Ketika para peneliti membongkar lapisan batu dan tanah, mereka juga membongkar lapisan waktu yang selama ribuan tahun tak pernah bicara. Dan ketika kita membaca jejak-jejak itu dengan seksama, kita bukan hanya menulis ulang sejarah, tetapi juga menulis ulang cara kita melihat diri sendiri.*** (PG/BS)




















