Menu

Mode Gelap
Stasiun Bogor Tertinggi Layani Penumpang KRL Semester I 2026, KAI Kebut Pengembangan Peron untuk 12 Kereta Pelita Air dan Patra Hotels Hadirkan PASPlus, bikin Libur Sekolah Makin Asik Hindari Bom Waktu Sampah, Jakarta Siapkan Tarif Bayar Sesuai Beban  Dilema Timnas di ASEAN Cup 2026, Berburu Gengsi Juara atau Jebakan Ranking Ribuan Ojol Antre KPR DP 0%: Janji Gacor Perumahan Informal  Halimah Munawir Podcast Roadshow Hadir di Symphony & Harmony IWAPI DKI Jakarta

RAGAM

Ratusan Warga Tonton Film NOEH (Pasung) di RSJ Aceh, Hujan Tak Surutkan Ikhtiar Lawan Stigma ODGJ

badge-check


 Ratusan Warga Tonton Film NOEH (Pasung) di RSJ Aceh, Hujan Tak Surutkan Ikhtiar Lawan Stigma ODGJ Perbesar

Oleh: Yusrizal Ibrahim Lamno

_________

Wartatrans.com, BANDA ACEH — Hujan lebat tak menyurutkan langkah ratusan warga yang memadati halaman Rumah Sakit Jiwa Aceh, Senin malam. Sekitar 500 kursi disiapkan panitia, namun jumlah penonton melebihi perkiraan. Sebagian penonton bahkan rela duduk di atas terpal yang dibentangkan di atas konblok basah demi menyaksikan pemutaran film NOEH (Pasung), sebuah film edukatif yang mengangkat isu kemanusiaan dan upaya penghapusan stigma terhadap Orang Dalam Gangguan Jiwa (ODGJ).

Film yang disutradarai Davi Abdullah tersebut mengisahkan Ishak, seorang lelaki dengan gangguan jiwa yang dipasung oleh orang-orang terdekatnya. Tokoh Ishak diperankan oleh Djamal Sharief. Praktik pasung dalam film digambarkan sebagai tindakan yang kerap dianggap wajar oleh lingkungan sekitar—sebuah kewajaran semu yang lahir dari ketakutan, prasangka, dan keterbatasan pemahaman.

Tokoh Zulfan tampil sebagai penggerak nurani. Ia mempertanyakan pasung bukan melalui konflik fisik, melainkan melalui perlawanan gagasan. Perjuangannya memperlihatkan benturan antara tradisi yang membeku dan empati yang berusaha bergerak maju. Penolakan keluarga, kecurigaan warga, hingga cara pandang lama yang menempatkan ODGJ sebagai ancaman menjadi rintangan utama dalam narasi film tersebut.

Secara dramatik, NOEH (Pasung) disajikan dengan alur yang tenang dan cenderung linear. Pendekatan ini memperlihatkan latar belakang sang sutradara yang kuat dalam film dokumenter. Kamera tidak mengeksploitasi penderitaan, melainkan menempatkan ODGJ sebagai subjek yang bermartabat. Film ini lebih memilih jalur edukasi ketimbang sensasionalisme.

Keistimewaan lain dari film ini adalah keterlibatan pasien dan petugas RSJ Aceh sebagai bagian dari pemeran. Sejumlah nama seperti Zefa, Kuratu, R. Aulia, Isma Bahari, dan Muna tampil dengan akting yang natural. Keterlibatan mereka menghadirkan nuansa autentik, menipiskan jarak antara fiksi dan realitas yang selama ini hidup di tengah masyarakat.

Peristiwa pemutaran film itu sendiri menjadi bagian penting dari pesan yang disampaikan. Hujan deras tidak membubarkan penonton—sebuah “hujan tak bubar” yang mematahkan anggapan bahwa cuaca akan memutus perhatian publik. Sekat tempat duduk yang lazim pun melebur secara alami tanpa menimbulkan kegaduhan. Solidaritas sosial justru menguat di tengah keterbatasan.

Film ini menegaskan bahwa pasung bukanlah solusi medis, melainkan ironi sosial yang lahir dari ketakutan dan minimnya akses layanan kesehatan jiwa. Dalam konteks Aceh, pesan tersebut menjadi sangat relevan, mengingat praktik pasung masih kerap dijumpai di sejumlah wilayah.

Jika ruang-ruang publik dan institusi terus membuka diri bagi pemutaran film edukatif semacam ini, bukan tidak mungkin industri kreatif lokal Aceh menemukan momentumnya sebagai sarana advokasi sosial. NOEH (Pasung) mungkin bukan film dengan pencapaian teknis yang spektakuler, namun ia menjadi penanda penting bahwa sinema dapat menjadi jembatan antara rumah sakit dan masyarakat, antara stigma dan pemahaman.

Pemutaran film tersebut ditutup dengan tepuk tangan panjang dari para penonton. Di bawah hujan lebat yang tak menyurutkan langkah, rantai—setidaknya di layar—akhirnya terlepas.***

____________

Keterangan Penulis:

Yusrizal Ibrahim Lamno adalah warga Banda Aceh, pemerhati sosial, seni, budaya, dan politik, yang peduli pada kemaslahatan bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Hindari Bom Waktu Sampah, Jakarta Siapkan Tarif Bayar Sesuai Beban 

4 Juli 2026 - 06:38 WIB

Halimah Munawir Podcast Roadshow Hadir di Symphony & Harmony IWAPI DKI Jakarta

3 Juli 2026 - 21:59 WIB

Perkuat Kualitas Layanan, IPCC Gelar Management Walkthrough di Terminal Satelit Banjarmasin

3 Juli 2026 - 21:05 WIB

Sapuan Kuas Jadi Wasiat Budaya, Perhelatan Mural #Sinergi Sukowati 2 Digelar di Sragen

3 Juli 2026 - 20:00 WIB

Masyarakat Beutong Ateuh Menjaga Warisan Alam, Sejahtera Karena Hutan Bukan Tambang

3 Juli 2026 - 15:29 WIB

Bagian dari Ekosistem Astra, FIFGROUP Perkuat Pemberdayaan Masyarakat melalui Desa Sejahtera Astra

3 Juli 2026 - 15:14 WIB

Pelindo Terminal Petikemas Berikan Wajah Baru Sarana Publik Masyarakat Ring 1 Terminal Teluk Lamong

3 Juli 2026 - 14:24 WIB

Pengoperasian QCC 004 Perkuat Daya Saing Pelabuhan Panjang sebagai Gerbang Logistik Sumatera

3 Juli 2026 - 13:35 WIB

13 Tahun, Mengabdi Direktur Ernawati Komit Bawa PT CMN Melayani Sepenuh Hati

3 Juli 2026 - 12:41 WIB

Cost Sharing ala Carpooling: Solusi Atasi Kemacetan, Biaya Energi dan Emisi Karbon

3 Juli 2026 - 12:28 WIB

Trending di RAGAM