Menu ✖

Mode Gelap
Pemerintah Bentuk Satgas Pemberantasan Penyelundupan Benih Lobster KAI Raih Dua Penghargaan CX100 2026, Peringkat ke-7 BUMN Terbaik dalam Pengalaman Pelanggan Diprotes Para Seniman, Seno Gumira Ajidarma Jelaskan Alasan Akademi Jakarta Tetapkan 25 Anggota DKJ, Bukan 30 Dialog FKSTIM, Akademi Jakarta dan Biro Hukum Buntu, Polemik Pemilihan Anggota DKJ Memanas Kemenhub Perkuat Ekosistem Keselamatan Transportasi Darat 150 Truk Listrik Distribusi Momogi Grup bakal Mengaspal Bulan ini

OLAH RAGA

Dilema Timnas di ASEAN Cup 2026, Berburu Gengsi Juara atau Jebakan Ranking

badge-check


 Dilema Timnas di ASEAN Cup 2026, Berburu Gengsi Juara atau Jebakan Ranking Perbesar

Wartatrans.com, ​JAKARTA – PSSI menghadapi dilema strategis antara ambisi memburu trofi perdana dan kalkulasi poin FIFA, menjelang ASEAN Hyundai Cup 2026. Turnamen subregional yang akan bergulir mulai 24 Juli 2026 ini, menjadi ujian krusial bagi pelatih anyar asal Kanada, John Herdman, untuk membuktikan kapasitasnya di Asia Tenggara.

​Asosiasi jurnalis olahraga PSSI Pers merespons momentum ini dengan menggelar forum diskusi Water Break bertajuk “ASEAN HYUNDAI CUP 2026: Menjemput Gelar Pertama Indonesia” di N Brand Experience Center, Sudirman Central Business District (SCBD), Jakarta, pada Jumat (3/7/2026). Forum yang mempertemukan pemangku kebijakan federasi, pemain, dan pengamat ini, menguliti kesiapan teknis sekaligus realitas matematis Skuad Garuda di panggung regional.

​Ketua Badan Tim Nasional (BTN), Sumardji, menegaskan bahwa federasi telah menyiapkan peta jalan komprehensif, termasuk pemusatan latihan di Bali yang dijadwalkan mulai Minggu (5/7/2026). “Sampai saat ini negara kita belum pernah merasakan indahnya euforia menjadi juara Piala AFF di level senior, karena itu momentum tahun 2026 ini sangat tepat,” ujarnya.

​Dari total 46 pemain yang masuk radar pemantauan, tim pelatih bakal memangkas skuad menjadi 24 hingga 26 nama terbaik melalui dua tahapan seleksi ketat. Sumardji optimistis kombinasi persiapan fisik dan mental yang matang akan mampu memenuhi ekspektasi serta dahaga juara masyarakat sepak bola tanah air.

​Namun, di balik optimisme tersebut, simulasi berbasis metode penjumlahan (SUM method) yang digunakan FIFA menunjukkan turnamen ini tidak memberikan dampak signifikan pada peringkat global Indonesia. Kejuaraan Asia Tenggara ini hanya dikategorikan sebagai laga internasional di luar kalender resmi FIFA dengan bobot nilai (importance coefficient) minimal sebesar 5.

​Jika merujuk pada regulasi tersebut, kemenangan atas tim-tim dengan peringkat lebih rendah seperti Kamboja, Timor Leste, atau Singapura hanya akan menyumbang poin yang sangat kecil. Skenario menyapu bersih empat laga fase Grup A hanya menggaransi tambahan sekitar 7,37 poin bagi posisi Indonesia di peringkat dunia.

​Potensi lonjakan poin yang sedikit lebih berarti baru akan diperoleh jika Skuad Garuda melaju ke fase gugur dan menumbangkan tim papan atas regional. Kemenangan atas Malaysia di babak semifinal diproyeksikan menyumbang 4,24 poin, sementara dua kemenangan atas Thailand di partai puncak berpotensi menghasilkan tambahan 5,76 poin.

​Kondisi pragmatis ini disiasati Herdman dengan menjadikannya media pematangan taktik dan integrasi pemain baru, alih-alih sekadar berburu angka ranking. Strategi jangka panjang tersebut mencakup akselerasi proses naturalisasi pemain keturunan seperti Mitchell Baker dan Luke Vickery, serta pemantauan talenta berdarah Jerman-Jawa.

​Gelandang tim nasional, Rayhan Hannan, mengungkapkan bahwa target juara yang dibebankan tidak mengurangi motivasi internal para pemain di lapangan. “Targetnya adalah menjadi juara Piala AFF, kemudian melanjutkannya di FIFA ASEAN Cup, dan selanjutnya mencapai target di Piala Asia,” tutur pemain asal klub Persija Jakarta tersebut.

​Ambisi serupa diapungkan oleh penjaga gawang Cahya Supriadi yang menyatakan kesiapannya melahap seluruh menu latihan intensitas tinggi dari tim pelatih. “Kami bertekad untuk meraih gelar juara, karena itu kami akan menjalani seluruh program latihan yang sudah disiapkan oleh coach John,” kata Cahya.

​Kendati demikian, pengamat sepak bola Marco Tampubolon mengingatkan bahwa status Indonesia sebagai finalis enam kali tanpa mahkota juara tetap memberikan beban sejarah yang masif. “Sebuah tim nasional pada akhirnya akan dinilai dari trofi yang berhasil diraih, apa pun turnamen yang diikuti akan menjadi bagian dari sejarah,” ujar Marco saat dihubungi pada Jumat, 3 Juli 2026.

​Menurut Marco, turnamen ini harus dipandang secara berimbang sebagai batu loncatan mentalitas juara ketimbang pemosisian statistik di atas kertas. Langkah Indonesia di Grup A akan dimulai pada 27 Juli melawan Kamboja, disusul Timor Leste pada 31 Juli, Vietnam pada 3 Agustus, dan Singapura pada 7 Agustus.***

(Artha Tidar)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

26 UMKM Binaan PLN UID Jakarta Raup Rp200 Juta Selama FIFA ASEAN Cup

7 Oktober 2026 - 17:19 WIB

Suasana Tegang Menyelimuti Nobar Final FIFA ASEAN Cup 2026 di Kantor Gubernur Jateng

6 Oktober 2026 - 09:31 WIB

Timnas Juara FIFA ASEAN Cup, Presiden Siapkan Bonus Ekstra

6 Oktober 2026 - 07:54 WIB

AFC Dorong Asian Nations League, Beban Biaya Perjalanan jadi Sorotan

5 Oktober 2026 - 16:22 WIB

Indonesia 9-2 Bangladesh, FIFA ASEAN Cup Turut Dorong Ekonomi Bandung

2 Oktober 2026 - 18:55 WIB

Peluncuran Buku Dampak MotoGP Mandalika, InJourney: Tegaskan Peran Sport Tourism sebagai Penggerak Ekonomi

1 Oktober 2026 - 08:21 WIB

BNI Apresiasi Pembinaan PBSI, Bulu Tangkis Sumbang 6 Medali di Asian Games 2026

30 September 2026 - 10:44 WIB

Indonesia-Malaysia Imbang 0-0 di Laga Kedua Grup A FIFA ASEAN Cup 2026

29 September 2026 - 07:21 WIB

Pelindo Group Wilayah Makassar Sambut Hari Pelindo Lewat Turnamen Padel

28 September 2026 - 21:48 WIB

Gasak Singapura 2-0, Indonesia Full Skuad 10 Starter Naturalisasi

26 September 2026 - 07:07 WIB

Trending di OLAH RAGA