Menu

Mode Gelap
Hindari Bom Waktu Sampah, Jakarta Siapkan Tarif Bayar Sesuai Beban  Dilema Timnas di ASEAN Cup 2026, Berburu Gengsi Juara atau Jebakan Ranking Ribuan Ojol Antre KPR DP 0%: Janji Gacor Perumahan Informal  Halimah Munawir Podcast Roadshow Hadir di Symphony & Harmony IWAPI DKI Jakarta Perkuat Kualitas Layanan, IPCC Gelar Management Walkthrough di Terminal Satelit Banjarmasin Sapuan Kuas Jadi Wasiat Budaya, Perhelatan Mural #Sinergi Sukowati 2 Digelar di Sragen

OLAH RAGA

Dilema Timnas di ASEAN Cup 2026, Berburu Gengsi Juara atau Jebakan Ranking

badge-check


 Dilema Timnas di ASEAN Cup 2026, Berburu Gengsi Juara atau Jebakan Ranking Perbesar

Wartatrans.com, ​JAKARTA – PSSI menghadapi dilema strategis antara ambisi memburu trofi perdana dan kalkulasi poin FIFA, menjelang ASEAN Hyundai Cup 2026. Turnamen subregional yang akan bergulir mulai 24 Juli 2026 ini, menjadi ujian krusial bagi pelatih anyar asal Kanada, John Herdman, untuk membuktikan kapasitasnya di Asia Tenggara.

​Asosiasi jurnalis olahraga PSSI Pers merespons momentum ini dengan menggelar forum diskusi Water Break bertajuk “ASEAN HYUNDAI CUP 2026: Menjemput Gelar Pertama Indonesia” di N Brand Experience Center, Sudirman Central Business District (SCBD), Jakarta, pada Jumat (3/7/2026). Forum yang mempertemukan pemangku kebijakan federasi, pemain, dan pengamat ini, menguliti kesiapan teknis sekaligus realitas matematis Skuad Garuda di panggung regional.

​Ketua Badan Tim Nasional (BTN), Sumardji, menegaskan bahwa federasi telah menyiapkan peta jalan komprehensif, termasuk pemusatan latihan di Bali yang dijadwalkan mulai Minggu (5/7/2026). “Sampai saat ini negara kita belum pernah merasakan indahnya euforia menjadi juara Piala AFF di level senior, karena itu momentum tahun 2026 ini sangat tepat,” ujarnya.

​Dari total 46 pemain yang masuk radar pemantauan, tim pelatih bakal memangkas skuad menjadi 24 hingga 26 nama terbaik melalui dua tahapan seleksi ketat. Sumardji optimistis kombinasi persiapan fisik dan mental yang matang akan mampu memenuhi ekspektasi serta dahaga juara masyarakat sepak bola tanah air.

​Namun, di balik optimisme tersebut, simulasi berbasis metode penjumlahan (SUM method) yang digunakan FIFA menunjukkan turnamen ini tidak memberikan dampak signifikan pada peringkat global Indonesia. Kejuaraan Asia Tenggara ini hanya dikategorikan sebagai laga internasional di luar kalender resmi FIFA dengan bobot nilai (importance coefficient) minimal sebesar 5.

​Jika merujuk pada regulasi tersebut, kemenangan atas tim-tim dengan peringkat lebih rendah seperti Kamboja, Timor Leste, atau Singapura hanya akan menyumbang poin yang sangat kecil. Skenario menyapu bersih empat laga fase Grup A hanya menggaransi tambahan sekitar 7,37 poin bagi posisi Indonesia di peringkat dunia.

​Potensi lonjakan poin yang sedikit lebih berarti baru akan diperoleh jika Skuad Garuda melaju ke fase gugur dan menumbangkan tim papan atas regional. Kemenangan atas Malaysia di babak semifinal diproyeksikan menyumbang 4,24 poin, sementara dua kemenangan atas Thailand di partai puncak berpotensi menghasilkan tambahan 5,76 poin.

​Kondisi pragmatis ini disiasati Herdman dengan menjadikannya media pematangan taktik dan integrasi pemain baru, alih-alih sekadar berburu angka ranking. Strategi jangka panjang tersebut mencakup akselerasi proses naturalisasi pemain keturunan seperti Mitchell Baker dan Luke Vickery, serta pemantauan talenta berdarah Jerman-Jawa.

​Gelandang tim nasional, Rayhan Hannan, mengungkapkan bahwa target juara yang dibebankan tidak mengurangi motivasi internal para pemain di lapangan. “Targetnya adalah menjadi juara Piala AFF, kemudian melanjutkannya di FIFA ASEAN Cup, dan selanjutnya mencapai target di Piala Asia,” tutur pemain asal klub Persija Jakarta tersebut.

​Ambisi serupa diapungkan oleh penjaga gawang Cahya Supriadi yang menyatakan kesiapannya melahap seluruh menu latihan intensitas tinggi dari tim pelatih. “Kami bertekad untuk meraih gelar juara, karena itu kami akan menjalani seluruh program latihan yang sudah disiapkan oleh coach John,” kata Cahya.

​Kendati demikian, pengamat sepak bola Marco Tampubolon mengingatkan bahwa status Indonesia sebagai finalis enam kali tanpa mahkota juara tetap memberikan beban sejarah yang masif. “Sebuah tim nasional pada akhirnya akan dinilai dari trofi yang berhasil diraih, apa pun turnamen yang diikuti akan menjadi bagian dari sejarah,” ujar Marco saat dihubungi pada Jumat, 3 Juli 2026.

​Menurut Marco, turnamen ini harus dipandang secara berimbang sebagai batu loncatan mentalitas juara ketimbang pemosisian statistik di atas kertas. Langkah Indonesia di Grup A akan dimulai pada 27 Juli melawan Kamboja, disusul Timor Leste pada 31 Juli, Vietnam pada 3 Agustus, dan Singapura pada 7 Agustus.***

(Artha Tidar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pegawai KSOP Utama Tanjung Priok Raih Medali Emas ISKA, Harumkan Nama Kemenhub

3 Juli 2026 - 17:24 WIB

Kejar Cuan Rp100 Triliun, Kemenpora Pangkas 1.440 Pasal untuk Genjot Industri Olahraga

2 Juli 2026 - 21:37 WIB

Melalui Bowling Fun Games 2026, IPC TPK dan Mitra PBM Perkuat Koordinasi dan Kolaborasi Dorong Operational Excellence

1 Juli 2026 - 07:43 WIB

Karena MBG Indonesia Juara AVC Men’s Volleyball Club 2026.

29 Juni 2026 - 15:55 WIB

Pemanfaatan Aset DAMRI Hadirkan Fasilitas Olahraga Baru di Kawasan Wisata Yogyakarta

25 Juni 2026 - 09:11 WIB

TVRI Pegang Hak Siar Piala Dunia 2026, Bayang-Bayang Paywall 2022 Belum Hilang

21 Juni 2026 - 05:24 WIB

Obsesi 2030 vs Realita: Timnas Belum Mampu Tembus Bayang-bayang ASEAN

20 Juni 2026 - 05:24 WIB

Tambal Sulam Garuda: Dua Wajah Baru, Pertanyaan Lama

15 Juni 2026 - 21:58 WIB

Catatan Iwan Piliang: Jepang dan Mimpi Juara Dunia 2026

15 Juni 2026 - 15:21 WIB

Kanada Ditahan Bosnia 1-1 pada Laga Perdana Piala Dunia 2026

13 Juni 2026 - 09:25 WIB

Trending di OLAH RAGA