Menu

Mode Gelap
KSOP Muara Angke Perkuat Keselamatan Pelayaran dan Pencegahan Kebakaran Kapal Loko Café dan Kuliner Kereta Ramaikan BNI wondrX 2026 di ICE BSD, Ada Kopi Best Seller hingga Cuank! Enak Tol HBR II Setinggi 38 Meter, Ditargetkan Rampung Awal 2028 Uji Coba 65 Kampung Nelayan Merah Putih Kirim 273,6 Ton Ikan Senilai Rp11,1 Miliar Kemenhaj Buka Seleksi Petugas Penyelenggara Ibadah Haji Arab Saudi 2027 Mualeem Buka Suara: Rotasi Sekda Disebut sebagai Langkah Penyegaran Pemerintahan Aceh

OLAH RAGA

Obsesi 2030 vs Realita: Timnas Belum Mampu Tembus Bayang-bayang ASEAN

badge-check


 Presiden, Menpora, dan perwakilan FIFA di Bogor Perbesar

Presiden, Menpora, dan perwakilan FIFA di Bogor

Wartatrans.com, BOGOR – Dukungan Presiden Prabowo Subianto untuk pencalonan Indonesia sebagai tuan rumah FIFA ASEAN 2026, dan target Timnas lolos Piala Dunia 2030 terdengar lantang.

Tapi, jika semua janji itu dibentangkan ke data prestasi lima tahun terakhir, jarak antara ambisi dan realita masih terlalu lebar.

Pertemuan Presiden Prabowo dengan Menpora Erick Thohir dan Pelatih Kepala John Herdman, di Hambalang, Bogor, Jumat (19/6/2026) sore, menegaskan komitmen pemerintah menyiapkan surat dukungan ke FIFA, serta sinergi lintas kementerian.

Erick menyebut FIFA sudah memberi respons positif terhadap pencalonan.

Herdman menargetkan FIFA ASEAN harus dimenangkan sebagai bukti Indonesia “terbaik Asia Timur”.

Pertanyaannya sederhana, apakah grafik prestasi Timnas 2021-2026 sudah menunjang target setinggi itu?

Angka FIFA ranking memberi gambaran awal. Desember 2021 Indonesia ada di peringkat 164 dunia. Per Juni 2026 Timnas naik ke kisaran 118-122.

Kenaikan sekitar 42 tangga dalam 5 tahun memang tajam dan banyak dipicu kemenangan atas Vietnam, Filipina, serta rangkaian laga uji coba. Tapi lonjakan itu belum mengubah peta persaingan. Vietnam stabil di 92-96, Thailand di 99-111.

Artinya Indonesia masih tertinggal 25-30 peringkat dari zona Top 80 Asia, ambang yang biasanya dibutuhkan untuk lolos otomatis tanpa playoff.

Mayoritas kenaikan poin datang dari laga vs tim ranking 150-180, bukan dari konsistensi mengalahkan tim 80 besar.

Di level regional, data Piala AFF/ASEAN justru menunjukkan inkonsistensi. Dari 5 edisi terakhir, Timnas hanya sekali ke final pada 2020 lalu kalah agregat 2-6 dari Thailand.

Edisi 2022 terhenti di semifinal oleh Vietnam. Edisi 2024 lebih mengecewakan: gagal lolos fase grup setelah kalah 0-1 dari Laos dan Filipina.

Pola “satu edisi bersinar, dua edisi anjlok” ini bertolak belakang dengan klaim “FIFA ASEAN harus kami menangkan” yang disampaikan Herdman. Tim yang ingin mendominasi Asia Timur belum membuktikan dominasi di Asia Tenggara.

Kualifikasi Piala Dunia memberi catatan dua sisi. Lolos ke Ronde 3 (R 3) Kualifikasi 2026 adalah rekor, pertama kali sejak format baru.

Indonesia menumbangkan Vietnam dan Filipina kandang-tandang, torehan yang tak pernah terjadi sebelumnya. Namun, dari 10 laga R3, hasilnya hanya 3 menang, 3 imbang, 4 kalah dengan selisih gol -9.

Kekalahan 0-4 dari Jepang dan 1-5 dari Australia menelanjangi gap fisik, kecepatan transisi, dan kedalaman skuad. Lolos R3 adalah kemajuan, tapi belum setara “bersaing”.

Head-to-head vs rival ASEAN 2021-2026 juga belum memihak. Lawan Thailand 1 menang, 2 seri, 3 kalah. Lawan Vietnam 2 menang, 1 seri, 3 kalah.

Hanya ke Malaysia yang positif 3 menang, 1 seri, 2 kalah. Tim yang menargetkan piala Asia Timur, justru masih minus dari dua penguasa Asia Tenggara.

Struktur pembinaan menambah catatan kritis. Masuknya lebih dari 20 pemain diaspora, sejak 2022, memang mendongkrak kualitas jangka pendek dan ranking.

Namun, menit bermain pemain U-23 di Liga 1 stagnan di kisaran 18-22% selama 3 musim. Elite Pro Academy PSSI baru 1 titik berjalan penuh. Fondasi usia muda belum mengejar ambisi 2030.

Dukungan Presiden dan Menpora itu bahan bakar. Tapi, tanpa target KPI yang diukur tiap tahun, Piala Dunia 2030 berisiko tetap jadi poster.

Data lima tahun terakhir menuntut koreksi: ranking tembus 95 akhir 2027, menang minimal 60% laga vs tim ranking 100-150, dan menit U-23 Liga 1 naik ke 35%.

Jika FIFA ASEAN 2026 tak dimenangi dan tren vs Thailand-Vietnam tak berbalik, maka “obsesi 2030” akan tetap sebatas retorika. (Artha Tidar)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Mantap, Bank Berebut Ekosistem Suporter di Kompetisi Super League 2026/2027

23 Agustus 2026 - 10:12 WIB

Clairefontaine-Kudus, PSSI Bangun Jalur Talenta Putri U-17

21 Agustus 2026 - 15:33 WIB

RANS Bidik Hak Siar IWL, Bisnis Broadcast Match Mulai Bergeser?

21 Agustus 2026 - 06:57 WIB

Meriahkan HUT Ke-81 RI, Terminal Teluk Lamong Gelar Beragam Lomba dan Pesta Rakyat

18 Agustus 2026 - 21:53 WIB

IWL Mulai 17 Oktober, 6 Klub Uji Roadmap Sepak Bola Putri

13 Agustus 2026 - 05:09 WIB

PSSI Diminta Bongkar Masalah Performa Timnas Naik-Turun

10 Agustus 2026 - 07:00 WIB

Resiliensi Garuda Diuji, Singapura jadi Ancaman di Laga Penentu AFF 2026

6 Agustus 2026 - 05:12 WIB

Perkuat Kiprah Pereli Perempuan Indonesia, PRIVE Health Team Kembali Dukung LodySasty di AXCR 2026 di Thailand

5 Agustus 2026 - 09:50 WIB

Raih 1 Juta Penonton Bola, Watchalong AFF 2026 Buka Model Baru Bisnis Siaran Olahraga

5 Agustus 2026 - 07:48 WIB

Aston Villa Menang 3-1 Kalahkan Indonesia All Star di GBK

2 Agustus 2026 - 05:45 WIB

Trending di OLAH RAGA