Menu

Mode Gelap
Kecelakaan Truk Seruduk Motor di Lampu Merah Bekasi, Total 10 Korban Di SagoeTV Putra Gara dan Salman Yoga Bahas Masa Depan Sastra Aceh Rampung 100%, Fly Over Teluk Lamong Siap Beroperasi untuk Perkuat Konektivitas dan Logistik Jawa Timur Penumpang Difabel Enggak Perlu Naik Turun Kursi Roda untuk Naik KRL, Perjalanan RS Jakarta-Stasiun Bogor jadi Lebih Mudah Karena MBG Indonesia Juara AVC Men’s Volleyball Club 2026. Truk Tabrak Sejumlah Motor di Simpang Unisma Bekasi, Satu Orang Tewas

OLAH RAGA

Obsesi 2030 vs Realita: Timnas Belum Mampu Tembus Bayang-bayang ASEAN

badge-check


 Presiden, Menpora, dan perwakilan FIFA di Bogor Perbesar

Presiden, Menpora, dan perwakilan FIFA di Bogor

Wartatrans.com, BOGOR – Dukungan Presiden Prabowo Subianto untuk pencalonan Indonesia sebagai tuan rumah FIFA ASEAN 2026, dan target Timnas lolos Piala Dunia 2030 terdengar lantang.

Tapi, jika semua janji itu dibentangkan ke data prestasi lima tahun terakhir, jarak antara ambisi dan realita masih terlalu lebar.

Pertemuan Presiden Prabowo dengan Menpora Erick Thohir dan Pelatih Kepala John Herdman, di Hambalang, Bogor, Jumat (19/6/2026) sore, menegaskan komitmen pemerintah menyiapkan surat dukungan ke FIFA, serta sinergi lintas kementerian.

Erick menyebut FIFA sudah memberi respons positif terhadap pencalonan.

Herdman menargetkan FIFA ASEAN harus dimenangkan sebagai bukti Indonesia “terbaik Asia Timur”.

Pertanyaannya sederhana, apakah grafik prestasi Timnas 2021-2026 sudah menunjang target setinggi itu?

Angka FIFA ranking memberi gambaran awal. Desember 2021 Indonesia ada di peringkat 164 dunia. Per Juni 2026 Timnas naik ke kisaran 118-122.

Kenaikan sekitar 42 tangga dalam 5 tahun memang tajam dan banyak dipicu kemenangan atas Vietnam, Filipina, serta rangkaian laga uji coba. Tapi lonjakan itu belum mengubah peta persaingan. Vietnam stabil di 92-96, Thailand di 99-111.

Artinya Indonesia masih tertinggal 25-30 peringkat dari zona Top 80 Asia, ambang yang biasanya dibutuhkan untuk lolos otomatis tanpa playoff.

Mayoritas kenaikan poin datang dari laga vs tim ranking 150-180, bukan dari konsistensi mengalahkan tim 80 besar.

Di level regional, data Piala AFF/ASEAN justru menunjukkan inkonsistensi. Dari 5 edisi terakhir, Timnas hanya sekali ke final pada 2020 lalu kalah agregat 2-6 dari Thailand.

Edisi 2022 terhenti di semifinal oleh Vietnam. Edisi 2024 lebih mengecewakan: gagal lolos fase grup setelah kalah 0-1 dari Laos dan Filipina.

Pola “satu edisi bersinar, dua edisi anjlok” ini bertolak belakang dengan klaim “FIFA ASEAN harus kami menangkan” yang disampaikan Herdman. Tim yang ingin mendominasi Asia Timur belum membuktikan dominasi di Asia Tenggara.

Kualifikasi Piala Dunia memberi catatan dua sisi. Lolos ke Ronde 3 (R 3) Kualifikasi 2026 adalah rekor, pertama kali sejak format baru.

Indonesia menumbangkan Vietnam dan Filipina kandang-tandang, torehan yang tak pernah terjadi sebelumnya. Namun, dari 10 laga R3, hasilnya hanya 3 menang, 3 imbang, 4 kalah dengan selisih gol -9.

Kekalahan 0-4 dari Jepang dan 1-5 dari Australia menelanjangi gap fisik, kecepatan transisi, dan kedalaman skuad. Lolos R3 adalah kemajuan, tapi belum setara “bersaing”.

Head-to-head vs rival ASEAN 2021-2026 juga belum memihak. Lawan Thailand 1 menang, 2 seri, 3 kalah. Lawan Vietnam 2 menang, 1 seri, 3 kalah.

Hanya ke Malaysia yang positif 3 menang, 1 seri, 2 kalah. Tim yang menargetkan piala Asia Timur, justru masih minus dari dua penguasa Asia Tenggara.

Struktur pembinaan menambah catatan kritis. Masuknya lebih dari 20 pemain diaspora, sejak 2022, memang mendongkrak kualitas jangka pendek dan ranking.

Namun, menit bermain pemain U-23 di Liga 1 stagnan di kisaran 18-22% selama 3 musim. Elite Pro Academy PSSI baru 1 titik berjalan penuh. Fondasi usia muda belum mengejar ambisi 2030.

Dukungan Presiden dan Menpora itu bahan bakar. Tapi, tanpa target KPI yang diukur tiap tahun, Piala Dunia 2030 berisiko tetap jadi poster.

Data lima tahun terakhir menuntut koreksi: ranking tembus 95 akhir 2027, menang minimal 60% laga vs tim ranking 100-150, dan menit U-23 Liga 1 naik ke 35%.

Jika FIFA ASEAN 2026 tak dimenangi dan tren vs Thailand-Vietnam tak berbalik, maka “obsesi 2030” akan tetap sebatas retorika. (Artha Tidar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Karena MBG Indonesia Juara AVC Men’s Volleyball Club 2026.

29 Juni 2026 - 15:55 WIB

Pemanfaatan Aset DAMRI Hadirkan Fasilitas Olahraga Baru di Kawasan Wisata Yogyakarta

25 Juni 2026 - 09:11 WIB

TVRI Pegang Hak Siar Piala Dunia 2026, Bayang-Bayang Paywall 2022 Belum Hilang

21 Juni 2026 - 05:24 WIB

Tambal Sulam Garuda: Dua Wajah Baru, Pertanyaan Lama

15 Juni 2026 - 21:58 WIB

Catatan Iwan Piliang: Jepang dan Mimpi Juara Dunia 2026

15 Juni 2026 - 15:21 WIB

Kanada Ditahan Bosnia 1-1 pada Laga Perdana Piala Dunia 2026

13 Juni 2026 - 09:25 WIB

Indonesia Tekuk Oman 3-0, Keunggulan Fisik dan Disiplin Taktik Jadi Pembeda

6 Juni 2026 - 14:27 WIB

SUAMIKU LUKAKU Gelar Kampanye CFD di 5 Kota, Soroti Pentingnya Kesehatan Mental dan Kesadaran terhadap KDRT

26 Mei 2026 - 11:03 WIB

Kid’s Atletik OSN 2026 Aceh Tengah Berlangsung Meriah, Pelajar Tampilkan Semangat Juang dan Sportivitas Tinggi

20 Mei 2026 - 01:49 WIB

Dukungan Armada DAMRI Warnai Kesuksesan Asian Volleyball Confederation Champions League 2026 di Pontianak

19 Mei 2026 - 20:30 WIB

Trending di JALUR