Menu ✖

Mode Gelap
Ekspor Perikanan Maluku Tembus Rp700 Miliar, Serap 1.102 Tenaga Kerja KAI Angkut 191 Ribu Ton Barang Retail hingga September 2026, Dorong Efisiensi Logistik Kemenhub dan Kemenlu Fasilitasi Kepulangan 4 Awak Kapal Korban Pembajakan di Somalia Lima Tahun Bersatu, Terminal Teluk Lamong Terus Tumbuh dan Bertransformasi Bersama Pelindo B50 Jadi Program Utama KAI, Target Pangkas Emisi 133.676 Ton CO₂e Pelindo Regional 2 Dorong Generasi Muda Kenali Strategi dan Bisnis Kepelabuhanan

RAGAM

Gayo Raya, Wilayah Revolusi Pemikiran untuk Membangun Masa Depan Aceh

badge-check


 Gayo Raya, Wilayah Revolusi Pemikiran untuk Membangun Masa Depan Aceh Perbesar

Wartatrans.com, BANDA ACEH– Sejumlah tokoh muda dan pegiat budaya Gayo menegaskan bahwa pembangunan Aceh ke depan tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan fisik, tetapi harus dimulai dari revolusi pemikiran yang berakar pada nilai-nilai adat, spiritualitas, sejarah, dan gotong royong masyarakat Gayo.

Gagasan tersebut mengemuka dalam diskusi yang diikuti Wiratma Dinata, Salman Yoga, Zulfan Diara Gayo, Putra Gara, Purnama Kahar Ruslan, Rahmad Sanjaya, Ardhiansyah Putra, Yusra Daud, tokoh muda Gayo Jasa Purnama, Angga Prastya, dan Nanda Winar Sagita. Mereka sepakat bahwa Gayo Raya memiliki modal sosial, budaya, dan sejarah yang kuat untuk menjadi pusat lahirnya paradigma baru pembangunan Aceh.

Wira mengatakan, masyarakat Gayo telah lama memiliki warisan nilai yang mampu menjadi inspirasi pembangunan modern, salah satunya melalui tradisi Jalur Enang-enang, yakni semangat membangun secara gotong royong demi kepentingan bersama.

“Jalur Enang-enang bukan sekadar jalan yang dibangun masyarakat. Ia adalah simbol kebersamaan, pengorbanan, dan keyakinan bahwa pekerjaan besar dapat diselesaikan dengan kekuatan kolektif. Di dalamnya terdapat nilai sosial dan spiritual yang menjadi jati diri masyarakat Gayo,” ujar Wira.

Menurutnya, pembangunan Aceh harus kembali bertumpu pada kekuatan masyarakat, bukan semata-mata bergantung pada anggaran pemerintah. Budaya gotong royong, musyawarah (genap mupakat), saling membantu, amanah, serta nilai-nilai keislaman merupakan fondasi yang telah lama hidup dalam masyarakat Gayo.

Sementara itu, Putra Gara menilai revolusi pemikiran juga harus dimulai dengan membangun kesadaran sejarah. Menurutnya, Gayo Raya memiliki kontribusi besar dalam perjalanan peradaban Aceh yang perlu ditempatkan secara proporsional dalam narasi sejarah.

“Gayo Raya bukan wilayah pinggiran dalam sejarah Aceh. Kami meyakini bahwa para pendiri Kesultanan Samudera Pasai hingga Kesultanan Aceh Darussalam memiliki keterkaitan dengan Gayo Raya sebagaimana berkembang dalam sejumlah tradisi lisan dan kajian sejarah. Karena itu, Gayo Raya harus diposisikan sebagai salah satu pusat lahirnya peradaban Aceh sekaligus wilayah revolusi pemikiran untuk masa depan Aceh,” ujar Putra Gara.

Ia menambahkan bahwa penguatan sejarah bukan untuk membangun superioritas suatu daerah, melainkan untuk melengkapi narasi sejarah Aceh secara utuh sehingga seluruh daerah memperoleh pengakuan atas kontribusinya dalam membangun peradaban.

Salman Yoga menambahkan bahwa Aceh memerlukan lompatan cara berpikir agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.

“Revolusi pemikiran berarti membangun manusia yang kreatif, inovatif, berkarakter, namun tetap berpijak pada adat dan syariat. Gayo Raya memiliki modal budaya untuk menjadi contoh lahirnya peradaban baru Aceh,” katanya.

Zulfan Diara Gayo menilai pembangunan tidak boleh menghilangkan identitas budaya.

“Budaya bukan penghambat kemajuan, justru menjadi energi pembangunan. Daerah yang mampu menjaga identitasnya biasanya memiliki daya tahan sosial yang lebih kuat,” ujarnya.

Purnama menilai generasi muda harus menjadi penggerak perubahan melalui literasi, seni, budaya, dan teknologi tanpa meninggalkan akar tradisi.

Sementara itu, Jasa Purnama mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan nilai gotong royong sebagai kekuatan pembangunan.

“Jika semangat Jalur Enang-enang dapat dihidupkan kembali dalam pendidikan, ekonomi, kebudayaan, dan pembangunan desa, maka Aceh akan memiliki fondasi yang kuat untuk menghadapi tantangan masa depan,” ujarnya.

Diskusi tersebut menghasilkan kesepahaman bahwa Gayo Raya tidak hanya memiliki kekayaan alam dan budaya, tetapi juga modal sejarah, nilai sosial, serta sumber daya manusia yang dapat menjadi fondasi lahirnya revolusi pemikiran untuk membangun Aceh yang maju, berkeadilan, dan tetap berakar pada jati diri serta nilai-nilai peradabannya.*** (Kamaruzzaman)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Ekspor Perikanan Maluku Tembus Rp700 Miliar, Serap 1.102 Tenaga Kerja

8 Oktober 2026 - 00:22 WIB

Lima Tahun Bersatu, Terminal Teluk Lamong Terus Tumbuh dan Bertransformasi Bersama Pelindo

7 Oktober 2026 - 20:33 WIB

Pelindo Regional 2 Dorong Generasi Muda Kenali Strategi dan Bisnis Kepelabuhanan

7 Oktober 2026 - 19:42 WIB

Alhamdulillah, Biaya yang Ditanggung Jemaah Haji 2027 Turun Rp3,4 Juta

7 Oktober 2026 - 18:49 WIB

Pelindo Mengajar, Ajak Siswa SMKN 1 Mempawah Mengenal Dunia Kepelabuhanan

7 Oktober 2026 - 18:32 WIB

Perempuan Aceh Bicara di Jakarta, Rumuskan Peta Jalan Kepemimpinan Perempuan Aceh 2045

7 Oktober 2026 - 18:20 WIB

Apa yang Dibahas Jokowi Saat Sambangi Prabowo di Kertanegara Jelang MK Putus Perkara Gibran?

7 Oktober 2026 - 17:17 WIB

Usai Putusan MK, Wakil Ketua DPRD Sukabumi Turunkan Foto Gibran dari Ruang Kerjanya

7 Oktober 2026 - 16:58 WIB

MK Tak Temukan Bukti Ijazah Setara SLTA Gibran, Buku Rismon Kembali Disorot

7 Oktober 2026 - 16:28 WIB

Bengkel Kreatif Aceh Multi Vision, 15 Tahun Mengembangkan Karya dan Ekonomi Kreatif Aceh

7 Oktober 2026 - 14:11 WIB

Trending di RAGAM