Wartatrans.com, BANDA ACEH– Sejumlah tokoh muda dan pegiat budaya Gayo menegaskan bahwa pembangunan Aceh ke depan tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan fisik, tetapi harus dimulai dari revolusi pemikiran yang berakar pada nilai-nilai adat, spiritualitas, sejarah, dan gotong royong masyarakat Gayo.
Gagasan tersebut mengemuka dalam diskusi yang diikuti Wiratma Dinata, Salman Yoga, Zulfan Diara Gayo, Putra Gara, Purnama Kahar Ruslan, Rahmad Sanjaya, Ardhiansyah Putra, Yusra Daud, tokoh muda Gayo Jasa Purnama, Angga Prastya, dan Nanda Winar Sagita. Mereka sepakat bahwa Gayo Raya memiliki modal sosial, budaya, dan sejarah yang kuat untuk menjadi pusat lahirnya paradigma baru pembangunan Aceh.

Wira mengatakan, masyarakat Gayo telah lama memiliki warisan nilai yang mampu menjadi inspirasi pembangunan modern, salah satunya melalui tradisi Jalur Enang-enang, yakni semangat membangun secara gotong royong demi kepentingan bersama.
“Jalur Enang-enang bukan sekadar jalan yang dibangun masyarakat. Ia adalah simbol kebersamaan, pengorbanan, dan keyakinan bahwa pekerjaan besar dapat diselesaikan dengan kekuatan kolektif. Di dalamnya terdapat nilai sosial dan spiritual yang menjadi jati diri masyarakat Gayo,” ujar Wira.
Menurutnya, pembangunan Aceh harus kembali bertumpu pada kekuatan masyarakat, bukan semata-mata bergantung pada anggaran pemerintah. Budaya gotong royong, musyawarah (genap mupakat), saling membantu, amanah, serta nilai-nilai keislaman merupakan fondasi yang telah lama hidup dalam masyarakat Gayo.
Sementara itu, Putra Gara menilai revolusi pemikiran juga harus dimulai dengan membangun kesadaran sejarah. Menurutnya, Gayo Raya memiliki kontribusi besar dalam perjalanan peradaban Aceh yang perlu ditempatkan secara proporsional dalam narasi sejarah.
“Gayo Raya bukan wilayah pinggiran dalam sejarah Aceh. Kami meyakini bahwa para pendiri Kesultanan Samudera Pasai hingga Kesultanan Aceh Darussalam memiliki keterkaitan dengan Gayo Raya sebagaimana berkembang dalam sejumlah tradisi lisan dan kajian sejarah. Karena itu, Gayo Raya harus diposisikan sebagai salah satu pusat lahirnya peradaban Aceh sekaligus wilayah revolusi pemikiran untuk masa depan Aceh,” ujar Putra Gara.
Ia menambahkan bahwa penguatan sejarah bukan untuk membangun superioritas suatu daerah, melainkan untuk melengkapi narasi sejarah Aceh secara utuh sehingga seluruh daerah memperoleh pengakuan atas kontribusinya dalam membangun peradaban.
Salman Yoga menambahkan bahwa Aceh memerlukan lompatan cara berpikir agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.
“Revolusi pemikiran berarti membangun manusia yang kreatif, inovatif, berkarakter, namun tetap berpijak pada adat dan syariat. Gayo Raya memiliki modal budaya untuk menjadi contoh lahirnya peradaban baru Aceh,” katanya.
Zulfan Diara Gayo menilai pembangunan tidak boleh menghilangkan identitas budaya.
“Budaya bukan penghambat kemajuan, justru menjadi energi pembangunan. Daerah yang mampu menjaga identitasnya biasanya memiliki daya tahan sosial yang lebih kuat,” ujarnya.
Purnama menilai generasi muda harus menjadi penggerak perubahan melalui literasi, seni, budaya, dan teknologi tanpa meninggalkan akar tradisi.
Sementara itu, Jasa Purnama mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan nilai gotong royong sebagai kekuatan pembangunan.
“Jika semangat Jalur Enang-enang dapat dihidupkan kembali dalam pendidikan, ekonomi, kebudayaan, dan pembangunan desa, maka Aceh akan memiliki fondasi yang kuat untuk menghadapi tantangan masa depan,” ujarnya.
Diskusi tersebut menghasilkan kesepahaman bahwa Gayo Raya tidak hanya memiliki kekayaan alam dan budaya, tetapi juga modal sejarah, nilai sosial, serta sumber daya manusia yang dapat menjadi fondasi lahirnya revolusi pemikiran untuk membangun Aceh yang maju, berkeadilan, dan tetap berakar pada jati diri serta nilai-nilai peradabannya.*** (Kamaruzzaman)


























