Menu

Mode Gelap
Di SagoeTV Putra Gara dan Salman Yoga Bahas Masa Depan Sastra Aceh Rampung 100%, Fly Over Teluk Lamong Siap Beroperasi untuk Perkuat Konektivitas dan Logistik Jawa Timur Penumpang Difabel Enggak Perlu Naik Turun Kursi Roda untuk Naik KRL, Perjalanan RS Jakarta-Stasiun Bogor jadi Lebih Mudah Karena MBG Indonesia Juara AVC Men’s Volleyball Club 2026. Truk Tabrak Sejumlah Motor di Simpang Unisma Bekasi, Satu Orang Tewas Akhirnya Dunia Usaha Ekonomi Kreatif Cilacap Punya Payung Hukum

SENI BUDAYA

Di SagoeTV Putra Gara dan Salman Yoga Bahas Masa Depan Sastra Aceh

badge-check


 Di SagoeTV Putra Gara dan Salman Yoga Bahas Masa Depan Sastra Aceh Perbesar

Wartatrans.com, BANDA ACEH – Semangat literasi yang menguat pasca Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Aceh pada 22-28 Juni terus bergema. Hal itu menjadi pembahasan dalam podcast SagoeTV yang dipandu Mukhlisudin Ilyas dengan menghadirkan sastrawan dan penulis novel sejarah Putra Gara serta penyair Salman Yoga sebagai narasumber, Senin (29/6/2026).

Podcast tersebut mengangkat tema konsistensi literasi dengan menyoroti pentingnya membangun budaya baca, tulis, dan berkarya yang berakar pada kearifan lokal, kejayaan peradaban Aceh di masa silam, serta dinamika gerakan sastra masa kini.

Putra Gara menegaskan bahwa literasi harus menjadi media untuk merawat sejarah dan memperkuat identitas budaya Aceh.

“Kekayaan sejarah dan warisan intelektual Aceh perlu terus dihidupkan melalui karya sastra agar menjadi sumber inspirasi bagi generasi mendatang,” ungkap Gara penulis novel Samudra Pasai.

Sementara itu, Salman Yoga S menilai penyelenggaraan PPN XIV Aceh telah membuktikan bahwa Aceh masih menjadi ruang penting bagi perkembangan sastra Nusantara.

“Momentum tersebut harus dijaga melalui gerakan literasi yang konsisten, tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi berlanjut dalam bentuk diskusi, penulisan, penerbitan karya, dan penguatan komunitas sastra,” ungkap Salman.

Dipandu Mukhlisudin Ilyas, diskusi juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara sastrawan, komunitas, akademisi, media, dan pemerintah untuk membangun ekosistem literasi yang berkelanjutan. Ketiganya sepakat, sastra dan literasi merupakan fondasi penting dalam menjaga identitas budaya sekaligus membangun peradaban Aceh di masa depan.*** (Jasa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Djamal Syarif Buka Malam Penutupan PPN XIV Aceh dengan Pembacaan Puisi

28 Juni 2026 - 22:03 WIB

Nyakman Lamjame Apresiasi Film Keumalahayati, Namun Judul “Pasukan 1000 Janda” Perlu Dikaji Kembali

28 Juni 2026 - 19:52 WIB

Jose Rizal Manua Dukung Keberatan Seniman Aceh atas Judul Film Malahayati: Pasukan 1000 Janda

28 Juni 2026 - 15:56 WIB

Yatti Surachman Tagih Janji Pembeli Rumah, Sisa Pelunasan Rp45 Juta Belum Dibayar

28 Juni 2026 - 14:29 WIB

Syuting “Lautan Cinta” di Yogyakarta, Abidzar Al-Ghifari Nikmati Kebersamaan dengan Para Pemain

28 Juni 2026 - 14:22 WIB

Kementerian Kebudayaan Resmikan Rumah Sastra Ahmad Tohari di Banyumas

28 Juni 2026 - 13:23 WIB

Syech Mulyadi Abadikan Semangat PPN XIV Aceh Lewat Puisi “Dari Tanah Aceh, PPN Ku Kenal”

28 Juni 2026 - 01:58 WIB

Pameran Arsip dan Karya Oesman Effendi Hadirkan Jejak Kreatif Maestro Seni Rupa Indonesia

28 Juni 2026 - 01:46 WIB

Putra Gara Bacakan Puisi Inong Balee di PPN XIV Aceh, Tegaskan Penolakan Judul Film “Pasukan 1000 Janda”

27 Juni 2026 - 23:40 WIB

Sastrawan Putra Gara Bacakan Puisi “Danau Lut Tawar”, Lahir dari Inspirasi Pagi di Hotel Renggali pada PPN XIV Aceh

27 Juni 2026 - 22:20 WIB

Trending di SENI BUDAYA