Wartatrans.com, JAKARTA — Gerilya kebudayaan kembali dilakukan para Duta Radio Rimba Raya di ibu kota. Putra Gara, Fikar W. Eda, Salman Yoga, Ikmal Kopi, Irmansyah, dan Zuri Gayo membawa satu misi: menjaga jejak sejarah Radio Rimba Raya sebagai suara perjuangan yang pernah mengabarkan kepada dunia bahwa Indonesia masih ada.
Gerakan itu dilakukan bersama Ketua KPI Aceh M. Reza Fahlevi, M.Sos., dan Wakil Ketua KPI Aceh Samsul Bahri, SE. Mereka bergerak membangun komunikasi dengan sejumlah lembaga negara, termasuk Kementerian Luar Negeri RI, agar sejarah Radio Rimba Raya tidak berhenti sebagai catatan masa lalu.

Di Kementerian Luar Negeri RI, rombongan diterima Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik (IDP) R. Heru Hartanto Subolo beserta jajaran.
Pertemuan tersebut menjadi momentum penting untuk membawa kembali Radio Rimba Raya ke ruang diplomasi publik Indonesia – Kamis (13/08/2026).
Salah satu hal yang secara khusus disampaikan Ketua KPI Aceh M. Reza Fahlevi adalah pentingnya Kementerian Luar Negeri melakukan langkah diplomasi dengan pihak India untuk menelusuri keberadaan arsip atau rekaman siaran Radio Rimba Raya yang diduga pernah diterima dan dikutip oleh All India Radio.
Reza mendorong agar pemerintah melalui jalur diplomasi dapat mengupayakan pemulangan arsip tersebut ke Indonesia, atau setidaknya memperoleh salinan digital/rekaman sebagai bagian dari arsip sejarah nasional.
Hal ini memiliki dasar sejarah yang kuat. Catatan mengenai Radio Rimba Raya menyebutkan bahwa pada masa perjuangan, radio tersebut melakukan kontak dengan perwakilan Republik Indonesia di New Delhi. Berita yang dipancarkan dari Rimba Raya juga disebut dikutip oleh All India Radio dan diteruskan kepada pihak yang dituju. Bahkan ketika Konferensi Asia tentang Indonesia berlangsung di New Delhi pada Januari 1949, aktivitas Radio Rimba Raya diperpanjang untuk mendukung arus informasi perjuangan Indonesia.
Karena itu, jika rekaman tersebut masih tersimpan dalam arsip penyiaran India, keberadaannya bukan sekadar benda dokumentasi. Ia merupakan artefak suara perjuangan diplomasi Indonesia.

Para “gerilyawan” di Kantor Kementrian Luar Negeri RI.
Radio Rimba Raya hadir pada masa ketika Belanda berusaha meyakinkan dunia bahwa Republik Indonesia telah berakhir. Dari tengah belantara Gayo, radio gerilya itu justru menyampaikan pesan sebaliknya: Republik Indonesia masih ada.
Siarannya menjangkau berbagai kawasan dan menjadi salah satu sarana penting untuk mematahkan propaganda Belanda mengenai berakhirnya Republik Indonesia. Sumber pemerintah juga mencatat bahwa siaran Radio Rimba Raya dipancarkan ke berbagai wilayah di luar Indonesia.
Kini, puluhan tahun kemudian, suara itu hendak dicari kembali.
Putra Gara, Fikar W. Eda, Salman Yoga, Ikmal Kopi, Irmansyah, dan Zuri Gayo tidak sedang mengulang perang. Mereka melakukan gerilya sejarah dan kebudayaan, mengetuk pintu lembaga negara, membangun jejaring penyiaran, kebudayaan dan diplomasi agar suara Rimba Raya kembali terdengar.
Jika dulu Radio Rimba Raya menjadi suara yang menegaskan eksistensi Republik Indonesia kepada dunia, maka hari ini para Duta Rimba Raya ingin memastikan jejak suara itu tersimpan, terdokumentasi, dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dari hutan Rimba Raya ke New Delhi. Dari New Delhi ke dunia. Kini dari Gayo ke Jakarta. Sebuah perjalanan panjang untuk menemukan kembali suara yang pernah berkata: “Indonesia masih ada.”*** (Jasa)

Para “gerilyawan” rapat di ruangan Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik (IDP) R. Heru Hartanto Subolo.






























