Wartatrans.com, JAKARTA — Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) memberikan mandat kepada Dr. Salman Yoga S, S.Ag., MA, untuk memimpin proses pembentukan kepengurusan ATL Gayo periode 2026–2030.
Mandat tersebut tertuang dalam surat ATL Nomor 105/ATL-P/VIII/2026 tertanggal 15 Agustus 2026, dengan perihal Mandat Pembentukan ATL Gayo. Surat tersebut ditandatangani Ketua Umum ATL, Dr. Pudentia MPSS, M.Hum.

Dalam surat itu, ATL menyampaikan ucapan selamat bergabung kepada Salman Yoga dalam kepengurusan ATL sekaligus memberikan mandat sebagai Ketua Formatur untuk mempersiapkan pembentukan kepengurusan ATL Gayo.
“Dalam surat tersebut kami diminta menggelar pertemuan internal dengan para penggiat budaya yang memiliki komitmen dan kepedulian terhadap tradisi lisan. Unsur yang dilibatkan diharapkan mencakup dosen atau pengajar, peneliti, budayawan, birokrat, pimpinan lembaga, jurnalis, serta pelaku tradisi,” ungkap Salman Yoga di Jakarta, Jumat (14/08/2028) – saat menjalani misi Radio Rimba Raya untuk dijadikan Cagar Budaya Nasional bersama rekan Seniman lainnya; Putra Gara, Fikar W Eda, Irwansyah, Ikmal Gopi, dan Zuri Gayo.
Lebih jauh Salman menambahkan, selanjutnya tim formatur diminta menyusun struktur kepengurusan yang sekurang-kurangnya terdiri atas Dewan Pembina dan Pengurus Harian. Struktur Pengurus Harian meliputi Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, Wakil Sekretaris, Koordinator serta bidang-bidang sesuai kebutuhan, seperti penelitian, seminar, festival, publikasi dan humas.

Salman Yoga
“Hasil pertemuan pembentukan tersebut akan dituangkan dalam berita acara dan disertai usulan kepengurusan untuk disampaikan kepada ATL Pusat,” terang Salman.
Setelah seluruh proses selesai, ATL Pusat akan menerbitkan Surat Keputusan (SK) Kepengurusan ATL Gayo periode 2026–2030.
Sementara Salman Yoga yang menerima mandat tersebut merupakan salah satu seniman dan pegiat budaya asal Tanah Gayo, Aceh, yang aktif merawat ingatan sejarah, tradisi, dan identitas masyarakat melalui berbagai kegiatan seni dan kebudayaan. Dalam kiprahnya, Salman Yoga tidak hanya bergerak sebagai pelaku seni, tetapi juga sebagai penghubung antara warisan budaya lokal dengan ruang-ruang kebangsaan.
Dalam berbagai kesempatan, Salman Yoga juga terlibat dalam kegiatan seni dan budaya di tingkat lokal maupun nasional. Ia kerap hadir dalam forum-forum kebudayaan, pertemuan dengan tokoh seni, akademisi, serta lembaga pemerintah untuk mendorong pelestarian sejarah dan penguatan identitas budaya Aceh, khususnya Gayo.
Kehadiran sosok seperti Salman Yoga menunjukkan bahwa seniman memiliki peran penting, bukan hanya dalam menciptakan karya, tetapi juga menjaga akar budaya, menghidupkan sejarah, serta merawat identitas bangsa melalui jalur seni dan kebudayaan.
Sementara pembentukan ATL Gayo diharapkan menjadi bagian dari penguatan kelembagaan dalam upaya menjaga, meneliti, mengembangkan dan memperkenalkan tradisi lisan Gayo. Kehadiran organisasi tersebut juga membuka ruang kolaborasi lebih luas antara akademisi, budayawan, pelaku tradisi, jurnalis, lembaga pemerintah dan masyarakat dalam merawat warisan budaya Gayo.*** (Jasa)





























