Menu

Mode Gelap
Meriahkan Hari Kemerdekaan RI, KAI Services Regional 6 Yogyakarta Gelar Fun Walk Menjelang Doa Bersama 21 Tahun Perjanjian Damai, Masjid Raya dibanjiri Rakyat Aceh KAI Wisata Hadirkan Promo HUT RI ke-81, Ada Diskon 17% hingga Kereta Panoramic Presiden GPAB: Jika Data Mentan Tidak Utuh, Amran Harus Minta Maaf kepada Rakyat Aceh Perankan Tan Malaka, Tanta Ginting Temukan Banyak Sisi yang Belum Banyak Diketahui 81 Tahun Merdeka, Meradjoet Sendja Ajak Generasi Muda Menemukan Kembali Role Model dan Makna Kemerdekaan

SENI BUDAYA

81 Tahun Merdeka, Meradjoet Sendja Ajak Generasi Muda Menemukan Kembali Role Model dan Makna Kemerdekaan

badge-check


 81 Tahun Merdeka, Meradjoet Sendja Ajak Generasi Muda Menemukan Kembali Role Model dan Makna Kemerdekaan Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Memasuki 81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, semangat untuk kembali memahami gagasan para pendiri bangsa coba dihadirkan melalui panggung teater. Dompet Dhuafa bersama PARFI 56 menghadirkan Teater Meradjoet Sendja, sebuah pertunjukan yang mengajak generasi muda menengok kembali gagasan, dialog, serta pergulatan pemikiran para tokoh bangsa sebelum dan sesudah Indonesia berdiri.

Pementasan bertajuk “Persembahan Cinta untuk Republik” ini akan digelar pada 26 Agustus 2026 di Gedung Kesenian Jakarta. Meradjoet Sendja juga menjadi bagian dari serial pementasan orkestra kebangsaan oleh Keana.

Pertunjukan tersebut tidak hanya menghadirkan tokoh-tokoh sejarah dalam bentuk dramatik, tetapi juga memadukan dialog pemikiran dengan musik bernuansa kebangsaan.

Sutradara sekaligus produser Meradjoet Sendja, Olivia Zalianty, mengatakan gagasan pertunjukan tersebut berangkat dari kegelisahan mengenai semakin sulitnya menemukan sosok yang dapat menjadi panutan bagi generasi sekarang.

“Kalau makna tokoh-tokoh itu ya pasti Bapak bangsa kita, role model kita. Yang sebenarnya sekarang ini saya agak kehilangan role model,” ujar Olivia dalam konferensi pers di Sasana Budaya Dompet Dhuafa, Jati Padang, Jakarta Selatan, Jumat, 14 Agustus 2026.

Menurut Olivia, generasi sebelumnya memiliki banyak tokoh yang dapat menjadi rujukan, seperti Soekarno, Tan Malaka, dan tokoh-tokoh lainnya. Karena itu, Meradjoet Sendja mencoba mengumpulkan kembali sejarah, dialog, serta pemikiran para pendiri bangsa dan membawanya ke ruang yang lebih dekat dengan generasi muda.

“Meradjoet Sendja ini upaya saya merajut, mengumpulkan kembali sejarah-sejarah, dialog-dialog, pikiran-pikiran para pendiri bangsa,” katanya.

Gagasan tersebut kemudian diperkuat oleh pemikiran aktivis dan cendekiawan Yudi Latif. Ia menilai bangsa Indonesia sejak awal dibangun dari keberagaman yang membutuhkan sebuah titik temu.

Menurut Yudi, nama “Indonesia” sendiri merupakan salah satu bentuk penyebut bersama yang memungkinkan berbagai kelompok di Nusantara melihat dirinya sebagai bagian dari satu bangsa.

Ia kemudian mengibaratkan keberagaman Indonesia seperti pecahan-pecahan yang baru dapat dijumlahkan ketika memiliki penyebut yang sama.

“Cara pertama untuk menyatukan Indonesia, kita harus punya penyebut bersama. Apa sih penyebut bersama yang menyatukan Nusantara? Pertama, para pendiri bangsa merasa kita tidak akan bisa bersatu selama nama kita masih nama yang dicapkan oleh kolonial,” ujar Yudi.

Namun, menurutnya, persatuan tidak cukup hanya dibangun melalui nama Indonesia. Bangsa ini juga membutuhkan nilai bersama yang menjadi titik temu. Nilai tersebut kemudian menemukan bentuknya dalam Pancasila.

Yudi menilai inti dari nilai Pancasila dapat dilihat melalui semangat gotong royong.

“Kalau kita ingin menjadi satu kekuatan harus bergotong royong. Nilai dasar kita juga Pancasila, ya intinya adalah gotong royong,” katanya.

Baginya, kekuatan budaya menjadi salah satu alasan bangsa Indonesia mampu bertahan melewati berbagai masa. Gotong royong bukan sekadar konsep, tetapi telah menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat Indonesia dalam menghadapi persoalan bersama.

Yudi juga mengingatkan bahwa dalam perjalanan kemerdekaan, seniman dan kebudayaan memiliki peran penting yang kerap terlupakan.

Menurut dia, kekuatan budaya justru memiliki kemampuan untuk membuat sebuah peristiwa politik bertahan lebih lama dalam ingatan masyarakat.

“Kalau peristiwa politik orang bisa lupa. Tapi bagaimana masyarakat mengingat peristiwa terpenting itu justru selalu di-frame dalam bahasa-bahasa kultural, bahasa seni dan lain-lain,” ujarnya.

Karena itu, Yudi melihat Meradjoet Sendja sebagai bagian dari upaya menghidupkan kembali gerakan kebudayaan yang dapat memperkuat ingatan kolektif bangsa.

Libatkan Deretan Aktor dan Musisi

Untuk membawa gagasan tersebut ke atas panggung, Meradjoet Sendja melibatkan sejumlah nama dari dunia seni peran dan musik.

Deretan pemain yang terlibat antara lain Marcella Zalianty, Arswendy Bening Swara, Lutfi Ardiansyah, Edopaha, Tanta Ginting, Isyana Sarasvati, Fryda Lucyana, Jane Callista, Shanna Shannon, dan Ridho Rokhanah.

Salah satu tokoh yang menjadi perhatian adalah Tanta Ginting, yang dipercaya memerankan Tan Malaka.

Bagi Tanta, proses mendalami Tan Malaka justru membuatnya menemukan banyak hal baru tentang tokoh tersebut. Selama menjalani latihan, ia mengaku banyak mendapatkan pengetahuan mengenai sejarah dan pemikiran Tan Malaka, termasuk dari KGPH Ndaru Kusumo yang akrab disapa Romo.

“Kita berharap dengan adanya pementasan ini dapat mengobati keresahan anak muda zaman sekarang, supaya menggali lebih dalam siapa sosok Tan Malaka,” ujar Tanta.

Sementara itu, KGPH Ndaru Kusumo turut berperan sebagai penasihat sekaligus menjadi bagian penting dalam pengembangan musik bernuansa kebangsaan dalam pertunjukan.

Ndaru mengatakan gagasan bermusik tersebut berangkat dari kegelisahannya terhadap bagaimana nilai-nilai Pancasila dapat dirasakan dan dihayati masyarakat.

Menurutnya, Pancasila bukan sekadar teks yang dibacakan dalam upacara, tetapi memiliki nilai yang dapat diterjemahkan menjadi pengalaman emosional melalui musik.

Ia mengembangkan karya tersebut melalui proses panjang bersama sejumlah musisi dan pihak terkait hingga akhirnya dapat dipentaskan kepada publik.

Dalam Meradjoet Sendja, musik menjadi bagian dari upaya membuat gagasan kebangsaan tidak berhenti sebagai teks atau wacana, tetapi dapat dirasakan oleh penonton.

Olivia mengatakan pementasan tersebut sengaja tidak dibuat sebagai pertunjukan sejarah yang kaku. Dialog para tokoh dipadukan dengan musik dan pendekatan teatrikal agar penonton dapat mengikuti sekaligus merenungkan kembali bagaimana para pendiri bangsa membayangkan Indonesia bahkan sebelum negara ini lahir.

Ia mencontohkan perbedaan pemikiran antara Tan Malaka, Soekarno, dan Mohammad Hatta. Menurutnya, perbedaan tersebut justru memperlihatkan bahwa para pendiri bangsa tidak selalu memiliki pandangan yang sama, tetapi dapat saling melengkapi untuk mencapai tujuan bersama.

“Walaupun sekarang banyak perbedaan, jangan terpecah belah. Kita harus satu di tujuannya, sehingga makin solid, sekali melengkapi,” katanya.

 

Bagi Olivia, kemerdekaan juga bukan titik akhir. Ia mengibaratkan kemerdekaan 1945 seperti sebuah pesawat yang baru saja lepas landas. Setelah 81 tahun Indonesia merdeka, perjalanan tersebut masih terus berlangsung menuju cita-cita yang ingin dicapai para pendiri bangsa.

Karena itu, Meradjoet Sendja mencoba mengajak penonton bukan sekadar melihat kembali masa lalu, tetapi bertanya tentang arah perjalanan Indonesia setelah 81 tahun merdeka.

Pementasan Meradjoet Sendja akan digelar pada 26 Agustus 2026 di Gedung Kesenian Jakarta, Ps. Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat, dengan Olivia Zalianty sebagai produser sekaligus sutradara dan Marcella Zalianty sebagai produser eksekutif. Yudi Latif dan KGPH Ndaru Kusumo tercatat sebagai penasihat dalam produksi tersebut.

Melalui teater, musik, dan dialog para tokoh bangsa, Meradjoet Sendja ingin menjadikan sejarah bukan sebagai sesuatu yang jauh dan usang, melainkan sebagai percakapan yang kembali hidup di tengah generasi Indonesia hari ini.*** (Pilo)

Baca Lainnya

Perankan Tan Malaka, Tanta Ginting Temukan Banyak Sisi yang Belum Banyak Diketahui

14 Agustus 2026 - 22:06 WIB

SCTV Siapkan Pesta Musik dan Hiburan Spektakuler di HUT ke-36

14 Agustus 2026 - 21:48 WIB

Mural Masuk Sekolah Mengokohkan SMPN 2 Semarang Tiada Hari Tanpa Prestasi 

14 Agustus 2026 - 18:46 WIB

Patricia Gouw Turun Langsung, Peserta Main Drama Casting Diuji Bangun Chemistry

14 Agustus 2026 - 17:58 WIB

Lima Tahun Vakum, Olivia Zalianty Kembali ke Panggung Teater

14 Agustus 2026 - 17:52 WIB

ATL Beri Mandat Salman Yoga Bentuk Kepengurusan ATL Gayo 2026–2030

14 Agustus 2026 - 16:13 WIB

“Duta” Rimba Raya Gerilya di Ibu Kota, Bawa Kembali Jejak Suara; “Indonesia Masih Ada”

13 Agustus 2026 - 21:39 WIB

Catatan Iwan Piliang: Ketika Suara Rimba Raya Hendak Dihidupkan Kembali

12 Agustus 2026 - 19:14 WIB

Seniman Gayo dan PFN Bahas Rencana Film Radio Rimba Raya, Menghidupkan Kembali Suara Perjuangan dari Tanah Gayo

12 Agustus 2026 - 15:01 WIB

 Pameran Tunggal “My Artistic Soul” Ireng Halimun; Merawat Nyala Seni di Lintasan Zaman

11 Agustus 2026 - 21:27 WIB

Trending di SENI BUDAYA