Wartatrans.com, JAKARTA — Penampilan budaya Aceh pada Jambore Nasional (Jamnas) Pramuka XII 2026 di Buperta Cibubur, Jakarta, Sabtu malam, 15 Agustus 2026, yang semula mendapat sambutan meriah puluhan ribu peserta, justru berakhir dengan kekecewaan dan protes keras kontingen Aceh Barat.
Di tengah penampilan rapa’i dan tari Aceh, tepat ketika kontingen memasuki segmen kolaborasi yang menjadi klimaks pertunjukan—memadukan logo Pramuka dengan kekayaan budaya Aceh serta asesoris merah putih dalam semangat menyambut 81 tahun Kemerdekaan Indonesia—lampu panggung tiba-tiba dimatikan sekitar dua menit sebelum pertunjukan berakhir.

Bagi kontingen Aceh Barat, tindakan tersebut bukan sekadar persoalan teknis panggung. Mereka menilai pemadaman lighting secara tiba-tiba telah merusak momentum pertunjukan sekaligus mencederai penghormatan terhadap budaya Aceh yang dibawa ke panggung nasional.
Ketua Harian Pramuka Kwarcab Aceh Barat, Zulkifli Andi Govi, SE., ME, bahkan menuntut agar penampilan budaya Aceh diberi kesempatan untuk tampil ulang di panggung utama.
“Aceh Barat menuntut perform ulang Budaya Aceh pada jadwal berikutnya di panggung utama Jamnas akibat tidak kooperatifnya panitia yang mematikan lampu panggung saat Budaya Aceh tampil malam tadi, 15 Agustus 2026. Ini menodai Budaya Aceh,” tegasnya.
Menurut Zulkifli, penampilan budaya dalam Jamnas bukanlah pertandingan yang semestinya diperlakukan dengan aturan panggung yang kaku dan mekanistis.
“Ini bukan lomba. Kami datang membawa budaya, membawa kehormatan daerah, sekaligus ikut memeriahkan Jamnas. Justru ketika penampilan sedang mencapai klimaks, lampu dimatikan. Di mana letak penghargaan terhadap peserta dan budaya yang mereka bawa?” ujarnya.
Ia juga menilai momentum tersebut semakin sensitif karena terjadi tepat pada 15 Agustus, hari yang diperingati sebagai Hari Damai Aceh—sebuah tanggal yang memiliki makna historis dan emosional bagi masyarakat Aceh.
“Lebih tidak etis lagi, ini terjadi pada 15 Agustus, momentum sakral peringatan 21 tahun Damai Aceh. Seharusnya panitia memahami sensitivitas sejarah dan budaya Aceh,” katanya.
Bukan Hanya Lampu, Kontingen Klaim Dapat Ancaman UU ITE
Persoalan semakin memanas setelah pihak panitia panggung disebut mengancam akan mempidanakan anggota kontingen Aceh Barat menggunakan UU ITE ketika mereka merekam proses klarifikasi dan menyampaikan protes terkait insiden tersebut.
Zulkifli menyayangkan respons tersebut.
“Panitia seharusnya melindungi dan menghargai peserta. Bukan malah mengancam akan mempidanakan kami ketika kami merekam klarifikasi dan meminta solusi atas penampilan yang dihentikan secara tidak semestinya,” ujarnya.
Ia menegaskan, kontingen Aceh Barat tidak meminta perlakuan khusus. Mereka hanya meminta penghormatan, penjelasan, dan kesempatan tampil secara layak.
“Kami menuntut permintaan maaf dari panitia panggung. Jambore bukan lomba yang harus kaku seperti itu. Panitia Jamnas wajib memastikan Pramuka merasa bahagia berkegiatan. Kami diundang untuk ikut, bukan untuk dipermalukan,” tegas pria yang akrab disapa Dek Jol tersebut.
Kontingen Aceh Barat sendiri mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Aceh Barat. Sebelumnya, Bupati, Wakil Bupati, Ketua DPRD hingga Kapolres Aceh Barat disebut hadir langsung di Buperta Cibubur untuk memberikan dukungan kepada kontingen daerah itu.
Jamnas Pramuka XII berlangsung 14–21 Agustus 2026 di Buperta Cibubur dan diikuti lebih dari 20.000 anggota Pramuka dari berbagai daerah di Indonesia serta peserta dari sejumlah negara sahabat, antara lain Malaysia, Brunei Darussalam, Australia, Taiwan, Mauritius, Sri Lanka dan Timor-Leste.
Karena itu, Zulkifli meminta panitia tidak memperbesar persoalan dengan pendekatan yang kaku.
“Jangan kaku. Bijak dan dewasa. Ini jambore, ini ruang persaudaraan, ruang kebahagiaan Pramuka Indonesia. Jangan sampai sebuah acara yang seharusnya mempererat persaudaraan justru meninggalkan luka bagi daerah yang datang membawa identitas budayanya,” tutupnya.
Kontingen Aceh Barat kini menunggu sikap resmi panitia dan meminta penampilan budaya Aceh diberi kesempatan tampil kembali di panggung utama sebagai bentuk penghormatan dan penyelesaian atas insiden tersebut.*** (Jasa)


























