Wartatrans.com, JAKARTA – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) berhasil pangkas rugi hingga 23% menjadi US$113,0 juta dari US$147,1 juta.
Sepanjang Januari-Juni 2026, maskapai plat merah ini membukukan pendapatan US$1,80 miliar, naik 16,0% dari US$1,55 miliar pada Semester I 2025.
Ya, data tersebut tercantum dalam laporan keuangan yang dipublikasikan di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (30/9/2026).
Kinerja ini tercatat di tengah kenaikan harga bahan bakar yang menekan industri penerbangan global sepanjang semester pertama 2026.
Konflik di Timur Tengah yang memanas sejak akhir Februari 2026 mengganggu pasokan energi global.
Data International Air Transport Association (IATA) mencatat harga jet fuel pada puncaknya di April 2026 naik sekitar 121% dibandingkan April 2025.
Sepanjang 2026, IATA memperkirakan harga rata-rata jet fuel mencapai US$152 per barel, hampir 70% lebih tinggi dari rata-rata 2025.
Kenaikan tersebut berdampak pada kinerja maskapai besar dunia. Singapore Airlines masih mencatat pertumbuhan pendapatan, namun laba operasionalnya turun tajam.
Lufthansa Group juga membukukan pendapatan yang tumbuh, tetapi adjusted EBIT berbalik negatif.
Di dalam negeri, Ketua APJAPI sekaligus pengamat penerbangan Alvin Lie menyebut, periode Agustus hingga November 2026 sebagai “masa-masa kritis” bagi maskapai.
Menurutnya, tekanan datang bersamaan dari harga bahan bakar, pelemahan rupiah, dan periode low season.
Pengamat penerbangan Gerry Soejatman juga menyatakan bahwa avtur dapat menyumbang lebih dari separuh biaya maskapai.
Selain itu, sekitar 90% komponen biaya penerbangan menggunakan mata uang asing, sehingga kenaikan harga avtur dan pelemahan rupiah mempersempit ruang maskapai menjaga margin.
EBIT Garuda Tetap Tumbuh
Manajemen menuliskan, B
Beban avtur Garuda pada Semester I-2026 naik 43,6% menjadi US$677,6 juta. Pada Kuartal II, kenaikannya mencapai 90% secara tahunan.
Porsi avtur terhadap pendapatan naik menjadi sekitar 37,7% dari 30,5% pada periode yang sama tahun lalu.
Meski demikian, EBIT perseroan naik 12,7% menjadi US$74,0 juta dari US$65,7 juta. EBITDA tumbuh 5,8% menjadi US$431,6 juta.
“Laporan keuangan perseroan menunjukkan tiga faktor yang menopang kinerja tersebut, sejalan dengan program transformasi yang dijalankan Garuda,” tulisnya.
Pertama, pertumbuhan pendapatan dari berbagai lini. Pendapatan penerbangan berjadwal naik 10,9% menjadi US$1,31 miliar, dengan pendapatan penumpang tumbuh 11,5% menjadi US$1,23 miliar.
Pendapatan penerbangan tidak berjadwal naik 32,5% menjadi US$272,8 juta, didorong angkutan haji sebesar US$232,2 juta atau naik 51,6%.
Pendapatan dari bisnis perawatan pesawat (MRO) tumbuh 43,8% menjadi US$87,4 juta.
Kedua, pengendalian biaya di luar avtur. Saat beban avtur naik 43,6%, biaya non-bahan bakar hanya naik 3,9% menjadi sekitar US$1,07 miliar.
Rasio biaya non-avtur terhadap pendapatan turun menjadi 59,7% dari 66,7%. Artinya, dari setiap US$1 pendapatan, biaya di luar avtur sekitar 60 sen, turun dari 67 sen.
Total beban usaha naik 16,4%, namun sekitar 84% dari tambahan beban tersebut berasal dari avtur. Beban komisi agen turun 6,2% menjadi US$33,6 juta meski pendapatan tumbuh dua digit.
Ketiga, penurunan beban keuangan dan utang.
Beban keuangan turun 11,6% menjadi US$222,4 juta dari US$251,6 juta, dengan beban bunga dari liabilitas sewa, obligasi, dan utang usaha seluruhnya lebih rendah.
Total pinjaman, termasuk liabilitas sewa, obligasi, dan pinjaman bank, turun 4,0% menjadi US$3,76 miliar per 30 Juni 2026 dari US$3,92 miliar pada akhir 2025. Liabilitas sewa turun menjadi US$2,34 miliar setelah perseroan membayar pokok sewa US$158,9 juta.
Arus kas operasional tercatat positif US$253,1 juta. Kas dan setara kas per akhir Juni 2026 sebesar US$624,3 juta.
Dampak Intervensi Mulai Terlihat
Perbaikan kinerja Garuda sebelumnya telah disinggung Presiden Prabowo Subianto dalam pidato Sidang Tahunan MPR RI serta Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI, Jumat (14/8/2026).
Menurut Presiden, Garuda yang sempat hampir dipailitkan dan memiliki puluhan pesawat grounded kini berhasil mengaktifkan kembali pesawat-pesawat tersebut.
“Garuda Indonesia yang sudah sekian tahun rugi, sekarang sudah ada harapan untuk kembali untung,” ujar Prabowo.
Dari sisi pemegang saham, Chief Operating Officer Danantara Indonesia sekaligus Kepala Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN) Dony Oskaria pada akhir Maret 2026 menyebut tekanan kinerja Garuda sepanjang 2025 merupakan kondisi sebelum intervensi berjalan.
Salah satu penyebabnya adalah banyaknya pesawat grounded yang tetap menimbulkan beban sewa. Dony memperkirakan dampak intervensi tersebut akan terlihat pada Kuartal I dan Kuartal II-2026.
“Tidak cukup hanya dengan memberikan pendanaan, tetapi juga harus diikuti transformasi bisnis,” ucap Dony. (omy)




























