Menu

Mode Gelap
Di SagoeTV Putra Gara dan Salman Yoga Bahas Masa Depan Sastra Aceh Rampung 100%, Fly Over Teluk Lamong Siap Beroperasi untuk Perkuat Konektivitas dan Logistik Jawa Timur Penumpang Difabel Enggak Perlu Naik Turun Kursi Roda untuk Naik KRL, Perjalanan RS Jakarta-Stasiun Bogor jadi Lebih Mudah Karena MBG Indonesia Juara AVC Men’s Volleyball Club 2026. Truk Tabrak Sejumlah Motor di Simpang Unisma Bekasi, Satu Orang Tewas Akhirnya Dunia Usaha Ekonomi Kreatif Cilacap Punya Payung Hukum

PERISTIWA

Kadis Perpustakaan dan Kearsipan Aceh Tengah Tolak Judul Film “Malahayati: Pasukan 1000 Janda”

badge-check


 Kadis Perpustakaan dan Kearsipan Aceh Tengah Tolak Judul Film “Malahayati: Pasukan 1000 Janda” Perbesar

Wartatrans.com, BANDA ACEH – Penolakan terhadap penggunaan judul film Malahayati: Pasukan 1000 Janda terus bermunculan dari berbagai kalangan masyarakat Aceh. Kali ini, penolakan disampaikan oleh Zulfan Diara Gayo, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh Tengah, yang menilai judul tersebut melukai perasaan masyarakat Aceh, khususnya keturunan Meurah Johan dari Gayo Raya.

Menurut Zulfan, Laksamana Malahayati merupakan sosok pejuang perempuan yang memiliki hubungan historis dengan keturunan Meurah Johan. Karena itu, penggunaan frasa “Pasukan 1000 Janda” dinilai tidak mencerminkan kebesaran sosok Malahayati, bahkan berpotensi merendahkan martabat perjuangannya.

“Judul film itu membuat hati kami terluka sebagai keturunan Meurah Johan dari Gayo Raya. Malahayati adalah pejuang perempuan yang kami hormati, sehingga penyematan judul tersebut sangat kami sesalkan,” ujarnya.

Zulfa juga mempertanyakan dasar historis penggunaan istilah “1000 janda” dalam judul film tersebut.

“Pertanyaan besar kami, mengapa harus menggunakan judul 1000 Janda? Apakah ada bukti autentik yang menyatakan bahwa Malahayati memiliki pasukan seribu janda? Jika tidak ada dasar sejarah yang kuat, mengapa istilah itu justru dijadikan identitas utama film?” katanya.

Ia menilai judul tersebut telah mencederai jati diri seorang pejuang besar yang selama ini dikenang karena keberanian, kepemimpinan, dan strategi militernya, bukan karena status para pengikutnya

“Kenapa harus mencederai jati diri pejuang kami yang hebat? Apa maksud mencaplok nama pejuang perempuan yang begitu besar dengan konotasi ‘1000 janda’? Di dalam darah Malahayati mengalir darah keturunan Meurah Johan, yang juga merupakan bagian dari sejarah kami di Gayo Raya,” tegasnya.

Meski demikian, Zulfan menegaskan dirinya mendukung upaya mengangkat kisah Laksamana Malahayati ke layar lebar sebagai bagian dari edukasi sejarah dan pelestarian budaya. Namun, ia berharap para sineas mempertimbangkan kembali judul film tersebut agar lebih mencerminkan kehormatan, nilai sejarah, dan martabat Laksamana Malahayati sebagai pahlawan nasional.*** (Jasa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Rampung 100%, Fly Over Teluk Lamong Siap Beroperasi untuk Perkuat Konektivitas dan Logistik Jawa Timur

29 Juni 2026 - 18:35 WIB

Truk Tabrak Sejumlah Motor di Simpang Unisma Bekasi, Satu Orang Tewas

29 Juni 2026 - 14:41 WIB

Gayo Raya, Wilayah Revolusi Pemikiran untuk Membangun Masa Depan Aceh

29 Juni 2026 - 12:38 WIB

Hak Angket Gowa: Antara Pengawasan, Politik, dan Menjaga Marwah Daerah

29 Juni 2026 - 07:21 WIB

Festival Santri Meuseuraya II Tahun 2026 Resmi Ditutup

29 Juni 2026 - 07:16 WIB

11 Rusun Baru Disiapkan, Pemprov DKI Diminta Benahi Tata Kelola agar Tak Jadi Proyek Mercusuar

28 Juni 2026 - 23:48 WIB

Kredit Motor di Jakarta Fair 2026? Jangan Sampai Ditolak, Ini 4 Hal yang Wajib Disiapkan

28 Juni 2026 - 12:07 WIB

Bermodalkan Rp25 Juta Hasil Donasi, Warga Reje Payung Kembali Bangun Jembatan Apung

27 Juni 2026 - 22:35 WIB

Difabel Great Camp 2026 Medan Siap Digelar, Targetnya Peserta Seluruh Indonesia

27 Juni 2026 - 15:01 WIB

Keresahan Warga Memuncak,  ‎Maling Santroni Rumah Warga Perumahan Alokasi Timbang Langsa

27 Juni 2026 - 14:55 WIB

Trending di RAGAM