Menu

Mode Gelap
Kecelakaan Truk Seruduk Motor di Lampu Merah Bekasi, Total 10 Korban Di SagoeTV Putra Gara dan Salman Yoga Bahas Masa Depan Sastra Aceh Rampung 100%, Fly Over Teluk Lamong Siap Beroperasi untuk Perkuat Konektivitas dan Logistik Jawa Timur Penumpang Difabel Enggak Perlu Naik Turun Kursi Roda untuk Naik KRL, Perjalanan RS Jakarta-Stasiun Bogor jadi Lebih Mudah Karena MBG Indonesia Juara AVC Men’s Volleyball Club 2026. Truk Tabrak Sejumlah Motor di Simpang Unisma Bekasi, Satu Orang Tewas

OLAH RAGA

TVRI Pegang Hak Siar Piala Dunia 2026, Bayang-Bayang Paywall 2022 Belum Hilang

badge-check


 TVRI Pegang Hak Siar Piala Dunia 2026, Bayang-Bayang Paywall 2022 Belum Hilang Perbesar

Wartarans.com, JAKARTA— TVRI menegaskan perolehan hak siar FIFA dilakukan sesuai mekanisme dan peraturan perundang-undangan.

Lembaga penyiaran publik itu kini memegang paket Media Rights Agreement Desember 2025 yang mencakup Piala Dunia 2026, Piala Dunia U-17 2026, dan Piala Dunia Wanita 2027, dengan masa pemanfaatan 180 hari sebelum dan 180 hari setelah event.

Direktur Utama TVRI Tubagus Fiki Chikara Satari, yang baru saja dilantik 8 Juni 2026, meluruskan bila yang dipegang adalah “hak media/penyiaran”, bukan hak mengelola kompetisi.

“TVRI mendapat akses feed resmi sesuai mekanisme delivery FIFA. Paket hak mencakup penayangan, distribusi sesuai kontrak, akses feed, serta distribusi lewat kanal resmi,” ujar Fiki, pada Jumat (19/6/2026).

Untuk pembayaran, ia menjamin proses sesuai regulasi: telaah kebutuhan, reviu dokumen, koordinasi teknis-hukum-keuangan-pengawasan, hingga eksekusi anggaran negara.

“Besaran yang dikeluarkan sama dengan nilai kontrak ke FIFA. Tiap tahap memegang akuntabilitas, kepatuhan, dan tata kelola baik,” jelas akademisi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran (FEB Unpad).

Untuk proses distribusinya hanya dibatasi di wilayah NKRI sesuai ketentuan FIFA, lewat 3 jalur: free-to-air TVRI Nasional & TVRI Sport gratis, OTT Folaplay dan MAXStream, serta DTH Transvision, K-Vision, Indovision. TVRI juga wajib meng-enkripsi,.serta pemberlakuan pembatasan wilayah demi kepatuhan.

Namun, klaim “tata kelola baik” ini sulit dilepaskan dari pengalaman 2022. Piala Dunia Qatar 2022 menjadi ujian publik terhadap pengelolaan hak siar di Indonesia.

Saat itu hak sublisensi FIFA dipegang EMTEK Group. Realitanya:, justru mayoritas siaran langsung laga grup hingga knockout, hanya tayang di platform berbayar Vidio dan channel pay TV, sementara siaran free-to-air terbatas, pada 18-20 laga pilihan.

Kondisinya memicu gelombang kritik. Publik lalu menyebut “Piala Dunia berbayar” bertentangan dengan semangat siaran olahraga nasional yang seharusnya bisa diakses gratis.

Kominfo dan KPI (Komisi Penyiaran Indoneesia) kala itu, menerima aduan massal soal siaran tunda, gangguan streaming, dan minimnya laga FTA di jam prime time.

DPR bahkan memanggil EMTEK untuk menjelaskan pembagian hak dan skema monetisasi. Dari sisi angka, harga paket Vidio untuk Piala Dunia 2022 tembus Rp79 ribu-Rp129 ribu, angka yang memberatkan bagi penonton non-urban.

Fenomena itu meninggalkan dua pelajaran: 1) “Hak siar ada” tidak otomatis berarti “akses publik luas”, dan 2) ketiadaan porsi minimal FTA membuat FIFA kehilangan jangkauan massal di negara dengan 270 juta+ penduduk.

FIFA ewat laporan post-event, menekankan pentingnya jangkauan terestrial untuk pertumbuhan basis penggemar. Karena itu, paket 2026-2027 yang dipegang TVRI kini diuji publik.

Komitmen Fiki membuka TVRI Nasional & TVRI Sport gratis jadi kontras langsung dengan 2022. Tapi, publik menuntut kejelasan kuantitatif: berapa persen dari 104 laga Piala Dunia 2026 yang wajib tayang FTA, bukan highlight atau siaran tunda? Bagaimana mekanisme pengawasan jika mitra OTT/DTH mendahulukan paywall?

Fiki menyebut rincian kontrak terikat kerahasiaan dan perbandingan antarnegara harus pakai data FIFA. Wajar.

Namun, sejatinya luka Piala Dunia 2022 membuat publik berhak menagih transparansi porsi FTA, SLA teknis anti-lag, dan audit independen pemanfaatan uang negara.

 

“TVRI membuka akses gratis lewat TVRI Nasional dan TVRI Sport. Mitra OTT dan DTH memberi opsi fleksibilitas,” ujar Fiki.

 

Harapannya, kegembiraan Piala Dunia 2026 benar-benar merata, bukan lagi mengulang skenario 2022: hak siar dimiliki, tapi stadion nasional sepi karena layar terkunci paywall.***

(Artha Tidar)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Karena MBG Indonesia Juara AVC Men’s Volleyball Club 2026.

29 Juni 2026 - 15:55 WIB

Pemanfaatan Aset DAMRI Hadirkan Fasilitas Olahraga Baru di Kawasan Wisata Yogyakarta

25 Juni 2026 - 09:11 WIB

Obsesi 2030 vs Realita: Timnas Belum Mampu Tembus Bayang-bayang ASEAN

20 Juni 2026 - 05:24 WIB

Tambal Sulam Garuda: Dua Wajah Baru, Pertanyaan Lama

15 Juni 2026 - 21:58 WIB

Catatan Iwan Piliang: Jepang dan Mimpi Juara Dunia 2026

15 Juni 2026 - 15:21 WIB

Kanada Ditahan Bosnia 1-1 pada Laga Perdana Piala Dunia 2026

13 Juni 2026 - 09:25 WIB

Indonesia Tekuk Oman 3-0, Keunggulan Fisik dan Disiplin Taktik Jadi Pembeda

6 Juni 2026 - 14:27 WIB

SUAMIKU LUKAKU Gelar Kampanye CFD di 5 Kota, Soroti Pentingnya Kesehatan Mental dan Kesadaran terhadap KDRT

26 Mei 2026 - 11:03 WIB

Kid’s Atletik OSN 2026 Aceh Tengah Berlangsung Meriah, Pelajar Tampilkan Semangat Juang dan Sportivitas Tinggi

20 Mei 2026 - 01:49 WIB

Dukungan Armada DAMRI Warnai Kesuksesan Asian Volleyball Confederation Champions League 2026 di Pontianak

19 Mei 2026 - 20:30 WIB

Trending di JALUR