Wartatrans.com, BOGOR – PT Kereta Api Indonesia (Persero) terus memperkuat kapasitas layanan di Stasiun Bogor, stasiun dengan pergerakan penumpang KRL tertinggi di Jabodetabek.
Salah satu upaya yang dilakukan yakni mempercepat penyelesaian pengembangan peron jalur 6, 7, dan 8 sebagai persiapan operasional rangkaian KRL Commuter Line 12 kereta (SF12) di lintas Bogor.

Langkah ini diharapkan mampu mengakomodasi tingginya mobilitas masyarakat dari Bogor dan kawasan penyangga menuju Jakarta, sekaligus meningkatkan kenyamanan serta kelancaran arus penumpang di salah satu stasiun tersibuk di Indonesia.
Berdasarkan data KAI pada semester I 2026, Stasiun Bogor mencatat 18.451.462 pergerakan pelanggan KRL, terdiri atas 9.371.057 pelanggan masuk (gate in) dan 9.080.405 pelanggan keluar (gate out). Rata-rata, sebanyak 101.942 pelanggan beraktivitas di stasiun tersebut setiap harinya.
Capaian tersebut menempatkan Stasiun Bogor di urutan pertama sebagai stasiun dengan volume pelanggan KRL tertinggi, mengungguli Stasiun Tanah Abang dengan 17.291.480 pergerakan, Stasiun Sudirman 13.078.339, Stasiun Citayam 11.465.614, serta Stasiun Bekasi 11.425.878 pergerakan pelanggan.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan tingginya aktivitas penumpang menjadi alasan utama percepatan peningkatan kapasitas di Stasiun Bogor.
“Stasiun Bogor melayani pergerakan pelanggan KRL tertinggi sepanjang semester I 2026. Karena itu, pengembangan peron jalur 6, 7, dan 8 menjadi bagian penting untuk menyiapkan kapasitas layanan yang lebih besar, terutama dalam mendukung operasional rangkaian KRL Commuter Line 12 kereta atau SF12,” ujar Anne.
Secara bulanan, jumlah pergerakan pelanggan di Stasiun Bogor mencapai 3.045.950 pada Januari, 2.665.471 pada Februari, 3.248.710 pada Maret, 3.139.775 pada April, 3.151.673 pada Mei, dan 3.199.883 pada Juni 2026. Angka tersebut menunjukkan konsistensi tingginya aktivitas masyarakat yang menggunakan Bogor Line.
Anne menjelaskan, Bogor Line merupakan salah satu koridor utama KRL Commuter Line yang melayani perjalanan dari Bogor, Cilebut, Bojonggede, Citayam, Depok hingga Jakarta. Selain Stasiun Bogor, sejumlah stasiun di lintas tersebut seperti Citayam, Depok Baru, Bojonggede, Cilebut, dan Depok juga mencatat volume penumpang yang tinggi.
“Bogor Line menjadi salah satu pilihan utama masyarakat untuk perjalanan harian. Dengan kesiapan SF12, kapasitas layanan dalam satu perjalanan dapat meningkat dan proses naik-turun pelanggan di Stasiun Bogor dapat lebih tertata,” kata Anne.
Saat ini, pembangunan peron jalur 6, 7, dan 8 telah memasuki tahap akhir atau finishing, bersamaan dengan pelaksanaan uji operasional. Proyek yang dimulai sejak 15 April 2026 itu ditargetkan rampung sepenuhnya pada 15 Juli 2026.
Pekerjaan meliputi pembangunan struktur dan arsitektur, instalasi mekanikal, elektrikal, dan plumbing (MEP), penataan jalan rel, hingga pemasangan listrik aliran atas (LAA). Selain itu, KAI juga memasang kanopi (overcapping) di area peron agar pelanggan lebih nyaman saat menunggu kereta, baik ketika cuaca panas maupun hujan.
Sebagai bagian dari tahapan akhir, KAI telah melakukan uji beban menggunakan lokomotif pada 29 Juni 2026, kemudian dilanjutkan dengan uji coba operasional KRL pada 1 Juli 2026 untuk memastikan seluruh prasarana memenuhi standar keselamatan dan siap digunakan.
Selama proses pembangunan berlangsung, KAI bersama KAI Commuter terus menjaga agar pelayanan kepada pelanggan tetap berjalan aman dan lancar. Di saat yang sama, KAI juga berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan dalam memperkuat konektivitas antara Stasiun Bogor dan Stasiun Bogor Paledang.
“KAI berkomitmen menghadirkan peningkatan layanan yang langsung dirasakan pelanggan. Fokus kami adalah kapasitas yang lebih siap, alur perjalanan yang lebih nyaman, serta konektivitas yang semakin mudah bagi masyarakat pengguna transportasi publik,” tutup Anne.(fahmi)






























