Menu

Mode Gelap
Proliga 2026 Pekan ke 6 Bojonegoro Mengerucutkan Tim Peserta Babak Final Four Menhub Dudy Sebut Banten Berpotensi Jadi Daerah Lintasan Padat Jawa-Sumatera Ratusan Warga Tonton Film NOEH (Pasung) di RSJ Aceh, Hujan Tak Surutkan Ikhtiar Lawan Stigma ODGJ Citilink Buka 2 Rute Baru Menuju Sumatera via Bandara Halim Sukses Kelola Komunikasi Berdampak, PNM Raih Tiga Penghargaan PR Indonesia Awards 2026 Tiga Titik Genangan Air di Jalur KA Daop 4 Semarang, KAI Lakukan Penyesuaian Perjalanan

WISATA

Keheningan Para Arkeolog: Kenapa Mereka Diam Soal Gunung Padang?

badge-check


 Keheningan Para Arkeolog: Kenapa Mereka Diam Soal Gunung Padang? Perbesar

Oleh: M. Basyir Zubair

____________________

Klaim-klaim spektakuler mengenai Gunung Padang terus beredar di ruang publik Indonesia. Situs prasejarah di Cianjur, Jawa Barat ini kerap disebut sebagai piramida tertua di dunia, peninggalan peradaban maju berusia puluhan ribu tahun, bahkan secara spekulatif dikaitkan dengan Atlantis. Di tengah derasnya narasi tersebut, muncul pertanyaan yang terus berulang: mengapa para arkeolog, baik dari dalam maupun luar negeri, tampak memilih diam?

Apakah keheningan ini berarti persetujuan? Atau justru mencerminkan sesuatu yang lain dalam cara kerja ilmu pengetahuan?

Bukan Diam, Melainkan Berbicara di Ruang yang Berbeda

Anggapan bahwa arkeolog “diam” sebenarnya perlu diluruskan. Sejumlah arkeolog profesional Indonesia baik dari universitas maupun organisasi profesi telah menyampaikan kritik ilmiah terhadap klaim Gunung Padang. Kritik tersebut mencakup persoalan interpretasi data geofisika, ketepatan metode penanggalan, serta ketiadaan bukti artefaktual yang secara kontekstual menunjukkan keberadaan struktur monumental buatan manusia pada usia yang diklaim.

Namun, respons ini umumnya disampaikan melalui jalur akademis: jurnal ilmiah, seminar, diskusi terbatas, dan forum profesional. Jalur ini jarang mendapat perhatian sebesar media sosial, kanal video daring, atau pemberitaan populer yang cenderung mengedepankan narasi sensasional. Akibatnya, muncul ilusi seolah-olah para arkeolog tidak berbicara, padahal mereka berbicara di ruang yang berbeda, ruang yang menuntut ketelitian, bukan viralitas.

Mengapa Respons Ilmiah Terasa Sunyi?

Ada beberapa faktor yang menjelaskan mengapa suara arkeolog tidak terdengar sekeras klaim sensasional.

Pertama, perbedaan platform komunikasi. Klaim spektakuler mudah menyebar melalui media yang tidak menuntut verifikasi ketat. Sebaliknya, kritik ilmiah memerlukan penjelasan konteks, metodologi, dan data yang tidak selalu mudah disederhanakan menjadi narasi singkat.

Kedua, prinsip kehati-hatian ilmiah. Dalam sains, pernyataan publik idealnya didasarkan pada kajian data yang matang. Proses ini memerlukan waktu, sementara klaim dapat menyebar luas dalam hitungan jam. Arkeolog umumnya menghindari perdebatan emosional yang tidak produktif secara ilmiah.

Ketiga, konteks politisasi. Gunung Padang pernah berada dalam sorotan kebijakan dan narasi kebanggaan nasional. Dalam situasi seperti ini, kritik ilmiah kerap disalahartikan sebagai sikap tidak nasionalis atau meremehkan warisan budaya. Risiko tekanan sosial dan personal membuat sebagian peneliti memilih fokus pada kerja ilmiah mereka daripada terlibat polemik publik.

Beban Pembuktian dalam Klaim Luar Biasa

Dalam tradisi ilmiah dikenal prinsip bahwa klaim luar biasa membutuhkan bukti luar biasa. Beban pembuktian berada pada pihak yang mengajukan klaim, bukan pada komunitas ilmiah untuk membantahnya satu per satu.

Arkeolog tidak berkewajiban membuktikan bahwa Gunung Padang bukan piramida berusia 25.000 tahun. Yang diperlukan adalah bukti konkret dari pihak yang mengajukan klaim: artefak yang jelas buatan manusia, struktur arsitektural dengan konteks stratigrafi yang dapat dipertanggungjawabkan, serta penanggalan yang konsisten dan dapat direplikasi. Tanpa itu, klaim tersebut secara metodologis mengandung kontradiksi internal yang jelas bagi para ahli.

Kelelahan Akademik terhadap Klaim Berulang

Klaim tentang piramida tersembunyi, peradaban hilang, atau situs prasejarah yang “mengubah seluruh sejarah dunia” bukanlah hal baru. Komunitas arkeologi global telah lama menghadapi pola klaim serupa di berbagai negara. Setiap kali, pola yang muncul hampir sama: interpretasi berlebihan terhadap data geologi atau geofisika, diikuti narasi populer yang mendahului pembuktian arkeologis.

Dalam konteks ini, banyak arkeolog mengalami kelelahan akademik dalam menghadapi klaim non-metodologis yang terus berulang. Energi ilmiah lebih produktif digunakan untuk penelitian yang terukur daripada terlibat dalam siklus bantahan terhadap klaim yang tidak memenuhi standar dasar arkeologi.

Mengapa Arkeolog Internasional Tidak Banyak Berkomentar?

Bagi arkeolog internasional, terdapat pertimbangan tambahan. Arkeologi modern menjunjung etika profesional dan penghormatan terhadap kedaulatan penelitian lokal. Mengomentari situs di negara lain tanpa keterlibatan langsung atau permintaan resmi dapat dipandang tidak etis.

Selain itu, Gunung Padang bukan prioritas penelitian bagi sebagian besar arkeolog yang bekerja di luar Asia Tenggara. Meski mereka mengetahui klaim yang beredar dan bersikap skeptis, tidak ada dorongan ilmiah yang kuat untuk terlibat dalam polemik publik, terutama ketika kelemahan metodologis klaim tersebut sudah terlihat jelas.

Persoalan yang Lebih Mendasar: Otoritas dan Kelembagaan

Kasus Gunung Padang sesungguhnya menyingkap persoalan yang lebih struktural: ketidakjelasan otoritas dalam evaluasi klaim ilmiah terhadap situs cagar budaya.

Di Indonesia, pelestarian dan pengelolaan situs arkeologi berada di bawah lembaga teknis pemerintah, sementara penelitian ilmiah dilakukan oleh lembaga riset nasional dan akademisi. Dalam sistem yang ideal, klaim besar mengenai situs monumental seharusnya dievaluasi melalui mekanisme kelembagaan yang jelas, dengan pengawasan metodologis yang ketat dan transparansi data.

Pertanyaan publik yang wajar untuk diajukan adalah: siapa yang memvalidasi metode penelitian? Apakah ada evaluasi independen? Apakah data mentah tersedia untuk ditelaah ulang oleh komunitas arkeologi yang lebih luas? Tanpa kejelasan ini, polemik akan terus berulang tanpa menghasilkan kemajuan pengetahuan.

Apakah Diam Berarti Setuju?

Dalam dunia sains, diam tidak pernah identik dengan persetujuan. Justru sebaliknya, jika sebuah temuan benar-benar revolusioner dan didukung bukti kuat, komunitas ilmiah akan merespons secara aktif: melakukan penelitian ulang, mendiskusikannya secara luas, dan mengintegrasikannya ke dalam pemahaman arkeologi yang mapan.

Hingga kini, tidak ada konsensus ilmiah yang menerima Gunung Padang sebagai piramida berusia puluhan ribu tahun. Klaim tersebut belum menjadi bagian dari buku teks, kurikulum, atau narasi utama arkeologi Asia Tenggara. Ini merupakan indikator paling jelas dari sikap komunitas ilmiah.

Penutup

Keheningan relatif para arkeolog dalam perdebatan populer tentang Gunung Padang bukanlah tanda ketidakpedulian. Ia mencerminkan cara kerja sains yang menempatkan bukti di atas sensasi, metodologi di atas narasi, dan kehati-hatian di atas klaim spektakuler.

Sains tidak berkembang melalui perdebatan emosional di ruang publik, melainkan melalui pengujian data, verifikasi independen, dan konsensus yang dibangun secara perlahan. Selama standar itu belum terpenuhi, keheningan para arkeolog justru merupakan ekspresi paling jelas dari profesionalisme ilmiah.***

02 Januari 2025

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ratusan Warga Tonton Film NOEH (Pasung) di RSJ Aceh, Hujan Tak Surutkan Ikhtiar Lawan Stigma ODGJ

16 Februari 2026 - 14:38 WIB

Sukses Kelola Komunikasi Berdampak, PNM Raih Tiga Penghargaan PR Indonesia Awards 2026

16 Februari 2026 - 14:24 WIB

MADEENA & Jagawana Band Ramaikan Blantika Musik Tanah Air Lewat Single “CANDU”

16 Februari 2026 - 10:44 WIB

Sesuaikan Selera Jemaah Haji, Kemenhaj Pastikan Standar Dapur di Makkah Bercita Rasa Nusantara

16 Februari 2026 - 09:22 WIB

DPD Tani Merdeka Indonesia Aceh Tengah Apresiasi Bantuan Sapi Meugang Presiden dan Gubernur Aceh

15 Februari 2026 - 23:10 WIB

Trending di PERISTIWA