Menu

Mode Gelap
Desa Lubok Pusaka Terima Bantuan Lembu Meugang dari Pemerintah dan PGE Jelang Ramadhan, BFLF dan ACUT Salurkan TOA dan Mukena ke Masjid di Aceh KAI Services dan Kemendag Buka Akses Pasar UMKM Pangan ke Jaringan Kereta Api KCIC Sesuaikan Jadwal Whoosh Mulai 18 Februari, Antisipasi Pemindahan Kabel SUTT KAI Layani 813 Ribu Pelanggan Selama Libur Imlek 2026, Arus Balik Capai 172 Ribu Penumpang Menhub Dudy Bertemu Gubernur Lampung, Koordinasikan Angkutan Lebaran 2026

TNI-POLRI

Pedagang Es Gabus Mengaku Jadi Korban Kekerasan Oknum Aparat di Kemayoran

badge-check


 Pedagang Es Gabus Mengaku Jadi Korban Kekerasan Oknum Aparat di Kemayoran Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Seorang pedagang es gabus mengaku menjadi korban fitnah dan dugaan tindak kekerasan yang dilakukan oknum aparat saat berjualan di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat. Korban, Sudrajat (50), pedagang es kue asal Kelurahan Rawapanjang, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor, kini mengalami trauma dan terpaksa berhenti berjualan.
Peristiwa itu terjadi ketika Sudrajat berangkat seperti biasa untuk berdagang. Ia mengambil stok es gabus dari Depok sekitar pukul 04.00 WIB, lalu menaiki kereta menuju Manggarai sebelum akhirnya berjualan di Kemayoran.

Nasib nahas menimpanya saat melayani seorang pembeli yang belakangan diketahui merupakan oknum aparat. Menurut Sudrajat, pembeli tersebut tiba-tiba menuduh dagangannya sebagai es palsu.

“Awalnya beli es kue. Saya belum tahu dia polisi. Terus dagangan saya dibejek-bejek. Saya dipanggil dan dibilang ini bukan es, ini es palsu,” ujar Sudrajat menirukan kejadian yang dialaminya.

Tak berhenti di situ, Sudrajat mengaku mengalami kekerasan fisik. Ia ditonjok, dibanting, dan dipaksa berdiri dengan satu kaki. Perlakuan tersebut membuatnya syok dan trauma. Sejak kejadian itu, ia memilih tidak kembali berjualan di Kemayoran.

Belakangan, pihak kepolisian memastikan melalui uji laboratorium bahwa es gabus yang dijual Sudrajat aman dikonsumsi dan tidak mengandung bahan berbahaya.

Meski demikian, Sudrajat mengaku masih merasakan sakit di beberapa bagian tubuhnya hingga kini. Ia belum memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan karena keterbatasan ekonomi. Penghasilannya sebagai pedagang kecil hanya berkisar Rp30 ribu hingga Rp50 ribu per hari, yang sekadar cukup untuk makan.

Sudah empat hari Sudrajat tidak berjualan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia terpaksa berutang ke warung sekitar tempat tinggalnya. Meski ingin kembali berdagang, trauma yang dialaminya membuat ia berencana pindah lokasi jualan.

Kasus ini menambah daftar keluhan masyarakat kecil terkait dugaan tindakan sewenang-wenang aparat di lapangan. Sejumlah pihak mendesak agar peristiwa tersebut diusut secara transparan dan korban mendapatkan pemulihan, baik secara hukum maupun kesehatan.*** (Septi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Patroli Skala Besar KRYD, Cegah Tawuran & Gangguan Kamtibmas

16 Februari 2026 - 20:17 WIB

DPD Tani Merdeka Indonesia Aceh Tengah Apresiasi Bantuan Sapi Meugang Presiden dan Gubernur Aceh

15 Februari 2026 - 23:10 WIB

Fuad Kasyfurrahman Nahkodai KNPI Jawa Barat, Fokus Konsolidasi dan Program

14 Februari 2026 - 14:45 WIB

PDAM Tirta Kahuripan Pastikan Pasokan Air Bersih Tetap Optimal Selama Ramadhan 1447 H

13 Februari 2026 - 17:41 WIB

Dua Terdakwa Kurir Narkoba Dituntut Hukuman Mati

13 Februari 2026 - 17:30 WIB

Trending di PERISTIWA