Wartatrans.com, JAKARTA — Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) selama ini dikenal sebagai tulang punggung perekonomian nasional. Namun di balik kontribusinya yang besar terhadap produk domestik bruto (PDB) dan penyerapan tenaga kerja, segmen usaha ultra mikro masih menghadapi tantangan struktural yang tidak bisa diselesaikan dengan pembiayaan semata.
Pada level ekonomi mikro, persoalan utama pelaku usaha ultra mikro tidak hanya terbatas pada akses modal, tetapi juga keterbatasan kapasitas usaha. Mulai dari minimnya literasi keuangan, pencatatan usaha yang belum tertata, akses pasar yang sempit, hingga kerentanan terhadap guncangan eksternal seperti fluktuasi harga dan bencana alam, masih menjadi hambatan utama keberlanjutan usaha.

Pembiayaan memang menjadi bahan bakar awal bagi pelaku usaha. Namun tanpa dibarengi pemberdayaan, modal justru berpotensi menjadi beban. Kredit yang tidak disertai peningkatan kapasitas dinilai sulit mendorong produktivitas, apalagi pertumbuhan usaha yang berkelanjutan.
Pemberdayaan mencakup pendampingan usaha, penguatan literasi keuangan, pembentukan disiplin kelompok, hingga penumbuhan kepercayaan diri sebagai pelaku ekonomi. Pendekatan ini terbukti mampu meningkatkan ketahanan usaha ultra mikro, tidak hanya untuk bertahan dalam jangka pendek, tetapi juga membuka peluang naik kelas.
Sayangnya, pendekatan terintegrasi antara pembiayaan dan pemberdayaan masih relatif terbatas diterapkan secara konsisten. Salah satu model yang dinilai menonjol adalah yang dijalankan oleh PT Permodalan Nasional Madani (PNM). Melalui pembiayaan ultra mikro yang disertai pendampingan rutin berbasis kelompok, PNM menempatkan para ibu pengusaha dalam program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar) bukan sekadar sebagai debitur, melainkan sebagai mitra pembangunan ekonomi.
Sekretaris Perusahaan PNM, L. Dodot Patria Ary, menegaskan bahwa pemberdayaan merupakan fondasi utama dalam setiap penyaluran pembiayaan PNM.
“PNM meyakini bahwa pembiayaan harus berjalan seiring dengan pemberdayaan. Kami tidak hanya menyalurkan modal, tetapi juga hadir mendampingi, membangun kapasitas, dan menumbuhkan kepercayaan diri nasabah agar usaha mereka bisa bertahan dan berkembang secara berkelanjutan,” ujarnya.
Dengan semangat PNM untukUMKM dan PNM Pemberdayaan UMKM, ekosistem pembiayaan dan pemberdayaan yang dibangun PNM diyakini mampu menciptakan multiplier effect yang lebih kuat. Peningkatan kapasitas individu berdampak langsung pada produktivitas usaha, stabilitas pendapatan rumah tangga, hingga penguatan ketahanan ekonomi komunitas lokal.
“Keberhasilan UMKM tidak hanya diukur dari besarnya penyaluran dana, tetapi dari sejauh mana mereka mampu mengelola, mengembangkan, dan mempertahankan usahanya hingga memberi dampak sosial bagi lingkungan sekitarnya,” tambah Dodot.
Bagi PNM, pembiayaan bukanlah tujuan akhir. Pemberdayaan menjadi faktor penentu agar pelaku usaha ultra mikro benar-benar mampu tumbuh, berdaya, dan naik kelas secara berkelanjutan.*** (Buyil)




















