Wartatrans.com, BOGOR – Pemerintah Kota Bogor kembali menghidupkan rencana pengoperasian trem perkotaan untuk mobilitas masyarakat.
Moda transportasi yang satu ini, telah diwacanakan sejak lebih dari satu dekade lalu.

Kali ini, rencana tersebut diklaim semakin matang dengan produksi sarana yang tingkat komponen dalam negeri (TKDN) mencapai 70 persen.
Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim menyebut, tingginya kandungan lokal pada proyek trem menegaskan arah kebijakan pemerintah daerah yang ingin mengaitkan pembangunan transportasi publik dengan penguatan industri nasional.
“Sarana trem yang direncanakan, akan diproduksi oleh PT Industri Kereta Api (INKA), badan usaha milik negara di sektor perkeretaapian,” ujar Didie, Jumat (23/1/2026).
Menurutnya, trem dipilih bukan semata karena pertimbangan teknis transportasi, tetapi juga karena dinilai paling realistis diterapkan di kota dengan keterbatasan ruang dan anggaran seperti Bogor.
Dibandingkan moda berbasis rel lain, trem dianggap lebih efisien dari sisi biaya pembangunan maupun operasional.
“Dari berbagai alternatif transportasi rel, trem adalah yang paling memungkinkan untuk kota,” katanya.
Rencana pengembangan trem di Bogor sejatinya telah muncul sejak 2014, sebagai bagian dari penataan sistem transportasi perkotaan yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Namun, realisasinya kerap tertunda oleh berbagai kendala, mulai dari pendanaan hingga sinkronisasi perencanaan tata kota.
Rute yang dirancang akan melintasi kawasan-kawasan strategis, seperti Alun-alun Kota Bogor, Jalan Kapten Muslihat, Jalan Ir. H. Juanda, Sempur, Pajajaran, Tugu Kujang, Otista, Bogor Trade Mall, dan SMAN 1 Bogor, sebelum kembali ke titik awal.
“Jalur tersebut melewati pusat aktivitas ekonomi, pendidikan, dan ruang publik warga,” kata Didie.
Pemerintah Kota Bogor berharap kehadiran trem dapat menjadi tulang punggung transportasi umum perkotaan, sekaligus menekan ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi yang selama ini menjadi penyumbang utama kemacetan dan emisi di kota hujan itu.
Meski demikian, tantangan implementasi masih membayangi. Selain kebutuhan pembiayaan jangka panjang, integrasi trem dengan moda transportasi lain serta penerimaan publik akan menjadi faktor penentu keberhasilan proyek tersebut.*** (MY)









