Wartatrans.com, JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia (Persero) menegaskan bahwa konektivitas transportasi merupakan fondasi strategis dalam mendorong pertumbuhan wilayah yang inklusif dan berkelanjutan.
Dalam sistem perkeretaapian nasional, konektivitas dibangun melalui keselarasan antara prasarana yang disiapkan pemerintah dan layanan yang dioperasikan KAI, sehingga mampu menghubungkan pusat-pusat aktivitas ekonomi dan sosial secara efektif. Kerangka inilah yang memperkuat peran Stasiun Sukabumi sebagai simpul strategis penghubung wilayah Bogor, Cianjur, Bandung Barat, hingga Sukabumi.

Sebagai operator transportasi publik nasional, KAI memastikan layanan kereta api berjalan andal, aman, dan berkelanjutan. Pada saat yang sama, pemerintah menjalankan perannya dalam penyediaan prasarana perkeretaapian.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyampaikan bahwa keselarasan peran ini membentuk satu ekosistem transportasi yang mampu mendorong pertumbuhan wilayah secara terarah dan terukur.
“Kereta api beroperasi dalam satu ekosistem nasional. Pemerintah, termasuk melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kemenhub memastikan kesiapan prasarana, sementara KAI fokus pada keandalan operasional dan kualitas layanan. Sinergi ini menjadi kunci agar konektivitas memberikan dampak ekonomi dan sosial yang berkelanjutan bagi wilayah,” ujar Anne.
Dalam konteks tersebut, Stasiun Sukabumi berfungsi sebagai simpul mobilitas regional yang menghubungkan wilayah dengan karakter ekonomi dan sosial yang terus berkembang. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2024 perekonomian Kabupaten Sukabumi mencatat pertumbuhan 5,15 persen dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) harga berlaku sebesar Rp88,14 triliun, sementara tantangan ketenagakerjaan dan sosial masih memerlukan dukungan akses mobilitas yang lebih luas. Kondisi ini menegaskan pentingnya konektivitas transportasi sebagai pengungkit akses kerja dan layanan publik.
Fungsi tersebut diperkuat oleh layanan kereta api yang beroperasi dari Stasiun Sukabumi. KA Pangrango menghubungkan Sukabumi dengan Bogor dan jejaring Comuter Line Jabodetabek, sedangkan KA Siliwangi melayani relasi pulang-pergi Sukabumi–Cipatat yang menghubungkan Kabupaten Bandung Barat, Cianjur, serta Kota dan Kabupaten Sukabumi. Kedua layanan ini membentuk koridor konektivitas regional yang memperluas jangkauan aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat.
Efektivitas konektivitas tersebut semakin kuat melalui integrasi antarsimpul di Bogor. Stasiun Bogor dan Stasiun Bogor Paledang terhubung melalui skybridge dengan jarak sekitar 200 meter, sehingga pengguna Commuter Line dapat melanjutkan perjalanan menuju Sukabumi menggunakan KA Pangrango. Integrasi ini menjadikan Bogor sebagai simpul pengumpan utama yang memperluas akses Sukabumi ke kawasan metropolitan.
Dampak dari konektivitas yang terbangun tercermin pada pertumbuhan volume penumpang. Stasiun Sukabumi mencatat 264.001 penumpang pada 2020, 144.780 pada 2021, kemudian meningkat menjadi 425.289 pada 2022, 674.483 pada 2023, 733.345 pada 2024, dan mencapai 768.461 penumpang pada 2025. Tren ini menunjukkan peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap layanan kereta api sebagai moda transportasi utama.
Sejalan dengan itu, volume pengguna Commuter Line di Stasiun Bogor juga tumbuh signifikan, dari 7,74 juta pengguna pada 2020 menjadi 18,20 juta pengguna pada 2025. Arus ini memperkuat peran Bogor sebagai gerbang konektivitas Sukabumi, sekaligus menunjukkan keterkaitan antara prasarana yang memadai dan layanan yang terintegrasi dalam satu sistem transportasi.
Anne menegaskan bahwa keterhubungan antardaerah melalui kereta api menghasilkan efek berganda bagi wilayah. Akses yang semakin baik mendorong mobilitas tenaga kerja, penguatan aktivitas usaha mikro dan kecil, peningkatan pergerakan pelajar, serta pengembangan pariwisata daerah. Seluruh manfaat tersebut hanya dapat dicapai apabila prasarana yang disiapkan pemerintah dan layanan yang dioperasikan KAI berjalan selaras.
“Wilayah yang terhubung dengan baik akan berkembang lebih cepat. Dukungan pemerintah terhadap prasarana dan peran KAI sebagai operator menjadikan kereta api sebagai pengungkit pembangunan wilayah yang berkelanjutan,” tutup Anne.(****)









