Menu

Mode Gelap
Nina Septiana Nugroho, Konsisten Dukung FORWAN Optimalisasi Layanan Pelabuhan, Kemenhub Hibahkan Aset BMN ke Pemkab Mamuju KAI Daop 1 Jakarta Tambah Perjalanan KA, Akses ke Yogyakarta, Solo, Cilacap, dan Bandung Semakin Fleksibel Aceh Dihadapkan Dua Krisis: Banjir Meluas dan Sorotan Pelanggaran Moral di Media Sosial Ini Respon Kemenhub Terkait Info Rencana Pemberian Akses Overflight Pesawat Militer Asing  PTP Nonpetikemas Perkuat Layanan Bongkar Muat Bijih Timah di Tanjung Pandan

EKOBIS

Tobani, Pengrajin Baju Kulit Kayu dari Sulawesi: Kesabaran yang Akhirnya Diakui

badge-check


 Tobani, Pengrajin Baju Kulit Kayu dari Sulawesi: Kesabaran yang Akhirnya Diakui Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Usia 85 tahun, tangan Tobani  Rinyo Tiku masih setia memukul-mukul kulit kayu beringin. Bukan untuk kayu bakar, melainkan untuk disamak, dilunakkan, lalu dijahit menjadi pakaian—baju kulit kayu yang diwariskan oleh tradisi leluhur Sulawesi.

Ketangguhan, kesetiaan, dan keuletan adalah kata-kata yang paling tepat menggambarkan perjalanan hidup perempuan renta ini. Bertahun-tahun ia memilih bertahan sebagai pengrajin baju kulit kayu, meski jalan hidup itu tidak pernah mudah, apalagi menjanjikan kemapanan.

Ironisnya, dalam sebuah proses penjurian maestro tradisi, Tobani sempat tidak masuk dalam penilaian. Karyanya dianggap tidak masuk kriteria. Nama dan pengabdiannya nyaris hilang dari daftar penilaian.

Salah seorang juri – Neno Warisman, memilih tetap bersabar, terus menjalankan proses penjurian sambil berdoa. Dalam diam, ia menyerahkan segalanya kepada kehendak Tuhan— “Jika Bu Tobani memang layak menerima upah atas kesetiaannya, maka jalan itu akan dibukakan,” ungkap Neno Warisman.

Neno Warisman bersama baju kayu produk Tobani  Rinyo Tiku.

Sebuah mekanisme penilaian mengharuskan para juri mencari rujukan dari Sulawesi. Di momen itulah, kesadaran itu muncul. “Eureka!” seru sang juri di hadapan peserta lain. “Kulit kayu Sulawesi—Bu Tobani!” akhirnya salah satu yang masuk penjurian dan mendapat penghargaan dari Kementrian Kebudayaan Republik Indonesia.

Tobani ternyata seorang muslimah. Saat keputusan itu sampai kepadanya, yang terlihat bukan euforia, melainkan wajah ikhlas—ketulusan yang lahir dari hidup panjang penuh pengabdian.

Neno Warisman bersama Tobani.

Di balik ketekunannya menyamak kayu, Tobani memikul tanggung jawab yang berat. Di usia senjanya, ia masih mengasuh dan merawat dua anaknya yang menyandang disabilitas. Setiap hari ia memasak, membersihkan, dan menjaga mereka dengan penuh kasih. Satu anak hanya bisa merangkak, sementara yang lain harus menggunakan kursi roda.

Di sela-sela hari, ia kembali memukul kulit kayu, menyusunnya menjadi pakaian—seolah menenun kesabaran dan doa ke dalam setiap helai tradisi yang nyaris dilupakan zaman.

“Kisah Bu Tobani adalah pengingat bahwa pengabdian sejati sering kali berjalan dalam sunyi. Namun kesetiaan pada pilihan hidup, jika dijalani dengan sabar dan ikhlas, pada akhirnya akan menemukan jalannya sendiri untuk diakui,” ungkap Neno mengakhiri.*** (PG)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Nina Septiana Nugroho, Konsisten Dukung FORWAN

13 April 2026 - 21:08 WIB

Aceh Dihadapkan Dua Krisis: Banjir Meluas dan Sorotan Pelanggaran Moral di Media Sosial

13 April 2026 - 19:00 WIB

FFH Ke-5 Tegaskan Sensor Bukan Hambatan, Tapi Strategi Kreatif Perfilman Horor

13 April 2026 - 18:37 WIB

Efisiensi Anggaran, Pemkot Depok Alihkan Insentif Bimroh ke Guru Ngaji

13 April 2026 - 17:02 WIB

Sejarah Komunitas Kartunis Indonesia: Dari Pakyo hingga Lahirnya Pakarti

13 April 2026 - 12:54 WIB

Dari Silaturahmi ke Strategi: FORWAN Mulai Bangun Arah Baru Organisasi

13 April 2026 - 09:33 WIB

Banjir Kembali Rendam Pidie Jaya, Wakil Bupati Minta Perhatian Serius Pemerintah Pusat

12 April 2026 - 20:48 WIB

Pemkot Semarang Tidak Melaksanakan WFH, Wamendagri Perintahkan untuk Memviralkan

12 April 2026 - 13:57 WIB

The Meru Sanur Sabet Penghargaan Best New Hotel Indonesia 2026

12 April 2026 - 12:47 WIB

Marcell Darwin Ungkap Adegan Paling Menguras Emosi di Film Dalam Sujudku

12 April 2026 - 10:56 WIB

Trending di SENI BUDAYA