Oleh: Agam Rimba
__________

Tubuhnya kurus. Langkahnya pelan. Wajahnya sering terlihat lelah.
Namun di balik tubuh yang kerap melemah itu, berdiri seorang lelaki dengan hati seluas samudera.
Namanya Teungku Muhammad Yusuf Nasir.
Orang-orang memanggilnya dengan penuh hormat: Abiya Jeunieb.
Di sebuah sudut Lancang Raya, Kecamatan Jeunieb, Kabupaten Bireuen, berdiri Dayah Rauhul Mudi Al-Aziziah. Di tempat inilah Abiya menjadi ayah bagi sekitar 500 anak yatim piatu dan anak terlantar.
Lima ratus anak.
Lima ratus masa depan.
Lima ratus amanah.
Tak pernah lelah — meski tubuhnya sering tak kuat. Tak jarang beliau harus diinfus karena kelelahan. Namun setiap kali ditanya tentang beban yang dipikulnya, jawabannya selalu sama:
“Rezeki anak-anak itu sudah Allah takar, tidak akan tertukar.”
Keyakinan itulah yang membuatnya tetap berdiri.
Ayah Bagi Mereka yang Kehilangan Ayah
Di dayah itu, tak ada istilah bayar-membayar untuk yatim piatu
Makan mereka ditanggung.
Pakaian mereka disiapkan.
Sekolah mereka diurus.
Bahkan uang jajan pun diperhatikan.
Abiya memastikan tidak ada satu pun anak yang merasa menjadi beban.
Sering kali beliau makan bersama anak-anak itu. Bahkan menyuapi mereka satu per satu. Ada hari-hari di mana beliau terlalu sibuk memperhatikan mereka hingga lupa makan untuk dirinya sendiri.
Ketika keluar berdakwah dua atau tiga hari, hatinya tak pernah benar-benar pergi.
“Apakah anak-anak sudah makan?”
Pertanyaan itu kerap terucap dengan mata yang berkaca-kaca.
Abiya tidak pernah membedakan anak kandungnya dengan anak-anak dayah.
Bagi beliau, mereka semua adalah anak-anaknya.
Dana yang Mengalir dari Hati
Mengasuh 500 anak tentu bukan perkara kecil. Biaya yang dibutuhkan sangat besar.
Sebagian berasal dari dana pribadi Abiya.
Sebagian lagi dari para donatur yang memilih tak disebut namanya.
Ada yang mengirim sedekah harian.
Ada yang bulanan.
Ada yang tahunan.
Dari dalam negeri. Dari luar negeri. Dari grup WhatsApp kecil. Dari pribadi-pribadi yang diam-diam peduli.
Mereka mungkin tak dikenal publik. Tapi kebaikan mereka hidup di piring-piring makan anak yatim setiap hari.
Kekhawatiran Seorang Ayah
Di balik keteguhan imannya, Abiya tetap manusia biasa. Ada satu kalimat yang sering beliau sampaikan dengan suara lirih:
“Kalau kelak aku mati, tolong berikan mereka makan, pakaian, dan kasih sayang.”
Kalimat itu bukan tentang rasa takut.
Itu tentang cinta.
Cinta seorang ayah yang tidak ingin anak-anaknya kehilangan pelindung untuk kedua kalinya.
Beliau yakin Allah telah mencukupkan rezeki mereka. Namun sebagai manusia, hati seorang ayah tetap ingin memastikan anak-anaknya aman.
Jika Bukan Kita, Siapa Lagi?
Anak-anak ini adalah generasi penerus.
Jika mereka tidak diselamatkan dalam pendidikan dayah, jika mereka tidak dipeluk dalam kasih sayang, lalu ke mana mereka akan melangkah?
Di Dayah Rauhul Mudi Al-Aziziah, mereka tidak hanya belajar agama dan sekolah formal. Mereka belajar tentang arti keluarga.
Dayah adalah rumah.
Dan penghuninya adalah keluarga.
Dan di rumah itu, ada seorang lelaki kurus yang setiap hari berdiri di antara lelah dan cinta — menjaga 500 masa depan agar tetap menyala.***




















