Wartatrans.com, JAKARTA – AirBorneo akan membuka penerbangan langsung Kuching-Jakarta pada Oktober 2026, masuk ke rute yang telah mencatat tingkat keterisian penumpang di atas 80 persen dan ditopang besarnya kunjungan Indonesia ke Sarawak.
Premier Sarawak Abang Johari Tun Openg mengatakan, penerbangan Jakarta menjadi bagian dari ekspansi jaringan AirBorneo setelah maskapai tersebut membuka layanan jet ke sejumlah kota regional.
Pada Senin (5/10/2026), ia menyebut Jakarta akan menjadi tujuan berikutnya, sebelum AirBorneo mengincar Jeju, Korea Selatan.
“Kita akan membawa jiran kita yang berkehendakkan rawatan perubatan di Sarawak,” kata Johari.
Ia menilai pasien Indonesia yang datang bersama keluarga juga menciptakan permintaan turunan untuk konsumsi dan pariwisata di Sarawak.
Besarnya potensi tersebut terlihat dari 653.883 wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Sarawak sepanjang 2024, atau 13,5 persen dari total 4,83 juta kunjungan.
Pada sektor kesehatan, 52.850 pengunjung Indonesia tercatat sebagai wisatawan medis pada tahun yang sama dengan penerimaan RM127 juta.
Aktivitas promosi di Indonesia juga menguat menjelang masuknya AirBorneo. Direktur Pemasaran Sarawak Tourism Board Wilayah ASEAN dan Domestik Gustino Basuan mengatakan pada Kamis (1/10/2026) bahwa STB baru menggelar pertemuan bisnis di Jakarta dan Surabaya bersama pelaku usaha, terutama agen perjalanan.
“Melalui aspirasi Sarawak Gateway to Borneo, kami melihat peluang untuk Sarawak dan Indonesia saling melengkapi,” kata Gustino di Jakarta Rabu (30/9/2026).
Ia menyebut kerja sama dengan agen perjalanan Jakarta telah berlangsung sekitar 10 tahun dan kini didukung konektivitas langsung.
Kinerja koridor tersebut menunjukkan permintaannya bukan sekadar potensi.
Menteri Pariwisata, Industri Kreatif dan Seni Persembahan Sarawak Abdul Karim Rahman Hamzah mengatakan pada Jumat (25/7/2025), penerbangan langsung Jakarta-Kuching mempertahankan tingkat keterisian di atas 80 persen, didorong permintaan wisatawan Indonesia.
Basis permintaan juga terlihat dari jumlah kunjungan. Indonesia menyumbang 653.883 kunjungan ke Sarawak pada 2024 dan menjadi pasar asing terbesar kedua setelah Brunei, sementara sektor wisata medis mencatat 52.850 pengunjung Indonesia pada tahun yang sama.
AirBorneo dengan demikian tidak masuk ke pasar yang belum terbentuk. Tambahan operator akan memperbesar pilihan penerbangan sekaligus membuka ruang perebutan penumpang wisata, perjalanan bisnis dan wisata medis.
Bagi Sarawak, nilai ekonominya bukan hanya pada okupansi kursi. Konektivitas baru memberi akses lebih langsung ke Jakarta, sementara penumpang yang datang untuk berobat, berwisata atau berbisnis berpotensi menghasilkan belanja lanjutan di sektor kesehatan, hotel, kuliner dan jasa lokal.
Jika okupansi dapat dipertahankan, rute ini berpeluang menjadi penggerak lalu lintas penumpang sekaligus pintu masuk ekspansi jaringan AirBorneo ke pasar ASEAN, dengan nilai ekonomi lintas sektor.(Artha Tidar)




























