Wartatrans.com, KOLOM — Hari ini menjadi salah satu hari yang akan kusimpan lama dalam ingatan.
Di tengah riuh Pameran Buku Internasional Cairo, aku berdiri di Stand Indonesia—sebuah ruang kecil yang terasa hangat oleh bahasa, sastra, dan persaudaraan lintas bangsa. Di sinilah kami berbagi pengalaman, saling menyapa dengan cerita, dan menjahit perasaan lewat bait-bait puisi.
Aku menyaksikan wajah-wajah penuh rasa ingin tahu. Ada yang datang karena buku, ada yang tinggal karena percakapan, dan ada pula yang terdiam karena puisi. Saat puisiku dilantunkan, aku merasa tidak hanya membawa suara pribadi, tetapi juga gema dari tanah air yang jauh: Indonesia.


Berbagi pengalaman di ruang ini terasa istimewa. Aku bercerita tentang perjalanan kepenulisan, tentang bagaimana kata-kata bisa menjadi jembatan antara iman, budaya, dan kemanusiaan. Di Cairo—kota tua yang sarat sejarah—aku belajar kembali bahwa sastra adalah bahasa universal yang mampu menembus batas negara dan latar belakang.
Puisi-puisi yang kubacakan hari ini bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah doa, kenangan, dan rasa syukur. Aku bersyukur bisa menjadi bagian kecil dari perjumpaan besar ini—perjumpaan antarbangsa, antarsastra, dan antarkemanusiaan.
Menutup hari, aku menarik napas panjang. Alhamdulillah, langkah kecil di Stand Indonesia hari ini terasa bermakna. Semoga kata-kata yang terucap tidak berhenti di ruang pameran, tetapi terus berjalan, menemukan hati-hati baru, dan menghidupkan harapan.***
Mesir 2026




















