Wartatrans.com, KOLOM — Kabar wafatnya Romo Muji datang seperti ketukan pelan di pintu ingatan. Tidak mengagetkan, tapi membuat dada seketika penuh. Ada orang-orang yang kepergiannya tidak riuh, namun lama bergema. Romo Muji termasuk di antaranya. Minggu 28 Desember 2025, nafasnya terhenti, untuk yang terakhir kali.
Romo Muji membaca judulnya, lalu tersenyum tipis. Dengan suara halus—nyaris seperti berbisik—ia berkata bahwa judul itu sudah terlalu akrab di telinga publik. “Sudah ada lagunya,” katanya, tanpa nada menggurui. Ia tidak menyuruh, tidak memaksa. Hanya menyarankan. Dari pertemuan singkat itu, lahirlah judul baru: Sucinya Cinta Sungai Gangga. Sebuah judul yang lebih sunyi, lebih dalam. Sampai hari ini, saya masih menyimpan momen itu sebagai hadiah kecil dari seorang guru.

Di kelas, Romo Muji bukan pengajar yang gemar berisik. Ia tidak perlu meninggikan suara untuk menegaskan wibawa. Matanya bekerja lebih keras daripada suaranya. Mata itu—tajam tapi teduh—selalu memantau seluruh mahasiswa, seolah tidak ada satu pun yang luput dari perhatiannya.
Saya pernah merasakannya langsung.
Suatu siang, ketika ia mengajar sastra, kantuk datang menyerang tanpa permisi. Kepala saya terangguk-angguk, pikiran melayang entah ke mana. Tiba-tiba nama saya dipanggil. Jantung saya seperti jatuh ke lantai. Ia meminta saya maju dan menulis sebuah puisi.
Saya terperanjat. Kantuk mendadak buyar, berganti panik. Di hadapan kelas, saya hanya mampu mencoret-coret kata seadanya—sebuah puisi yang lahir dari sisa kesadaran. Romo Muji tersenyum melihatnya. Senyum yang tidak menghakimi, tidak pula mengejek. Seolah ia ingin berkata: sastra bukan soal sempurna, tapi soal kehadiran.
Kini, Romo Muji telah pergi. Tapi kelas itu rasanya belum benar-benar usai. Tatapan matanya masih terasa—memanggil kita yang lengah, yang hampir tertidur dalam rutinitas hidup, untuk kembali terjaga. Seperti saat ia memanggil nama saya di kelas sastra itu.
Selamat jalan, Romo Muji.
Semoga nyaman dalam keabadian.
Pelajaran Anda masih bekerja—diam-diam—di banyak kepala dan hati yang pernah Anda sentuh.***
Duren Sawit – 2026



