Menu

Mode Gelap
Indra Adhari Rilis ‘Lima Tahun’ Dimomen HUT RI: September Rilis Single di Label Internasional Malaysia! AHY Inginkan Pimpinan Demokrat Yang Efektif Dan Berdampak Nyata Bagi Masyarakat  Masyarakat Beutong Ateuh Banggalang Ingin Merdeka di Tanah Sendiri dengan Menolak Tambang Perusak Alam KAI Perkuat Safety at Scale di Tengah Pertumbuhan Pelanggan 8,32 Persen Dikpol di Bojonggede, Haji Fikri Kenalkan PKS sebagai Partai Islam Rahmatan Lil ‘Alamin Jakarta Butuh Hub Logistik

RAGAM

Catatan Halimah Munawir: Mengenang Romo Muji yang Telah Pergi

badge-check


 Catatan Halimah Munawir: Mengenang Romo Muji yang Telah Pergi Perbesar

Wartatrans.com, KOLOM — Kabar wafatnya Romo Muji datang seperti ketukan pelan di pintu ingatan. Tidak mengagetkan, tapi membuat dada seketika penuh. Ada orang-orang yang kepergiannya tidak riuh, namun lama bergema. Romo Muji termasuk di antaranya. Minggu 28 Desember 2025, nafasnya terhenti, untuk yang terakhir kali.

Masih teringat ketika saya bertemu beliau di asrama STF Driyarkara. Saya datang bukan sebagai mahasiswa yang hendak kuliah, melainkan penulis yang sedang ragu. Di tangan saya ada sebuah novel—waktu itu masih berjudul The Power of Love. Saya meminta pendapatnya, sekadar memastikan apakah cerita itu layak diteruskan.

Romo Muji membaca judulnya, lalu tersenyum tipis. Dengan suara halus—nyaris seperti berbisik—ia berkata bahwa judul itu sudah terlalu akrab di telinga publik. “Sudah ada lagunya,” katanya, tanpa nada menggurui. Ia tidak menyuruh, tidak memaksa. Hanya menyarankan. Dari pertemuan singkat itu, lahirlah judul baru: Sucinya Cinta Sungai Gangga. Sebuah judul yang lebih sunyi, lebih dalam. Sampai hari ini, saya masih menyimpan momen itu sebagai hadiah kecil dari seorang guru.

Di kelas, Romo Muji bukan pengajar yang gemar berisik. Ia tidak perlu meninggikan suara untuk menegaskan wibawa. Matanya bekerja lebih keras daripada suaranya. Mata itu—tajam tapi teduh—selalu memantau seluruh mahasiswa, seolah tidak ada satu pun yang luput dari perhatiannya.

Saya pernah merasakannya langsung.
Suatu siang, ketika ia mengajar sastra, kantuk datang menyerang tanpa permisi. Kepala saya terangguk-angguk, pikiran melayang entah ke mana. Tiba-tiba nama saya dipanggil. Jantung saya seperti jatuh ke lantai. Ia meminta saya maju dan menulis sebuah puisi.

Saya terperanjat. Kantuk mendadak buyar, berganti panik. Di hadapan kelas, saya hanya mampu mencoret-coret kata seadanya—sebuah puisi yang lahir dari sisa kesadaran. Romo Muji tersenyum melihatnya. Senyum yang tidak menghakimi, tidak pula mengejek. Seolah ia ingin berkata: sastra bukan soal sempurna, tapi soal kehadiran.
Kini, Romo Muji telah pergi. Tapi kelas itu rasanya belum benar-benar usai. Tatapan matanya masih terasa—memanggil kita yang lengah, yang hampir tertidur dalam rutinitas hidup, untuk kembali terjaga. Seperti saat ia memanggil nama saya di kelas sastra itu.
Selamat jalan, Romo Muji.

Semoga nyaman dalam keabadian.
Pelajaran Anda masih bekerja—diam-diam—di banyak kepala dan hati yang pernah Anda sentuh.***

Duren Sawit – 2026

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

AHY Inginkan Pimpinan Demokrat Yang Efektif Dan Berdampak Nyata Bagi Masyarakat 

30 Agustus 2026 - 23:31 WIB

Masyarakat Beutong Ateuh Banggalang Ingin Merdeka di Tanah Sendiri dengan Menolak Tambang Perusak Alam

30 Agustus 2026 - 23:12 WIB

Dikpol di Bojonggede, Haji Fikri Kenalkan PKS sebagai Partai Islam Rahmatan Lil ‘Alamin

30 Agustus 2026 - 19:47 WIB

Suroto Ketua RW 06 Cengbar Jakbar: Bangun Kepedulian dan Kebersamaan Warga Dengan Semangat Kemerdekaan

30 Agustus 2026 - 13:52 WIB

Pedang, Amanah, dan Marwah Linge

30 Agustus 2026 - 10:00 WIB

Manusia Di Antara Dua Setan 

30 Agustus 2026 - 08:25 WIB

BNN Kabupaten Gianyar Meriahkan Peringatan Hari Pramuka ke-65 melalui Pameran UMKM, Expo dan Panggung Kreatif, 50 Anggota Pramuka di Tes Urin

29 Agustus 2026 - 18:20 WIB

Agnez Mo Inspirasi Perdana di Indonesia Berkarya Besutan InJourney Airports

29 Agustus 2026 - 16:33 WIB

Sumber Air Baku IPA Kudu Menurun, Pelanggan PDAM di Semarang Diminta Siaga

29 Agustus 2026 - 15:12 WIB

Dua Dekade Menghidupkan Kembali Suara Radio Rimba Raya

29 Agustus 2026 - 11:51 WIB

Trending di RAGAM