Wartatrans.com, JAKARTA — Pencanangan Mei sebagai Bulan Ismail Marzuki akan ditandai dengan konferensi pers yang menghadirkan sejumlah tokoh budaya dan nasional di Jakarta. Dari deretan pembicara yang dijadwalkan hadir, sosok Neno Warisman menjadi perhatian utama karena perannya sebagai Tenaga Ahli Menteri Kebudayaan RI.
Kehadiran Neno dinilai memiliki arti strategis dalam mendorong penguatan dukungan negara terhadap pelestarian karya dan pemikiran . Dalam forum tersebut, ia diharapkan menyampaikan pandangan sekaligus komitmen pemerintah terhadap pengembangan kebudayaan nasional yang berbasis pada warisan tokoh-tokoh besar bangsa.

Konferensi pers ini akan digelar pada Selasa, 12 Mei 2026, di Auditorium Ki Nartosabdho, Gedung MURI/Jaya Suprana Institute, Kelapa Gading, Jakarta Timur. Kegiatan ini merupakan inisiatif yang menggagas pencanangan Bulan Ismail Marzuki sebagai bentuk penghormatan terhadap kiprah sang komponis legendaris.
Selain Neno Warisman, acara ini juga akan menghadirkan , budayawan sekaligus pendiri Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) Kaya Suprana, dan budayawan Betawi Chairil Gibran Ramadhan (CGR). Diskusi akan mengulas kehidupan dan karya Ismail Marzuki serta langkah-langkah konkret untuk menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangannya melalui pendekatan kreatif.
Salah satu agenda penting dalam kegiatan tersebut adalah pengenalan sampul buku skenario biopik berjudul Ismail Marzuki: Nada, Cinta, Bangsa, karya Chairil Gibran Ramadhan. Proyek ini juga diharapkan mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan RI agar dapat direalisasikan dalam bentuk film bersama Padasan Pictures.
Pernyataan dan sikap yang disampaikan Neno Warisman dalam forum ini akan menjadi indikator penting arah dukungan pemerintah terhadap program tersebut. “Peran Neno sangat krusial karena ia berada di titik temu antara gagasan kultural dan kebijakan negara,” ungkap Jaya Suprana.
Dengan demikian, konferensi pers ini tidak hanya menjadi ruang publikasi, tetapi juga momentum konsolidasi antara pelaku budaya dan pemerintah. Harapannya, pencanangan Bulan Ismail Marzuki dapat menjadi gerakan bersama dalam merawat ingatan kolektif bangsa melalui karya seni dan budaya.*** (PG)
























