Menu

Mode Gelap
Rumah Budaya HMA, Diplomasi Sastra dan Budaya, Merawat Harmoni Indonesia–Mesir Proliga 2026 Pekan ke 6 Bojonegoro Mengerucutkan Tim Peserta Babak Final Four Menhub Dudy Sebut Banten Berpotensi Jadi Daerah Lintasan Padat Jawa-Sumatera Ratusan Warga Tonton Film NOEH (Pasung) di RSJ Aceh, Hujan Tak Surutkan Ikhtiar Lawan Stigma ODGJ Citilink Buka 2 Rute Baru Menuju Sumatera via Bandara Halim Sukses Kelola Komunikasi Berdampak, PNM Raih Tiga Penghargaan PR Indonesia Awards 2026

RAGAM

Daio Pakuan Pajajaran: Ibu Kota Kerajaan Sunda yang Hilang dari Peta

badge-check


 Daio Pakuan Pajajaran: Ibu Kota Kerajaan Sunda yang Hilang dari Peta Perbesar

Oleh: Taufik Hassunna

___________

BOGOR — Di balik rimbun hutan tropis Jawa Barat, sejarah mencatat pernah berdiri sebuah kota besar yang menjadi pusat kekuasaan, ekonomi, dan spiritualitas Kerajaan Sunda: Daio atau Pakuan Pajajaran. Kota kuno yang kini diyakini berada di wilayah Kota Bogor itu disebut sebagai “kota besar berpenduduk 50.000 jiwa” oleh penjelajah Portugis abad ke-16, Tomé Pires. Namun, kejayaan Pakuan memudar, dan kota itu perlahan hilang dari peta sejarah.

Naskah-naskah kuno Sunda seperti Bujangga Manik, Carita Parahyangan, dan Siksakanda Ng Karesian, serta penelitian modern yang dilakukan oleh Saleh Danasasmita, Budimansyah, dan tim riset Lembur Sawah, kini membantu membuka kembali tabir kehidupan kota yang pernah menjadi jantung Kerajaan Sunda tersebut.

Jantung Kekuasaan di Tanah Sunda

Pakuan berperan sebagai pusat pemerintahan kerajaan. Bujangga Manik menggambarkan kota ini sebagai mandala suci yang dilengkapi benteng pertahanan, delapan gerbang, serta kabuyutan — tempat-tempat suci yang mengitari istana raja.

Raja atau Prabu memegang kekuasaan tertinggi. Menurut sejarawan Saleh Danasasmita, Pakuan adalah sumber kewibawaan politik Kerajaan Sunda, dengan pengaruh yang memancar ke wilayah-wilayah lain. Prabu Surawisesa tercatat aktif melakukan diplomasi, termasuk menjalin hubungan dengan Portugis untuk mempertahankan stabilitas kerajaan.

Penelitian Budimansyah (2019) menegaskan bahwa Pakuan merupakan kota yang terencana dengan baik. Ia menyebut adanya pasar sebagai pusat ekonomi, ruang pendidikan dan peribadatan, gerbang-gerbang kota strategis, hingga hutan kota yang berfungsi sebagai penyangga ekologi.

Perekonomian Pakuan yang Bergairah

Sebagai pusat kerajaan, Pakuan menjadi simpul distribusi berbagai hasil bumi, terutama lada hitam — komoditas utama yang diekspor melalui pelabuhan Banten dan Sunda Kelapa.

Kehidupan ekonomi Pakuan diperkuat oleh beragam mata pencaharian rakyat, mulai dari petani, pengrajin, hingga pedagang yang memadati pasar. Sistem mata uang di kota ini menunjukkan keterhubungan dengan jaringan perdagangan internasional. Picis Cina digunakan untuk transaksi harian, emas Talin untuk transaksi besar, hingga Peso Spanyol yang menandai masuknya pengaruh global.

Riset arkeologis Lembur Sawah di Mulyaharja, Bogor Selatan, memperkuat gambaran ini. Mereka menemukan indikasi adanya lumbung padi dan kanal irigasi yang diduga berfungsi sebagai penopang logistik ibu kota.

Harmoni Sosial dan Spiritualitas

Penduduk Pakuan hidup dalam tatanan sosial yang dipandu nilai-nilai Sunda Wiwitan dan ajaran moral Siksakanda Ng Karesian. Falsafah silih asih, silih asah, silih asuh menjadi landasan harmoni sosial.

Catatan Tomé Pires menyebut orang Sunda sebagai pribadi yang jujur dan pemberani. Kehidupan di Pakuan juga diwarnai upacara adat, musik tradisional, dan budaya gotong-royong yang kuat. Berbagai gambaran dalam pantun Sunda menegaskan kekayaan budaya dan spiritualitas masyarakatnya.

Keruntuhan Pakuan dan Hilangnya Sebuah Peradaban

Pada abad ke-16, ancaman dari Kesultanan Demak dan Banten semakin menekan posisi Kerajaan Sunda. Aliansi dengan Portugis pada tahun 1522 tidak berjalan efektif, dan pada 1527 Sunda Kelapa jatuh ke tangan Fatahillah.

Puncak kejatuhan Pakuan terjadi pada 1579 ketika Kesultanan Banten menyerang dan menaklukkan kota tersebut. Carita Parahyangan mencatat kehancuran besar ini, yang juga dianalisis oleh Danasasmita sebagai hasil dari perebutan kendali perdagangan lada dan konflik ideologi.

Pakuan dibakar habis. Catatan Eropa akhir abad ke-17 menyebutkan bahwa tidak ada lagi bangunan megah yang tersisa, termasuk keraton kerajaan. Kota itu ditinggalkan, warganya mengungsi, dan jejak fisiknya perlahan lenyap ditelan alam.

Bangkit dalam Kajian Sejarah

Meski fisiknya hilang, warisan Pakuan tetap hidup dalam budaya Sunda. Berbagai penelitian modern mencoba merekonstruksi kembali gambaran kota ini.

Upaya akademis dari Budimansyah dan temuan lapangan oleh tim Lembur Sawah di Bogor memberi harapan baru untuk memahami bentuk dan struktur ibu kota yang hilang tersebut.

Dari abu kehancuran tahun 1579, Pakuan kembali hadir—setidaknya dalam kajian sejarah—sebagai pengingat akan kejayaan sebuah peradaban yang pernah berdiri megah di Tatar Sunda.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Rumah Budaya HMA, Diplomasi Sastra dan Budaya, Merawat Harmoni Indonesia–Mesir

16 Februari 2026 - 19:18 WIB

Ratusan Warga Tonton Film NOEH (Pasung) di RSJ Aceh, Hujan Tak Surutkan Ikhtiar Lawan Stigma ODGJ

16 Februari 2026 - 14:38 WIB

Sukses Kelola Komunikasi Berdampak, PNM Raih Tiga Penghargaan PR Indonesia Awards 2026

16 Februari 2026 - 14:24 WIB

MADEENA & Jagawana Band Ramaikan Blantika Musik Tanah Air Lewat Single “CANDU”

16 Februari 2026 - 10:44 WIB

Sesuaikan Selera Jemaah Haji, Kemenhaj Pastikan Standar Dapur di Makkah Bercita Rasa Nusantara

16 Februari 2026 - 09:22 WIB

Trending di NASIONAL