Menu

Mode Gelap
Stasiun Bogor Tertinggi Layani Penumpang KRL Semester I 2026, KAI Kebut Pengembangan Peron untuk 12 Kereta Pelita Air dan Patra Hotels Hadirkan PASPlus, bikin Libur Sekolah Makin Asik Hindari Bom Waktu Sampah, Jakarta Siapkan Tarif Bayar Sesuai Beban  Dilema Timnas di ASEAN Cup 2026, Berburu Gengsi Juara atau Jebakan Ranking Ribuan Ojol Antre KPR DP 0%: Janji Gacor Perumahan Informal  Halimah Munawir Podcast Roadshow Hadir di Symphony & Harmony IWAPI DKI Jakarta

RAGAM

Rumah Budaya HMA, Diplomasi Sastra dan Budaya, Merawat Harmoni Indonesia–Mesir

badge-check


 Rumah Budaya HMA, Diplomasi Sastra dan Budaya, Merawat Harmoni Indonesia–Mesir Perbesar

Wartatrans.com, BOGOR — Diplomasi melalui sastra dan budaya kembali ditegaskan sebagai jembatan keindahan untuk merawat keharmonisan antarnegara. Mesir, yang dikenal luas sebagai salah satu pusat peradaban dunia Arab, telah melahirkan banyak sastrawan berkelas internasional. Salah satunya adalah Naguib Mahfouz, penerima Hadiah Nobel Sastra pada 1988 atas karya-karyanya yang kuat merekam denyut sosial Mesir modern.

Selain sastra, Mesir juga memiliki tradisi seni pertunjukan yang mapan. Cairo Opera House, yang berdiri di kawasan Zamalek sejak 1988, menjadi pusat seni pertunjukan kelas dunia. Gedung ini rutin menampilkan opera, balet, serta musik Arab dan internasional, menegaskan posisi Mesir sebagai poros kebudayaan global.

Hubungan kebudayaan Indonesia–Mesir sendiri bukanlah hal baru. Fondasi persahabatan kedua negara telah terjalin sejak masa pemerintahan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Sejarah panjang ini dinilai perlu terus dirawat dan diperkuat melalui kolaborasi nyata para penggiat seni dan budaya.

Harapan itu disampaikan Halimah Munawir, pemilik Rumah Budaya HMA, seusai kegiatan sosialisasi yang digelar Atase Pendidikan dan Kebudayaan Mesir, Abdul Mutaiali, di Rumah Budaya HMA, kawasan Puncak, Kabupaten Bogor.

Menurut Halimah, diplomasi kebudayaan tidak boleh berhenti pada seremoni. Ia berharap pemerintah kedua negara memberi perhatian lebih untuk menggiatkan kembali “titian muhibah” seni dan budaya antara Indonesia dan Mesir. “Pertukaran seniman, sastrawan, dan program kebudayaan bersama penting untuk menjaga silaturahmi, mempererat persahabatan, sekaligus mempromosikan kekayaan budaya masing-masing negara,” ujarnya.

Melalui jalur sastra dan budaya, Indonesia dan Mesir dinilai memiliki ruang luas untuk terus berdialog—tanpa sekat politik—demi harmoni yang berkelanjutan di antara dua bangsa dengan sejarah dan peradaban besar.*** (PG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Hindari Bom Waktu Sampah, Jakarta Siapkan Tarif Bayar Sesuai Beban 

4 Juli 2026 - 06:38 WIB

Halimah Munawir Podcast Roadshow Hadir di Symphony & Harmony IWAPI DKI Jakarta

3 Juli 2026 - 21:59 WIB

Perkuat Kualitas Layanan, IPCC Gelar Management Walkthrough di Terminal Satelit Banjarmasin

3 Juli 2026 - 21:05 WIB

Sapuan Kuas Jadi Wasiat Budaya, Perhelatan Mural #Sinergi Sukowati 2 Digelar di Sragen

3 Juli 2026 - 20:00 WIB

Masyarakat Beutong Ateuh Menjaga Warisan Alam, Sejahtera Karena Hutan Bukan Tambang

3 Juli 2026 - 15:29 WIB

Bagian dari Ekosistem Astra, FIFGROUP Perkuat Pemberdayaan Masyarakat melalui Desa Sejahtera Astra

3 Juli 2026 - 15:14 WIB

Pelindo Terminal Petikemas Berikan Wajah Baru Sarana Publik Masyarakat Ring 1 Terminal Teluk Lamong

3 Juli 2026 - 14:24 WIB

Pengoperasian QCC 004 Perkuat Daya Saing Pelabuhan Panjang sebagai Gerbang Logistik Sumatera

3 Juli 2026 - 13:35 WIB

13 Tahun, Mengabdi Direktur Ernawati Komit Bawa PT CMN Melayani Sepenuh Hati

3 Juli 2026 - 12:41 WIB

Cost Sharing ala Carpooling: Solusi Atasi Kemacetan, Biaya Energi dan Emisi Karbon

3 Juli 2026 - 12:28 WIB

Trending di RAGAM