Menu

Mode Gelap
Dua Dekade Menghidupkan Kembali Suara Radio Rimba Raya PTDI Naikkan Produksi Pesawat N219 12 Unit Setahun Pemprov DKI Jakarta Tawarkan 37 Proyek Senilai Rp115 Triliun Terus Dukung Pemulihan NTT, Kemenhub dan PT Meratus Salurkan Bantuan League Cup 2026 Tambah Laga, Kompetisi Indonesia Hadapi Tantangan Kalender dan Geografi Operator Bus Listrik Terbanyak di Indonesia, DAMRI Operasikan 316 Unit Bus Listrik untuk Layanan Transjakarta

RAGAM

Rumah Budaya HMA, Diplomasi Sastra dan Budaya, Merawat Harmoni Indonesia–Mesir

badge-check


 Rumah Budaya HMA, Diplomasi Sastra dan Budaya, Merawat Harmoni Indonesia–Mesir Perbesar

Wartatrans.com, BOGOR — Diplomasi melalui sastra dan budaya kembali ditegaskan sebagai jembatan keindahan untuk merawat keharmonisan antarnegara. Mesir, yang dikenal luas sebagai salah satu pusat peradaban dunia Arab, telah melahirkan banyak sastrawan berkelas internasional. Salah satunya adalah Naguib Mahfouz, penerima Hadiah Nobel Sastra pada 1988 atas karya-karyanya yang kuat merekam denyut sosial Mesir modern.

Selain sastra, Mesir juga memiliki tradisi seni pertunjukan yang mapan. Cairo Opera House, yang berdiri di kawasan Zamalek sejak 1988, menjadi pusat seni pertunjukan kelas dunia. Gedung ini rutin menampilkan opera, balet, serta musik Arab dan internasional, menegaskan posisi Mesir sebagai poros kebudayaan global.

Hubungan kebudayaan Indonesia–Mesir sendiri bukanlah hal baru. Fondasi persahabatan kedua negara telah terjalin sejak masa pemerintahan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Sejarah panjang ini dinilai perlu terus dirawat dan diperkuat melalui kolaborasi nyata para penggiat seni dan budaya.

Harapan itu disampaikan Halimah Munawir, pemilik Rumah Budaya HMA, seusai kegiatan sosialisasi yang digelar Atase Pendidikan dan Kebudayaan Mesir, Abdul Mutaiali, di Rumah Budaya HMA, kawasan Puncak, Kabupaten Bogor.

Menurut Halimah, diplomasi kebudayaan tidak boleh berhenti pada seremoni. Ia berharap pemerintah kedua negara memberi perhatian lebih untuk menggiatkan kembali “titian muhibah” seni dan budaya antara Indonesia dan Mesir. “Pertukaran seniman, sastrawan, dan program kebudayaan bersama penting untuk menjaga silaturahmi, mempererat persahabatan, sekaligus mempromosikan kekayaan budaya masing-masing negara,” ujarnya.

Melalui jalur sastra dan budaya, Indonesia dan Mesir dinilai memiliki ruang luas untuk terus berdialog—tanpa sekat politik—demi harmoni yang berkelanjutan di antara dua bangsa dengan sejarah dan peradaban besar.*** (PG)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Dua Dekade Menghidupkan Kembali Suara Radio Rimba Raya

29 Agustus 2026 - 11:51 WIB

Radio Rimba Raya Resmi Ditetapkan Sebagai Situs Cagar Budaya

28 Agustus 2026 - 21:24 WIB

Kunjungi Green Port Terminal Teluk Lamong, Kemenhub Apresiasi Komitmen TTL Wujudkan Net Zero Emission 2060

28 Agustus 2026 - 21:04 WIB

Pelindo Regional 2 Banten Perkuat Kolaborasi dengan Pengguna Jasa melalui Voice of Customer

28 Agustus 2026 - 20:11 WIB

Dinsos Tolak Ajuan Keringanan Pasien Miskin Non BPJS di RS dr. Slamet Garut 

28 Agustus 2026 - 18:36 WIB

Ketua DEN Minta Perbaikan Program MBG Lewat Digitalisasi

28 Agustus 2026 - 14:26 WIB

“Jakarta Kulminasi”, Lima Bola Besar Tandai Momentum 500 Tahun Jakarta

28 Agustus 2026 - 13:29 WIB

Pemerintah Dorong Industri Baterai Nikel, MOLINAS Masuk Rantai Hilirisasi

28 Agustus 2026 - 13:16 WIB

Film Black Coffee Angkat Perjuangan Tunanetra dan Budaya Gayo ke Layar Lebar

28 Agustus 2026 - 12:19 WIB

KIP Dorong Keterbukaan Informasi Tak Sekadar Predikat Informatif

28 Agustus 2026 - 08:49 WIB

Trending di RAGAM