Wartatrans.com, JAKARTA — Seniman Aceh Putra Gara akan melelang dua karya lukisnya dalam acara Malam Doa dan Kemanusiaan untuk Aceh yang digelar di Selasar Trisno Sumardjo, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Jumat (26/12/2025). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI) bekerja sama dengan Desember Kopi Gayo, serta didukung Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan Jakpro.
Ketua Bidang Sastra HSBI, Helvy Tiana Rosa, mengatakan acara ini dirancang sebagai ruang pertemuan antara spiritualitas, kebudayaan, dan aksi kemanusiaan. Peringatan 21 tahun tsunami Aceh, menurut dia, tidak semata menjadi ritual tahunan, melainkan upaya menjaga empati publik agar tetap hidup.

“Seni tidak hanya berfungsi estetik, tetapi juga memiliki peran sosial dan moral. Kegiatan ini lahir dari dorongan nurani kolektif,” ujar Helvy.
Putra Gara, yang juga Wakil Ketua Bidang Sastra HSBI, menyebut dua karya yang dilelang berjudul “Mari Kita Jaga Keindahan Alam Kita” dan “Laskar Pemulung”. Seluruh hasil lelang akan disalurkan untuk kepentingan kemanusiaan.

Keindahan Alam karya Putra Gara
Menurut Putra Gara, lukisan tentang keindahan alam menjadi pengingat bahwa alam diciptakan Tuhan dengan kesempurnaan dan keindahan, namun kerap dirusak oleh perilaku manusia.
“Bencana yang terjadi di berbagai tempat adalah akibat dari rusaknya keseimbangan alam,” ujarnya.
Sementara itu, karya Laskar Pemulung merefleksikan ekosistem sosial yang sejatinya telah berjalan. Kehadiran pemulung, kata Putra Gara, menjadi bagian penting dalam memilah dan membersihkan sampah yang dihasilkan manusia.
“Namun kerakusan manusia kembali melukai alam. Alam yang terluka itulah yang kemudian ‘menangis’ lewat bencana,” katanya.
Ketua Pelaksana kegiatan, Devie Matahari, menyebut Malam Doa dan Kemanusiaan untuk Aceh sebagai gerak spontan dari kepedulian bersama.
“Seni dan sastra kami jadikan medium untuk berdoa, mengenang, sekaligus merawat kemanusiaan,” ujar Devie.
Acara akan dibuka dengan doa bersama yang dipimpin Erick Yusuf, Wakil Sekretaris Jenderal DPP MUI Bidang Seni Budaya. Setelah itu, panggung diisi parade baca puisi oleh sastrawan, penulis, aktor, dan pegiat budaya lintas generasi, antara lain Habiburrahman El Shirazy, Neno Warisman, Helvy Tiana Rosa, Fikar W. Eda, Putra Gara, D. Kemalawati, serta aktor Cut Syifa dan Nabilah Ayu.
Refleksi kemanusiaan juga diperkuat melalui testimoni maestro seni Sardono W. Kusumo, yang menekankan peran seni sebagai pengikat empati publik dan sarana menembus sekat sosial serta ideologis.
Nuansa Aceh hadir melalui pembacaan Hikayat Aceh oleh Mahfudh, sementara seni rupa ditampilkan lewat sesi live painting oleh Fadhlan Bachtiar dan Ramadhany Anastasya. Dari unsur musik dan teater, sejumlah komunitas seni turut berkolaborasi, menghadirkan musikalisasi puisi dan pertunjukan lintas disiplin.
Selain pertunjukan seni, acara ini juga menghadirkan aksi konkret berupa lelang buku dan lukisan. Hasilnya akan disalurkan secara transparan untuk kegiatan kemanusiaan sekaligus mendukung keberlanjutan ekosistem seniman.
Putra Gara menegaskan, peringatan tsunami Aceh harus dimaknai sebagai upaya merawat solidaritas lintas generasi.
“Mengenang bencana bukan hanya soal masa lalu, tetapi tentang menjaga empati agar tetap relevan hari ini dan di masa depan,” ujarnya.***(Fahmi)










