Menu

Mode Gelap
KA Batara Kresna Jadi Pilihan Wisata Akhir Pekan dari Solo ke Wonogiri, Tarif Rp4.000 KAI Wisata Gandeng Jakarta Infrastruktur Propertindo, Hadirkan Integrasi Transportasi Wisata dan Media Iklan Digital Meningkat, Pengguna Commuter Line Jabodetabek Tembus 86,8 Juta pada Triwulan I 2026 Dica Melo Sukses Sebagai Brand Ambassador, Kembali Dikontrak Meinl. Jumat Berkah di Tanjung Priok: Wujud Kepedulian Polri Pererat Silaturahmi dengan Masyarakat KA Blora Jaya Tumbuh 72,76% pada Triwulan I 2026, Perjalanan yang Menghubungkan Harapan Banyak Masyarakat

PERISTIWA

Sanggar Seni Surawisesa Gelar Diskusi Nasab Leluhur Awali Tahun 2026

badge-check


 Sanggar Seni Surawisesa Gelar Diskusi Nasab Leluhur Awali Tahun 2026 Perbesar

Wartatrans.com, BOGOR — Sanggar Seni Surawisesa bersama para pemerhati sejarah menggelar diskusi tentang nasab dan silsilah leluhur di Sekretariat Sanggar Seni Surawisesa, Karadenan, Cibinong, Kabupaten Bogor, Kamis (1/1/2026).

Diskusi yang berlangsung santai tersebut menjadi agenda pembuka awal tahun 2026, sekaligus upaya melihat progres dan arah kegiatan sanggar ke depan dengan menelusuri kembali akar sejarah para leluhur.

“Mengawali awal tahun ini, kami ingin melihat progres giat ke depan. Salah satunya dengan mengadakan diskusi santai terkait silsilah atau nasab para leluhur kita,” ungkap Ketua Yayasan Seni Budaya Surawisesa, Rd. Dadang Supadma.

Dadang menjelaskan, wilayah Karadenan dan sekitarnya diyakini memiliki keterkaitan erat dengan masa kekuasaan Prabu Surawisesa. Hal tersebut menjadi alasan mengapa di daerah itu banyak masyarakat yang menyandang gelar Raden.

Menurutnya, penggunaan gelar tersebut tidak dimaknai sebagai simbol status sosial, melainkan sebagai bentuk penghormatan dan pelestarian sejarah leluhur.

“Gelar Raden hanya sebagai bentuk penghargaan kita kepada leluhur yang telah mewariskan silsilah tersebut. Tidak ada maksud lain, kecuali sebagai upaya pelestarian,” jelasnya.

Meski kejayaan masa silam telah berlalu, Dadang menyebut sejumlah jejak sejarah masih dapat dijumpai di kawasan tersebut. Di antaranya museum keris dan pusaka peninggalan era kerajaan, serta sebuah masjid yang diyakini sebagai masjid tertua di wilayah Bogor.

“Karena itulah kita berkumpul hari ini, untuk menemukan benang merah dan kejujuran silsilah dari berbagai daerah yang masih sejalur dengan sejarah Muara Beres dan Prabu Siliwangi,” ujarnya.

Diskusi ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman sejarah lokal, sekaligus memperkuat kesadaran generasi muda terhadap pentingnya menjaga dan merawat warisan budaya serta nilai-nilai leluhur.*** (Septi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

FIFASTRA Raih Silver WOW Brand 2026 Kategori Motorcycle Leasing

17 April 2026 - 14:49 WIB

Maret 2026, IPC TPK Jambi Catat Pertumbuhan Arus Peti Kemas 22,5 Persen

17 April 2026 - 14:10 WIB

360 PPIH Daker Madinah Siap Sukseskan Haji 2026

17 April 2026 - 12:15 WIB

Panen Melimpah Pasca Bencana, Petani Kopi Gayo Kekurangan Buruh Petik

17 April 2026 - 11:31 WIB

Bersama Rumah Aksara, Guru SMA Asah Kompetensi Menulis di Perpustakaan Bogor

17 April 2026 - 11:04 WIB

Helikopter Jatuh di Sekadau, Seluruh Penumpang Dilaporkan Tewas

17 April 2026 - 10:42 WIB

Pemulihan Pascabencana Aceh Didorong Terintegrasi, Dana Rp 824,8 Miliar Disiapkan

16 April 2026 - 20:01 WIB

Tokoh Pemuda Aceh di Jakarta Soroti Lambannya Penanganan Bencana

16 April 2026 - 18:39 WIB

Kajati Sulteng Kunker ke Tolitoli, Resmikan Mess Kejari Hasil Hibah Pemda

16 April 2026 - 16:40 WIB

HBH Seusama Jadi Momentum Penggalangan Dana Balai Pengajian, Kegiatan Digelar di Jakarta dan Aceh

16 April 2026 - 14:09 WIB

Trending di RAGAM