Menu

Mode Gelap
Wisatawan Asing Makin Gemar Naik Kereta, KAI Layani 308 Ribu Penumpang Mancanegara pada Semester I 2026 Walikota Langsa Rombak Kabinet Secara Besar besaran  Diskusi Seni Ruang Publik Soroti Minimnya Regulasi dan Pentingnya Budaya sebagai Identitas Kota 38 Persen Transaksi QRIS Nasional Terpusat di Jakarta, Jadi Motor Ekonomi Sekaligus Sinyal Ketimpangan Digital 35 Negara dan Indonesia Adopsi Registrasi Biometrik, Pengamat: Tak Kebal Penipuan Bayi Ditemukan di Toilet KA Sancaka, KAI Daop 6 dan KAI Services Bergerak Cepat Lakukan Penanganan

RAGAM

Panen Melimpah Pasca Bencana, Petani Kopi Gayo Kekurangan Buruh Petik

badge-check


 Panen Melimpah Pasca Bencana, Petani Kopi Gayo Kekurangan Buruh Petik Perbesar

Wartatrans.com, ACEH TENGAH — Fenomena tak biasa terjadi di wilayah dataran tinggi Gayo pasca bencana hidrometeorologi yang melanda beberapa waktu lalu. Sejumlah komoditas pertanian justru mengalami peningkatan hasil panen secara signifikan, mulai dari durian hingga kopi.

Sebelumnya, komoditas durian lebih dulu menunjukkan lonjakan produksi dengan masa panen yang lebih panjang dari biasanya. Kondisi ini terpantau di sejumlah daerah penghasil durian seperti Durian Jamat, serta beberapa kampung di Kecamatan Ketol, di antaranya Bergang, Kekuyang, Bah, Pantan Reduk, dan wilayah sekitarnya.

Memasuki musim kopi, fenomena serupa kembali terjadi. Hampir seluruh wilayah penghasil kopi di dataran tinggi Gayo mengalami peningkatan produksi. Namun di balik melimpahnya hasil panen, para petani justru dihadapkan pada persoalan baru, yakni kekurangan tenaga kerja untuk memetik kopi.

Akibatnya, tidak sedikit buah kopi yang terpaksa dibiarkan rontok karena tidak sempat dipanen.

Kondisi ini dipicu oleh panen yang terjadi secara serentak di hampir semua wilayah, sehingga petani lebih fokus mengelola kebunnya masing-masing.

Di sisi lain, buruh petik kopi yang biasanya didatangkan dari luar daerah seperti Aceh Tamiang, tahun ini tidak dapat hadir karena masih terdampak bencana hidrometeorologi yang terjadi pada 26 November lalu.

Situasi ini bahkan memunculkan fenomena baru di kalangan petani, yakni dibukanya lowongan kerja buruh petik kopi secara luas, sesuatu yang sebelumnya jarang terlihat di wilayah dataran tinggi Gayo.

Meski demikian, melimpahnya hasil panen tetap menjadi berkah yang patut disyukuri. Para petani berharap pemerintah dapat hadir memberikan solusi, baik dalam hal penyediaan tenaga kerja maupun pengendalian harga, agar hasil panen yang melimpah tidak justru berdampak pada penurunan nilai jual di tingkat petani.*** (Kamaruzzaman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Walikota Langsa Rombak Kabinet Secara Besar besaran 

5 Juli 2026 - 05:24 WIB

Sebaran Abu Vulkanik Gunung Krakatau Bergerak ke Barat, Belum Berdampak pada Bandara dan Jalur Penerbangan

4 Juli 2026 - 15:09 WIB

Hindari Bom Waktu Sampah, Jakarta Siapkan Tarif Bayar Sesuai Beban 

4 Juli 2026 - 06:38 WIB

Halimah Munawir Podcast Roadshow Hadir di Symphony & Harmony IWAPI DKI Jakarta

3 Juli 2026 - 21:59 WIB

Perkuat Kualitas Layanan, IPCC Gelar Management Walkthrough di Terminal Satelit Banjarmasin

3 Juli 2026 - 21:05 WIB

Masyarakat Beutong Ateuh Menjaga Warisan Alam, Sejahtera Karena Hutan Bukan Tambang

3 Juli 2026 - 15:29 WIB

Bagian dari Ekosistem Astra, FIFGROUP Perkuat Pemberdayaan Masyarakat melalui Desa Sejahtera Astra

3 Juli 2026 - 15:14 WIB

Pelindo Terminal Petikemas Berikan Wajah Baru Sarana Publik Masyarakat Ring 1 Terminal Teluk Lamong

3 Juli 2026 - 14:24 WIB

Pengoperasian QCC 004 Perkuat Daya Saing Pelabuhan Panjang sebagai Gerbang Logistik Sumatera

3 Juli 2026 - 13:35 WIB

13 Tahun, Mengabdi Direktur Ernawati Komit Bawa PT CMN Melayani Sepenuh Hati

3 Juli 2026 - 12:41 WIB

Trending di RAGAM