Wartatrans.com, SURABAYA – Gang Bukid di Jalan Banyu Urip, Surabaya, tak pernah benar-benar sunyi. Gang sempit itu dipenuhi suara langkah bocah, teriakan pedagang, hingga deru motor yang melintas perlahan. Di tengah denyut kehidupan itulah Ani Hasan (75), seorang pelukis senior Surabaya, memilih bertahan dan merawat hidupnya lewat warna.
Di sebuah rumah sederhana dengan pagar kusam yang dililit tanaman hijau, Ani Hasan menjalani hari-harinya. Dinding rumahnya penuh retak dan noda, namun bagi Ani, setiap celah menyimpan cerita. Ia tinggal seorang diri, tetapi menolak disebut kesepian.

“Sepi itu kalau tak ada yang mau mendengar,” ujar Ani Hasan sambil menunjuk dinding dan lukisan-lukisan yang bersandar, bertumpuk, serta menggantung di berbagai sudut rumah.
Puluhan karya lukisan memenuhi ruang rumahnya. Kanvas-kanvas itu menjadi teman dialog sehari-hari bagi Ani, menggantikan keheningan dengan percakapan batin. Dari beranda hingga dapur, seni dan kehidupan menyatu. Bahkan di dekat kompor, sebuah kanvas kecil bersandar, seolah mengingatkan bahwa seni dan nasi sama-sama harus “matang” agar hidup terus berjalan.
Ani menamai rumahnya Rumah Seni Bukid, sebuah ruang yang bukan sekadar tempat belajar melukis. “Ini bukan tempat belajar melukis,” katanya. “Ini tempat belajar bertahan.”
Rumah Seni Bukid kerap menjadi persinggahan para seniman. Beberapa nama seperti Hari Prayitno, Gopla, Slamet, dan lainnya sering datang untuk berbagi tawa, kritik, dan kejujuran. Di tempat ini, tak ada sekat guru dan murid. Semua yang datang diperlakukan sebagai keluarga, belajar bersama tanpa mempersoalkan latar belakang.
Meski usianya telah menginjak 75 tahun, Ani Hasan masih aktif berpameran. Baginya, melukis adalah cara menjaga kehidupan tetap bergerak. “Selama tangan ini masih mau kotor oleh cat, dan mata ini masih berani berkelahi dengan warna,” ujarnya.
Anak-anak Ani kini tinggal jauh, sebagian di luar negeri dan sebagian di kota lain. Namun ia tak larut dalam kesedihan. “Mereka sudah jadi lukisan selesai. Tugas saya tinggal menjaga bingkainya,” ucapnya lirih.
Ani mengaku dulu takut menua dan hidup sendiri. Namun kini pandangannya berubah. “Yang menakutkan bukan tua. Yang menakutkan itu berhenti,” katanya.
Di tengah gang sempit yang tak pernah sepi, Ani Hasan memilih hidup dengan caranya sendiri. Ia tak ingin dikenang semata sebagai pelukis.
“Kalau orang bertanya siapa saya,” tuturnya pelan, “katakan saja perempuan yang memilih hidupnya sendiri.”
Gang Bukid terus berdetak. Anak-anak berlari, motor melintas, sore memanggil sore. Dan di rumah kecil itu, warna-warna tetap ribut, menolak sepi—seperti hidup Ani Hasan yang terus bertahan.***
(Herry)










