Menu

Mode Gelap
3 Pekan Sebelum Gempa M7,7, NTT Baru Perkuat Pusdalops Pascagempa, Kemen PU Pastikan Akses dan Kebutuhan Dasar di Labuan Bajo Segera Ditangani Jelang 17 Agustus, 16.913 Tiket Promo KAI Terjual, Pemesanan Long Weekend Capai 706.908 Tiket Pertamina Patra Niaga Percepat Penanganan Bencana dan Pemulihan Suplai BBM & LPG di Flores Besok, Lagu Kebangsaan Indonesia Raya Berkumandang Serentak di 37 Bandara InJourney Airports Bergerak Bersama, KMP Ile Labalekan ASDP Turut Antarkan Bantuan untuk Pulihkan NTT

SOSOK

Gang Sempit Banyu Urip, Ruang Hidup yang Tak Pernah Sepi bagi Pelukis Ani Hasan

badge-check


 Gang Sempit Banyu Urip, Ruang Hidup yang Tak Pernah Sepi bagi Pelukis Ani Hasan Perbesar

Wartatrans.com, SURABAYA – Gang Bukid di Jalan Banyu Urip, Surabaya, tak pernah benar-benar sunyi. Gang sempit itu dipenuhi suara langkah bocah, teriakan pedagang, hingga deru motor yang melintas perlahan. Di tengah denyut kehidupan itulah Ani Hasan (75), seorang pelukis senior Surabaya, memilih bertahan dan merawat hidupnya lewat warna.

Di sebuah rumah sederhana dengan pagar kusam yang dililit tanaman hijau, Ani Hasan menjalani hari-harinya. Dinding rumahnya penuh retak dan noda, namun bagi Ani, setiap celah menyimpan cerita. Ia tinggal seorang diri, tetapi menolak disebut kesepian.

“Sepi itu kalau tak ada yang mau mendengar,” ujar Ani Hasan sambil menunjuk dinding dan lukisan-lukisan yang bersandar, bertumpuk, serta menggantung di berbagai sudut rumah.

Puluhan karya lukisan memenuhi ruang rumahnya. Kanvas-kanvas itu menjadi teman dialog sehari-hari bagi Ani, menggantikan keheningan dengan percakapan batin. Dari beranda hingga dapur, seni dan kehidupan menyatu. Bahkan di dekat kompor, sebuah kanvas kecil bersandar, seolah mengingatkan bahwa seni dan nasi sama-sama harus “matang” agar hidup terus berjalan.

Ani menamai rumahnya Rumah Seni Bukid, sebuah ruang yang bukan sekadar tempat belajar melukis. “Ini bukan tempat belajar melukis,” katanya. “Ini tempat belajar bertahan.”

Rumah Seni Bukid kerap menjadi persinggahan para seniman. Beberapa nama seperti Hari Prayitno, Gopla, Slamet, dan lainnya sering datang untuk berbagi tawa, kritik, dan kejujuran. Di tempat ini, tak ada sekat guru dan murid. Semua yang datang diperlakukan sebagai keluarga, belajar bersama tanpa mempersoalkan latar belakang.

Meski usianya telah menginjak 75 tahun, Ani Hasan masih aktif berpameran. Baginya, melukis adalah cara menjaga kehidupan tetap bergerak. “Selama tangan ini masih mau kotor oleh cat, dan mata ini masih berani berkelahi dengan warna,” ujarnya.

Anak-anak Ani kini tinggal jauh, sebagian di luar negeri dan sebagian di kota lain. Namun ia tak larut dalam kesedihan. “Mereka sudah jadi lukisan selesai. Tugas saya tinggal menjaga bingkainya,” ucapnya lirih.

Ani mengaku dulu takut menua dan hidup sendiri. Namun kini pandangannya berubah. “Yang menakutkan bukan tua. Yang menakutkan itu berhenti,” katanya.

Di tengah gang sempit yang tak pernah sepi, Ani Hasan memilih hidup dengan caranya sendiri. Ia tak ingin dikenang semata sebagai pelukis.

“Kalau orang bertanya siapa saya,” tuturnya pelan, “katakan saja perempuan yang memilih hidupnya sendiri.”

Gang Bukid terus berdetak. Anak-anak berlari, motor melintas, sore memanggil sore. Dan di rumah kecil itu, warna-warna tetap ribut, menolak sepi—seperti hidup Ani Hasan yang terus bertahan.***

(Herry)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Pertamina Patra Niaga Percepat Penanganan Bencana dan Pemulihan Suplai BBM & LPG di Flores

16 Agustus 2026 - 19:56 WIB

Perayaan Hari Didong Di Musara Gayo Jabodetabek Meriah, Silvia Kim dari Korea Selatan Ikut Berdidong

16 Agustus 2026 - 16:23 WIB

Haji Fikri Ajak Masyarakat Jawa Barat Merenungi Makna Kemerdekaan ke-81, Dari Seremoni Menuju Pengabdian Nyata

16 Agustus 2026 - 15:58 WIB

Laznas ASAR Humanity Bergerak Tanggap Bencana Bersama Relawan KSATRIA di NTT

16 Agustus 2026 - 14:41 WIB

Penanganan Bencana Lambat, Hasil Bumi Dikeruk, Tapi Butir MoU Tidak Pernah Diselesaikan Pemerintah Pusat. Aceh Sudah Muak!

16 Agustus 2026 - 14:34 WIB

Semarang Terancam Rob Permanen, Tanahnya Amblas 12 Sentimeter Pertahun

16 Agustus 2026 - 14:18 WIB

Delegasi Rimba Raya Kecam Keras Insiden Pelecehan Budaya Aceh di Panggung Jamnas: “Jangan Lupakan Sejarah Aceh”

16 Agustus 2026 - 13:33 WIB

Budaya Aceh Dilecehkan di Jamnas Pramuka 2026: Lampu Panggung Dimatikan Saat Penampilan

16 Agustus 2026 - 13:00 WIB

Gempa M6,4 Simalungun Terasa hingga Aceh Tengah, Warga Berhamburan Keluar Rumah

15 Agustus 2026 - 19:41 WIB

Gubernur Jateng Ahmad Luthfi Pamer Keberhasilannya

15 Agustus 2026 - 17:51 WIB

Trending di RAGAM