Menu

Mode Gelap
Kembang Api di Jembatan Esplanade, Singapura: Harapan Baru Menyambut 2026 Presiden Tinjau Huntara Aceh Tamiang, Tegaskan Komitmen Pemerintah Tangani Dampak Bencana Sanggar Seni Surawisesa Gelar Diskusi Nasab Leluhur Awali Tahun 2026 KA Bandara Adi Soemarmo Catat Okupansi 129 Persen Selama Nataru, jadi Pilihan Utama Masyarakat Madiun Refleksi Awal Tahun, Noyo Gimbal View Dipadati Wisatawan Pelindo Berbagi Kasih di Akhir Tahun, Santuni 150 Anak Yatim Piatu di Kota Makassar

PERISTIWA

Halimah Munawir Bacakan Puisi “Diam Sangat Menyakitkan” di Malam Doa dan Kemanusiaan untuk Aceh

badge-check


					Halimah Munawir Bacakan Puisi “Diam Sangat Menyakitkan” di Malam Doa dan Kemanusiaan untuk Aceh Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA  — Sastrawan dan penyair Halimah Munawir tampil membacakan puisi dalam acara Malam Doa dan Kemanusiaan untuk Aceh yang digelar oleh Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI) berkolaborasi dengan Desember Kopi Gayo, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), dan PT Jakarta Propertindo (Jakpro), di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Jumat (26/12/2026).

Dalam suasana reflektif dan penuh empati, Halimah membacakan satu puisi karyanya berjudul “Diam Sangat Menyakitkan”, sebuah sajak yang lahir dari keprihatinan mendalam atas bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi di Aceh pada 2025. Puisi tersebut menyuarakan kritik keras terhadap keserakahan, pembabatan hutan, serta sikap diam yang dianggap turut memperpanjang penderitaan korban bencana.

Puisi itu dibuka dengan metafora getir tentang kehidupan yang tercerabut dari akarnya, lalu mengalir menjadi tudingan moral terhadap kerakusan ekonomi yang mengorbankan nyawa manusia. Halimah juga mengaitkan semangat perlawanan tokoh pahlawan nasional Aceh, Cut Nyak Dien, sebagai simbol ajakan untuk melawan perusakan alam dan ketidakadilan ekologis di masa kini.

“Kita jangan mati rasa / Diam sangat menyakitkan / Bagi nyawa-nyawa yang terkubur,” demikian penggalan penutup puisi yang dibacakan Halimah, menggema kuat di hadapan para hadirin.

Acara Malam Doa dan Kemanusiaan untuk Aceh diselenggarakan sebagai bentuk solidaritas seni dan kemanusiaan, sekaligus ruang refleksi atas krisis ekologis yang terus berulang di Tanah Rencong. Selain pembacaan puisi, kegiatan ini juga diisi dengan doa bersama dan ekspresi seni lintas disiplin.

Halimah Munawir lahir di Cirebon, 18 Januari 1964. Ia mulai menulis sejak duduk di bangku SMA dan hingga kini aktif di berbagai organisasi serta komunitas sastra dan budaya. Karyanya meliputi novel, puisi, esai, hingga karya kolaboratif yang tersebar di berbagai penerbit nasional.

Beberapa novel penting karyanya antara lain The Sinden (Gramedia, 2011), Sucinya Cinta Sungai Gangga (Gramedia, 2013), Kidung Volendam (Gramedia, 2017), PADMI (Balai Pustaka, 2023), Pada Padang Lavender (Balai Pustaka, 2024), serta Bayi Merapi (Teresia, 2025). Dalam bidang puisi, Halimah menerbitkan antologi bilingual Bayang Firdaus (2021) dan Titik Nadir (2025), serta tengah menyiapkan buku terbarunya berjudul Keagungan Kota Suci.

Melalui puisinya di TIM malam itu, Halimah kembali menegaskan posisi sastra sebagai suara nurani—bukan hanya untuk merawat ingatan atas tragedi, tetapi juga sebagai seruan agar manusia tidak lagi diam ketika kemanusiaan dan alam terus dilukai.*** (PG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kembang Api di Jembatan Esplanade, Singapura: Harapan Baru Menyambut 2026

2 Januari 2026 - 01:10 WIB

Presiden Tinjau Huntara Aceh Tamiang, Tegaskan Komitmen Pemerintah Tangani Dampak Bencana

1 Januari 2026 - 21:37 WIB

Sanggar Seni Surawisesa Gelar Diskusi Nasab Leluhur Awali Tahun 2026

1 Januari 2026 - 21:20 WIB

Refleksi Awal Tahun, Noyo Gimbal View Dipadati Wisatawan

1 Januari 2026 - 18:57 WIB

Pelindo Berbagi Kasih di Akhir Tahun, Santuni 150 Anak Yatim Piatu di Kota Makassar

1 Januari 2026 - 18:14 WIB

Trending di ANJUNGAN