Menu

Mode Gelap
Menteri Trenggono Pimpin Upacara HUT Ke-81 RI di Kampung Nelayan Merah Putih Sorue Jaya Konawe GGRM Suntik Rp200 Miliar, Bandara Dhoho Hadapi Balik Modal 26 Tahun Indonesia Alami 3 Gempa Besar dalam Sehari Hari Kemerdekaan! Ongkos Cuma Rp8 Naik MRT, LRT Jakarta, LRT Jabodebek, KRL dan Busway Security KAI Gagalkan Pencurian Kabel Grounding LRT Jabodebek Ketua KP3ALA Pusat, Prof. Rahmat Salam: Pemekaran ALA untuk Perkuat Wali Nangroe

PERISTIWA

Halimah Munawir Bacakan Puisi “Diam Sangat Menyakitkan” di Malam Doa dan Kemanusiaan untuk Aceh

badge-check


 Halimah Munawir Bacakan Puisi “Diam Sangat Menyakitkan” di Malam Doa dan Kemanusiaan untuk Aceh Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA  — Sastrawan dan penyair Halimah Munawir tampil membacakan puisi dalam acara Malam Doa dan Kemanusiaan untuk Aceh yang digelar oleh Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI) berkolaborasi dengan Desember Kopi Gayo, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), dan PT Jakarta Propertindo (Jakpro), di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Jumat (26/12/2026).

Dalam suasana reflektif dan penuh empati, Halimah membacakan satu puisi karyanya berjudul “Diam Sangat Menyakitkan”, sebuah sajak yang lahir dari keprihatinan mendalam atas bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi di Aceh pada 2025. Puisi tersebut menyuarakan kritik keras terhadap keserakahan, pembabatan hutan, serta sikap diam yang dianggap turut memperpanjang penderitaan korban bencana.

Puisi itu dibuka dengan metafora getir tentang kehidupan yang tercerabut dari akarnya, lalu mengalir menjadi tudingan moral terhadap kerakusan ekonomi yang mengorbankan nyawa manusia. Halimah juga mengaitkan semangat perlawanan tokoh pahlawan nasional Aceh, Cut Nyak Dien, sebagai simbol ajakan untuk melawan perusakan alam dan ketidakadilan ekologis di masa kini.

“Kita jangan mati rasa / Diam sangat menyakitkan / Bagi nyawa-nyawa yang terkubur,” demikian penggalan penutup puisi yang dibacakan Halimah, menggema kuat di hadapan para hadirin.

Acara Malam Doa dan Kemanusiaan untuk Aceh diselenggarakan sebagai bentuk solidaritas seni dan kemanusiaan, sekaligus ruang refleksi atas krisis ekologis yang terus berulang di Tanah Rencong. Selain pembacaan puisi, kegiatan ini juga diisi dengan doa bersama dan ekspresi seni lintas disiplin.

Halimah Munawir lahir di Cirebon, 18 Januari 1964. Ia mulai menulis sejak duduk di bangku SMA dan hingga kini aktif di berbagai organisasi serta komunitas sastra dan budaya. Karyanya meliputi novel, puisi, esai, hingga karya kolaboratif yang tersebar di berbagai penerbit nasional.

Beberapa novel penting karyanya antara lain The Sinden (Gramedia, 2011), Sucinya Cinta Sungai Gangga (Gramedia, 2013), Kidung Volendam (Gramedia, 2017), PADMI (Balai Pustaka, 2023), Pada Padang Lavender (Balai Pustaka, 2024), serta Bayi Merapi (Teresia, 2025). Dalam bidang puisi, Halimah menerbitkan antologi bilingual Bayang Firdaus (2021) dan Titik Nadir (2025), serta tengah menyiapkan buku terbarunya berjudul Keagungan Kota Suci.

Melalui puisinya di TIM malam itu, Halimah kembali menegaskan posisi sastra sebagai suara nurani—bukan hanya untuk merawat ingatan atas tragedi, tetapi juga sebagai seruan agar manusia tidak lagi diam ketika kemanusiaan dan alam terus dilukai.*** (PG)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Indonesia Alami 3 Gempa Besar dalam Sehari

17 Agustus 2026 - 08:02 WIB

Ketua KP3ALA Pusat, Prof. Rahmat Salam: Pemekaran ALA untuk Perkuat Wali Nangroe

16 Agustus 2026 - 22:20 WIB

Tirakatan 17 Agustus: Kebersamaan Lesehan yang Menyatu dalam Syukur dan Khidmat

16 Agustus 2026 - 21:55 WIB

3 Pekan Sebelum Gempa M7,7, NTT Baru Perkuat Pusdalops

16 Agustus 2026 - 21:07 WIB

Pertamina Patra Niaga Percepat Penanganan Bencana dan Pemulihan Suplai BBM & LPG di Flores

16 Agustus 2026 - 19:56 WIB

Perayaan Hari Didong Di Musara Gayo Jabodetabek Meriah, Silvia Kim dari Korea Selatan Ikut Berdidong

16 Agustus 2026 - 16:23 WIB

Haji Fikri Ajak Masyarakat Jawa Barat Merenungi Makna Kemerdekaan ke-81, Dari Seremoni Menuju Pengabdian Nyata

16 Agustus 2026 - 15:58 WIB

Laznas ASAR Humanity Bergerak Tanggap Bencana Bersama Relawan KSATRIA di NTT

16 Agustus 2026 - 14:41 WIB

Penanganan Bencana Lambat, Hasil Bumi Dikeruk, Tapi Butir MoU Tidak Pernah Diselesaikan Pemerintah Pusat. Aceh Sudah Muak!

16 Agustus 2026 - 14:34 WIB

Semarang Terancam Rob Permanen, Tanahnya Amblas 12 Sentimeter Pertahun

16 Agustus 2026 - 14:18 WIB

Trending di RAGAM