Wartatrans.com, JAKARTA – PT Gudang Garam Tbk (GGRM) kembali menambah modal Rp200 miliar kepada PT Surya Dhoho Investama (SDHI), perusahaan yang membangun dan mengelola Bandara Internasional Dhoho Kediri.
Transaksi pada Jumat (14/8/2026) dilakukan untuk mendukung operasional bandara, di tengah penelitian akademik yang memperkirakan masa balik modal proyek mencapai 26 tahun.

Tambahan modal dilakukan melalui penerbitan 200.000 saham baru SDHI dengan nilai nominal Rp1 juta per saham.
Setelah transaksi, modal ditempatkan dan disetor SDHI meningkat dari Rp14,3 triliun menjadi Rp14,5 triliun, sedangkan kepemilikan GGRM tetap sekitar 99,9 persen.
Direktur GGRM sekaligus Presiden Direktur SDHI, Istata T. Siddharta, menjelaskan, transaksi tersebut dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia pada Jumat (14/8/2026).
“Transaksi afiliasi tersebut dilakukan untuk mendukung kegiatan operasional Bandar Udara Dhoho di Kediri, Jawa Timur, yang dibangun oleh Perseroan melalui SDHI,” kata Istata.
Skala tambahan modal tersebut perlu dibaca bersama nilai aset konsesi proyek. Laporan keuangan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan 2024 audited mencatat aset konsesi jasa partisipasi mitra Bandara Dhoho sebesar Rp11,403 triliun dalam kerja sama KPBU antara Kementerian Perhubungan dan SDHI.
Nilai tersebut terdiri atas aset tanah Rp430,387 miliar dan aset non-tanah Rp10,973 triliun.
Angka Rp11,403 triliun bukan suntikan modal GGRM pada 2026, melainkan nilai aset konsesi yang tercatat dalam laporan Kementerian Perhubungan.
Dari sisi trafik, Dhoho mampu menarik penumpang ketika permintaan meningkat. Selama Posko Angkutan Lebaran 13–29 Maret 2026, bandara mencatat 2.973 penumpang, 28 pergerakan pesawat dan 2.194 kilogram kargo. Jumlah penumpang meningkat 120 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, capaian tersebut merupakan trafik musiman. Tantangan Dhoho adalah mengubah lonjakan pada momentum tertentu menjadi volume penumpang yang konsisten sepanjang tahun.
Horizon investasi proyek tergambar dalam penelitian “Analisis Operasional dan Studi Kelayakan Finansial pada Proyek Pembangunan Bandar Udara Internasional Dhoho Kediri Melalui Skema KPBU”, yang diterbitkan pada 2024.
Penelitian Zain Zainuddin, Hani Hasanah, dan Aisyah Ratnasari memperkirakan masa balik modal proyek mencapai 26 tahun.
Perhitungan tersebut mengacu pada pengembalian proyek terhadap biaya konstruksi, bukan periode pengembalian khusus bagi investor.
Karena itu, angka 26 tahun tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa tambahan modal Rp200 miliar GGRM pada 2026 akan kembali dalam 26 tahun.
Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana pada Selasa (21/7/2026) menekankan pentingnya pemanfaatan fasilitas Dhoho di luar musim haji.
“Harus dipikirkan juga di luar musim haji supaya tidak hanya sekadar bangunan yang berdiri melayani musim haji. Begitu musim haji selesai, kan juga harus tetap bermanfaat,” ucap Hanindhito.
Dengan demikian, tantangan Dhoho bukan lagi membangun kapasitas, tetapi mengisi kapasitas tersebut dengan trafik yang menghasilkan pendapatan.
Penguatan penerbangan reguler, haji dan umrah, kargo, pariwisata serta aktivitas ekonomi kawasan menjadi penentu kemampuan bandara menopang investasi jangka panjang.
Bagi GGRM, Rp200 miliar merupakan tambahan dukungan pendanaan. Persoalan berikutnya adalah seberapa cepat aset dan kapasitas Dhoho dapat berubah menjadi trafik, pendapatan dan arus kas berkelanjutan. (Artha Tidar)






























