Wartatrans.com, JAKARTA – Gempa M7,7 mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (15/8/2026) pagi. Pada hari yang sama, gempa M6,4 terjadi di Simalungun, Sumatera Utara, dan gempa yang semula tercatat M6,2 di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, terjadi beberapa jam kemudian.
Namun, kedekatan waktu belum cukup untuk menyebut ketiganya sebagai satu rangkaian gempa.

BMKG kemudian memperbarui magnitudo gempa Parigi Moutong menjadi M5,9. Gempa tersebut terjadi pukul 23.25.19 WIB pada kedalaman 60 kilometer, sedangkan gempa Simalungun M6,4 terjadi pukul 17.54.52 WIB pada kedalaman 168 kilometer.
Perbedaan lokasi dan kedalaman menjadi petunjuk penting.
Gempa Flores terjadi pada kedalaman 15 kilometer dan berpusat sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Nagekeo, sedangkan dua gempa lainnya berada di wilayah dan kedalaman berbeda.
Flores juga menunjukkan pola yang lebih aktif. Hingga pukul 14.00 WIB pada Sabtu, BMKG mencatat 235 gempa susulan dengan magnitudo M2,5 sampai M6,2.
Saat itu, aktivitas susulan belum menunjukkan tanda penurunan yang berarti.
Angka tersebut perlu dibaca hati-hati. Gempa susulan merupakan bagian dari rangkaian setelah gempa utama, sehingga tidak tepat langsung dijumlahkan dengan gempa di Sumatera Utara dan Sulawesi Tengah untuk menyimpulkan aktivitas gempa Indonesia sedang meningkat.
Daryono, anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia, menjelaskan Sabtu (15/8/2026), sumber gempa Flores berkaitan dengan Flores Back-Arc Thrust atau Sesar Naik Flores.
“Karakteristik pembangkit gempa hari ini sangat identik dengan mekanisme utama Flores Back-Arc Thrust (Sesar Naik Belakang Busur Flores atau Sesar Naik Flores),” kata Daryono.
Menurutnya, sesar tersebut membentang di perairan utara Bali, Nusa Tenggara hingga Wetar. Artinya, gempa Flores memiliki sumber tektonik yang berbeda dari gempa Simalungun dan Parigi Moutong.
Penjelasan tersebut sejalan dengan analisis Prof. Irwan Meilano, Guru Besar FITB ITB.
Dalam keterangan tertulis Ahad (16/8/2026), Irwan mengatakan gempa Flores 2026 memiliki kemiripan lokasi dan mekanisme dengan gempa Flores 1992, dengan jarak kedua lokasi kurang dari 40 kilometer.
“Gempa Flores 15 Agustus 2026 memiliki kemiripan dari sisi lokasi dan mekanisme dengan gempa Flores yang terjadi pada 1992. Jarak kedua lokasi gempa tersebut kurang dari 40 kilometer,” ujarnya.
Dia juga mengingatkan, gempa susulan bermagnitudo besar masih dapat berdampak.
Karena itu, rangkaian Flores perlu dibaca sebagai satu kelompok sebelum dibandingkan dengan gempa yang terjadi di wilayah lain.
Dengan data tersebut, tiga gempa besar dalam sehari lebih tepat dipahami sebagai kejadian dari beberapa sumber, bukan satu gelombang gempa yang bergerak melintasi Indonesia. Untuk memastikan apakah aktivitas gempa nasional benar-benar meningkat, data gempa utama, susulan, dan kejadian independen perlu dipisahkan dalam katalog BMKG.
Bagi ekonomi daerah, persoalannya bukan hanya jumlah gempa, tetapi berapa lama gangguan berlangsung.
Bila aktivitas susulan Flores bertahan, pemulihan transportasi, fasilitas publik dan usaha dapat melambat, sehingga ketepatan pemetaan risiko akan menentukan efisiensi biaya pemulihan. (Artha Tidar)





























