Menu

Mode Gelap
H+3 Lebaran, Mobilitas Penumpang KA di Daop 7 Madiun Masih Tinggi di Tengah Arus Balik Menhub Dudy: Hingga H+3 Lebaran, Kenaikan Jumlah Penumpang Angkutan Umum 11,11% Arus Balik Libur Lebaran Ramai Lancar, 327 Ribu Penumpang Kembali ke Jawa dari Sumatera Apel Gabungan dan Halal Bihalal Polres Pelabuhan Tanjung Priok Berlangsung Khidmat, Kapolres Tekankan Profesionalisme dan Kamtibmas Penerbangan Arus Balik Libur Lebaran Terus Meningkat, InJourney Airports dan Maskapai Siapkan Extra Flight Peserta Arus Balik Gratis Dilepas Kemenhub Kembali ke Jabodetabek dari 12 Kota dengan Bus

BANDARA

INACA Nilai Angkutan Penerbangan Mudik Lebaran Sukses dan Minta Penyesuaian Fuel Surcharge

badge-check


 Penumpang pesawat udara di Bandara Soetta (BKIP) Perbesar

Penumpang pesawat udara di Bandara Soetta (BKIP)

Wartatrans.com, JAKARTA – INACA (Indonesia National Air Carriers Association) sebagai asosiasi maskapai penerbangan berterimakasih dan memberikan penghargaan Pemerintah atas penyelenggaraan Angkutan Mudik Lebaran yang sukses.

Dalam hal ini Kementerian Perhubungan yang telah bekerjasama dengan stakeholder penerbangan nasional dalam menjalankan program mudik Lebaran 2026 serta pemberian diskon harga tiket pesawat.

“Dengan demikian operasional penerbangan bisa berjalan dengan selamat, aman, nyaman dengan harga terjangkau,” tutur Sekjen INACA Bayu Sutanto, Rabu (25/3/2026).

Selanjutnya, di sisi lain, INACA kata Bayu, mempertimbangkan  kondisi industri penerbangan saat ini yaitu pengaruh dari konflik geopolitik antara US-Israel Vs Iran yang membuat kondisi ekonomi internasional menjadi tidak kondusif.

Kondisi tersebut mengakibatkan kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar, di mana kedua komponen biaya tersebut sangat mempengaruhi kenaikan biaya operasional maskapai penerbangan nasional.

“Saat ini di banyak maskapai di berbagai negara yang melakukan penyesuaian biaya operasional dengan menambahkan fuel surcharge antara 5%-70%,” ungkapnya.

Hal tersebut dapat terlihat dari maskapai Air India, Air India Express, IndiGo dan Akasa Air dari India. South African Airlines, FlySafair dari Afrika Selatan. Cathay Pacific dan Hong Kong Airlines dari Hong Kong. Thai Airways dari Tailan. Qantas dari Australia. Korean Air dan Asiana dari Korea Selatan. Air Mauritius, Ethiopian Airlines, Kenya Airlines dan maskapai-maskapai lainnya.

“Adapun data-data yang dapat kami himpun dan analisis terkait dengan kondisi penerbangan nasional yang terdampak kondisi krisis geopolitik tersebut ada beberapa,” ujarnya.

Di antaranya peningkatan nilai tukar (kurs) mata uang US Dollar terhadap Rupiah, di mana tahun 2019 saat ditetapkannya Tarif Batas Atas (TBA) melalui KM 106 Tahun 2019, rata-rata 1 USD adalah Rp.14.136,- sedangkan pada tahun 2026 (Maret) rata-rata sudah mencapai Rp.17.000,- atau naik lebih dari 20%.

Biaya operasional maskapai penerbangan 70% menggunakan Dollar AS, sedangkan pendapatan maskapai nasional adalah dari Rupiah, sehingga dengan naiknya nilai tukar Dollar AS akan semakin membebani keuangan maskapai penerbangan nasional.

Harga minyak global per Maret 2026 naik dari sebelumnya 70 USD/ galon menjadi 110 USD/ galon atau naik 57%.

“Hal tersebut memengaruhi fluktuasi harga avtur di Indonesia, di mana pada tahun 2019 harga avtur sebesar Rp.10.442,- sedangkan pada Maret 2026 sudah mencapai Rp.14.000-Rp.15.500,- (harga berbeda tiap bandara) atau naik sebesar 34% – 48%,” ucap Bayu.

Harga avtur ini diprediksi akan naik lagi mengikuti kenaikan harga minyak akibat krisis geopolitik global tersebut.

Pertamina sebagai penyalur bahan bakar pesawat (avtur) selalu melakukan penyesuaian harga per tanggal 1 tiap bulannya.

Dengan demikian terdapat kemungkinan besar harga avtur per 1 April 2026 akan naik, mengikuti harga pasaran yang sudah naik tinggi akibat krisis geopolitik di Timur Tengah tersebut.

Terdapat penambahan biaya operasional maskapai yang melakukan penerbangan ke luar negeri terutama ke Timur Tengah dan Eropa, di mana rute penerbangan eksisting melewati wilayah konflik sehingga harus melakukan penerbangan dengan rute memutar dengan biaya operasional menjadi lebih tinggi.

“Di sisi lain, karena adanya konflik geopolitik tersebut, maka jumlah penumpang ke Timur Tengah terutama penerbangan umrah menjadi berkurang. Demikian juga untuk turisme ke Indonesia juga akan terdampak, baik kedatangan wisman dari Eropa ataupun Timur Tengah sendiri,” imbuh dia.

Dari sisi perawatan pesawat terdampak dari pengadaan spareparts untuk pesawat yang sekarang sedang dalam perawatan (AOG part), di mana supply chain spareparts terganggu sehingga pengiriman spareparts yang sebelumnya hanya 2-3 hari menjadi 7-10 hari dengan tambahan naiknya biaya pengiriman karena untuk menjamin keselamatan dan keamanan serta rute penerbangan yang memutar lebih jauh.

Sehubungan dengan kondisi di atas INACA sebagai asosiasi maskapai penerbangan nasional  mengajukan permohonan kepada Pemerintah untuk meninjau serta menyesuaikan beberapa hal berikut ini.

“Kami berharap menaikkan Fuel surcharge sebesar 15 persen atas masing-masing fuel surcharge yang telah ditetapkan melalui KM 7 Tahun 2023 tanggal 10 Januari 2023;
Menaikkan Tarif Batas Atas (TBA) harga tiket penerbangan domestik dengan kenaikan sebesar 15 persen untuk pesawat udara jenis jet dan pesawat udara jenis propeller atas TBA yang ditetapkan melalui KM 106 Tahun 2019,” kata dia.

Selain penyesuaian besaran fuel surcharge dan TBA, INACA mohonkan juga sejumlah kebijakan stimulus yang bersifat temporer (seperti misalnya pada Lebaran 2026) yaitu penundaan PPn Avtur dan tiket domestik, keringanan biaya bandara atau PJP4U serta kebijakan rescheduling pembayaran outstanding biaya bandara dan navigasi tetap dipertahankan.

“Permintaan ini INACA ajukan untuk mengantisipasi penyesuaian harga avtur dari Pertamina per tanggal 1 April 2026 serta untuk tetap menjamin keberlangsungan usaha (business sustainability), keterjaminan keselamatan (safety insurance),  serta ketersediaan konektivitas angkutan udara nasional dengan mempertahankan tingkat keselamatan yang tinggi,” tutup Bayu. (omy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Penerbangan Arus Balik Libur Lebaran Terus Meningkat, InJourney Airports dan Maskapai Siapkan Extra Flight

25 Maret 2026 - 18:53 WIB

Kemenhub Pertimbangkan Penyesuaian Fuel Surcharge dan Tarif Batas Atas Penerbangan

25 Maret 2026 - 18:25 WIB

Arus Balik Libur Lebaran, Penumpang Citilink Hari ini Tembus 45.000

24 Maret 2026 - 17:15 WIB

Kemenhub Imbau Operator Utamakan Keselamatan di Arus Balik Lebaran 2026

24 Maret 2026 - 11:11 WIB

Mantap! Penumpang Angkutan Umum Hari H Lebaran Capai 873 Ribu

22 Maret 2026 - 21:21 WIB

Hore, Layani 4,41 Juta Penumpang Pesawat, Arus Mudik Lancar di 37 Bandara InJourney Airports

22 Maret 2026 - 18:36 WIB

Kemenhub Ajak Masyarakat Pantau Pergerakan Angleb Real Time melalui Nusantara Hub

22 Maret 2026 - 13:31 WIB

Hingga H-1 Lebaran, 10 Juta Orang Telah Mudik dengan Angkutan Umum

21 Maret 2026 - 18:23 WIB

Kemenhub: Puncak Arus Mudik Terjadi pada H-3 Lebaran

20 Maret 2026 - 17:32 WIB

Yes, Puncak Arus Mudik Berjalan Lancar di 37 Bandara InJourney Airports, Jumlah Penumpang Sentuh 570.959

19 Maret 2026 - 18:58 WIB

Trending di BANDARA