Menu

Mode Gelap
3 Pekan Sebelum Gempa M7,7, NTT Baru Perkuat Pusdalops Pascagempa, Kemen PU Pastikan Akses dan Kebutuhan Dasar di Labuan Bajo Segera Ditangani Jelang 17 Agustus, 16.913 Tiket Promo KAI Terjual, Pemesanan Long Weekend Capai 706.908 Tiket Pertamina Patra Niaga Percepat Penanganan Bencana dan Pemulihan Suplai BBM & LPG di Flores Besok, Lagu Kebangsaan Indonesia Raya Berkumandang Serentak di 37 Bandara InJourney Airports Bergerak Bersama, KMP Ile Labalekan ASDP Turut Antarkan Bantuan untuk Pulihkan NTT

RAGAM

Catatan Halimah Munawir : Jejak Istana dan Peradaban di Mesir

badge-check


 Catatan Halimah Munawir : Jejak Istana dan Peradaban di Mesir Perbesar

Wartatrans.com, MESIR — Langit di Alexandria sore itu turun perlahan, seakan enggan menutup hari. Warna biru yang tadi siang tegas kini melembut menjadi jingga keemasan, memantul di permukaan Laut Mediterania yang berombak tenang. Angin berhembus pelan, membawa aroma asin laut bercampur wangi dedaunan taman—aroma yang sulit dijelaskan, tetapi mudah dirasakan: damai.

Langkah kaki saya menyusuri jalan setapak menuju Montaza Palace. Di kiri-kanan, pepohonan tua berdiri seperti penjaga waktu, akarnya mencengkeram tanah yang telah menyaksikan begitu banyak kisah. Di kejauhan, siluet istana mulai tampak—anggun, tenang, dan sedikit melankolis. Arsitekturnya memadukan sentuhan Ottoman dan Eropa, dengan menara kecil yang menjulang seperti kastil di negeri dongeng. Namun ini bukan dongeng—ini sejarah yang masih bernafas.

Di setiap sudut taman, saya merasa seolah sedang berjalan di antara lapisan waktu. Dahulu, Abbas II of Egypt membangun tempat ini sebagai pelarian dari panasnya Kairo—sebuah ruang istirahat bagi keluarga kerajaan. Bayangan kereta kuda, gaun panjang, dan percakapan dalam bahasa asing seperti samar-samar melintas di benak. Lalu waktu bergerak, dan istana ini menjadi saksi kehidupan Farouk of Egypt—raja terakhir Mesir, sebelum semuanya berubah dalam pusaran Egyptian Revolution of 1952. Sejak itu, kemewahan berubah menjadi kenangan, dan istana menjadi milik publik—dibuka bagi siapa saja yang ingin merasakan sepotong masa lalu.

Saya menemukan sebuah bangku menghadap laut. Duduk perlahan, membiarkan tubuh beristirahat, sementara pikiran justru mengembara. Secangkir kopi hangat menemani—pahitnya ringan, aromanya pekat. Saya membuka lembar puisi yang sejak tadi tersimpan di tas. Kata demi kata saya baca pelan, dan anehnya, puisi itu seperti menemukan rumahnya di sini. Angin laut membalik halaman dengan lembut, seakan ingin ikut membaca.

Di hadapan saya, matahari semakin rendah. Cahayanya menyentuh dinding istana, memantul di jendela-jendela tinggi yang berjejer rapi. Saya membayangkan bagaimana dahulu ruangan-ruangan itu dipenuhi suara—tawa, musik, mungkin juga kegelisahan. Kini, semuanya sunyi. Namun sunyi yang hidup, bukan kosong. Sunyi yang menyimpan cerita.

Ingatan saya melayang ke Kairo—ke El Sakakini Palace yang penuh ornamen, dengan patung-patung yang berdiri seperti penjaga rahasia. Dibangun oleh Habib Sakakini, istana itu terasa seperti potongan Eropa yang dipindahkan ke tanah Mesir. Gaya Rococo dan neo-klasik berpadu dalam detail yang rumit—lengkungan, ukiran, dan ratusan jendela yang membiarkan cahaya masuk dari segala arah. Di sana, saya merasakan bagaimana manusia mencoba menangkap keindahan, lalu mengabadikannya dalam bentuk yang bisa disentuh.

Lalu ada Baron Empain Palace—lebih eksentrik, lebih berani. Dibangun oleh Édouard Empain, istana ini memadukan gaya Eropa dengan sentuhan Hindu yang tidak biasa. Ukiran-ukiran yang kompleks, struktur yang berbeda dari kebanyakan bangunan di sekitarnya, semuanya memberi kesan bahwa dunia ini pernah begitu terbuka—budaya saling bertemu tanpa batas yang kaku.

Namun, yang paling membekas bukan hanya bentuk bangunannya. Melainkan bagaimana semua itu dirancang untuk hidup bersama alam. Langit-langit yang tinggi, marmer yang sejuk, ventilasi yang cerdas—semuanya seolah memahami panas Mesir, bukan melawannya, tetapi berdamai dengannya. Ada kebijaksanaan di sana—bahwa arsitektur bukan sekadar estetika, melainkan dialog antara manusia dan lingkungannya.

Kembali ke Montaza, senja hampir selesai. Langit berubah menjadi ungu tua, dan lampu-lampu taman mulai menyala satu per satu. Orang-orang berjalan santai—keluarga, pasangan, wisatawan. Tawa kecil terdengar di kejauhan. Tempat ini tidak lagi eksklusif milik raja, melainkan ruang bersama—ruang yang merangkul siapa saja tanpa membedakan.

Saya menutup buku puisi. Kopi di tangan tinggal seteguk terakhir. Ada rasa enggan untuk beranjak, seolah jika saya berdiri sekarang, momen ini akan ikut hilang. Tapi mungkin memang begitu hakikat perjalanan—ia tidak pernah benar-benar tinggal, hanya meninggalkan jejak.

Mesir, dengan segala lapisan sejarahnya, mengajarkan satu hal yang sederhana namun dalam: bahwa waktu boleh berlalu, kekuasaan boleh runtuh, tetapi jejak budaya—jika dijaga dengan cinta—akan selalu menemukan cara untuk tetap hidup.

Dan di antara laut, angin, istana, dan puisi, saya menemukan sesuatu yang tidak saya cari sebelumnya: ketenangan yang tidak datang dari tempat, tetapi dari cara kita memaknai perjalanan itu sendiri.***

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Pertamina Patra Niaga Percepat Penanganan Bencana dan Pemulihan Suplai BBM & LPG di Flores

16 Agustus 2026 - 19:56 WIB

Perayaan Hari Didong Di Musara Gayo Jabodetabek Meriah, Silvia Kim dari Korea Selatan Ikut Berdidong

16 Agustus 2026 - 16:23 WIB

Haji Fikri Ajak Masyarakat Jawa Barat Merenungi Makna Kemerdekaan ke-81, Dari Seremoni Menuju Pengabdian Nyata

16 Agustus 2026 - 15:58 WIB

Laznas ASAR Humanity Bergerak Tanggap Bencana Bersama Relawan KSATRIA di NTT

16 Agustus 2026 - 14:41 WIB

Penanganan Bencana Lambat, Hasil Bumi Dikeruk, Tapi Butir MoU Tidak Pernah Diselesaikan Pemerintah Pusat. Aceh Sudah Muak!

16 Agustus 2026 - 14:34 WIB

Semarang Terancam Rob Permanen, Tanahnya Amblas 12 Sentimeter Pertahun

16 Agustus 2026 - 14:18 WIB

Delegasi Rimba Raya Kecam Keras Insiden Pelecehan Budaya Aceh di Panggung Jamnas: “Jangan Lupakan Sejarah Aceh”

16 Agustus 2026 - 13:33 WIB

Budaya Aceh Dilecehkan di Jamnas Pramuka 2026: Lampu Panggung Dimatikan Saat Penampilan

16 Agustus 2026 - 13:00 WIB

Gempa M6,4 Simalungun Terasa hingga Aceh Tengah, Warga Berhamburan Keluar Rumah

15 Agustus 2026 - 19:41 WIB

Gubernur Jateng Ahmad Luthfi Pamer Keberhasilannya

15 Agustus 2026 - 17:51 WIB

Trending di RAGAM