Wartatrans.com, JAKARTA – Timnas Indonesia memastikan tiket final FIFA ASEAN Cup 2026 setelah menghantam Bangladesh 9-2 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis (1/10/2026).
Hasil tersebut menempatkan rangkaian turnamen pada konteks yang lebih luas, ketika pertandingan internasional ikut menggerakkan perjalanan pemain, ofisial, wisatawan dan pelaku usaha menuju Jawa Barat.
Mobilitas itu berlangsung di tengah tingginya aktivitas perjalanan wisata di Jawa Barat. Kepala BPS Jawa Barat Margaretha Ari Anggorowati mengatakan, perjalanan wisatawan nusantara ke Jawa Barat mencapai 149,69 juta perjalanan sepanjang Januari-Agustus 2026, naik 5,78 persen secara tahunan.
“Jumlah perjalanan wisnus periode Januari sampai Agustus 2026 merupakan yang tertinggi dibandingkan periode yang sama sejak 2021,” kata Ari.
Pergerakan wisatawan juga tercatat melalui moda transportasi yang menghubungkan Jakarta dan Jawa Barat.
Pada periode Januari-Agustus 2026, BPS mencatat 127.885 kunjungan wisatawan mancanegara masuk Jawa Barat menggunakan Kereta Cepat Whoosh. Sebanyak 87,85 persen tercatat melalui Stasiun Tegalluar, Kabupaten Bandung.
Ari mengatakan, pergerakan penumpang asing juga tercatat melalui stasiun Whoosh lainnya di Jawa Barat.
“Kemudian disusul pergerakan penumpang asing di Stasiun Padalarang dan Stasiun Karawang,” ungkapnya.
Momentum FIFA ASEAN Cup ikut masuk dalam pola pergerakan tersebut. Lebih dari 100 pemain, ofisial, panitia, dan perangkat pertandingan telah menggunakan Whoosh dari Jakarta menuju Bandung.
Tim Thailand, Pakistan dan sejumlah peserta lainnya tercatat menggunakan layanan tersebut.
GM Corporate Secretary KCIC Eva Chairunisa mengatakan penggunaan Whoosh oleh peserta turnamen menjadi bagian dari upaya memperkenalkan layanan kereta cepat kepada delegasi internasional.
“FIFA ASEAN Cup merupakan ajang internasional yang diikuti pemain dan ofisial dari berbagai negara. Kami ingin menjadikan momentum ini untuk memperkenalkan Whoosh sebagai kebanggaan Indonesia yang memiliki layanan berstandar tinggi, cepat, aman dan nyaman,” ujar Eva, Jumat (25/9/2026).
Aktivitas perjalanan tersebut bertemu dengan kegiatan usaha di sekitar lokasi pertandingan. Sekitar 20 UMKM binaan RBUMN Telkom berjualan di sisi timur Stadion Si Jalak Harupat, Soreang.
“Untuk pendapatan alhamdulilah, kalau pas lagi ramai sih bisa untungnya lumayan. Omzetnya minimal sehari bisa Rp500 ribu sampai Rp1 juta. Apalagi kita buka stand di sini gratis,” kata pelaku UMKM Elin Nurhalimah, Rabu (30/9/2026).
Si Jalak Harupat juga menjadi salah satu venue FIFA U-17 World Cup 2023. Saat itu, Indonesia menjadi tuan rumah dengan empat kota penyelenggara, yakni Bandung, Jakarta, Surakarta, dan Surabaya.
Kajian Kemenpora bersama PSSI dan Litbang Kompas mencatat penyelenggaraan turnamen di empat kota tersebut menghasilkan perputaran uang lebih dari Rp304 miliar dengan angka pengganda 1,6.
Tambahan terhadap produk domestik bruto Indonesia mencapai Rp229,2 miliar, sementara tambahan nilai produksi barang dan jasa mencapai Rp250 miliar.
Kajian tersebut juga mencatat dampak pada sektor pariwisata, makanan dan minuman, merchandise sepak bola, penginapan serta UMKM kriya. Pendapatan usaha sektor pariwisata meningkat rata-rata sekitar 58,4 persen dibandingkan hari biasa.
Angka tersebut memberi gambaran mengenai potensi ekonomi yang dapat muncul dari penyelenggaraan event sepak bola.
Namun, FIFA ASEAN Cup 2026 belum memiliki penghitungan agregat yang mencakup room-night hotel, belanja penonton, transaksi UMKM dan kontribusi ekonomi event.
Bagi Bandung dan Jawa Barat, pengukuran trafik Whoosh dan Husein Sastranegara, okupansi hotel, lama tinggal, belanja penonton serta omzet usaha lokal menjadi penting untuk mengetahui seberapa jauh sport tourism mampu memperluas manfaat ekonomi di luar stadion.
(Artha Tidar)



























