Wartatrans.com, JAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membuat Isenmulang Kalteng FC kehilangan kesempatan memainkan tiga laga bola di Stadion Tuah Pahoe, Palangka Raya, sepanjang awal kompetisi BRI Super League 2026/27.
Pemindahan pertandingan ke luar Kalteng bukan hanya menghilangkan keuntungan bermain di kandang sendiri, tetapi juga menambah beban perjalanan dan waktu pemulihan pemain.
“Jujur kita main home tapi serasa away, karena kita main home harusnya kita main di Kalimantan tapi di sana belum mungkin karena masih ada asap tebal,” kata pemain Isenmulang, Ardi Ramdani, Senin (19/10/2026).
Laga kandang pertama melawan Bali United pada 12 September dipindahkan ke Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar.
Berikutnya, pertandingan menghadapi Persebaya Surabaya pada 9 Oktober digelar di Stadion PKOR Sumpah Pemuda, Bandar Lampung, tanpa penonton.
Pemindahan kembali terjadi saat Isenmulang menjamu Java United di Stadion Maguwoharjo, Sleman, pada 20 Oktober. Pertandingan tersebut berakhir imbang 1-1.
Dengan demikian, tiga kesempatan bermain di kandang sendiri harus dijalani di luar Palangka Raya akibat kondisi asap karhutla.
Dampaknya tidak berhenti pada perubahan lokasi pertandingan. Pelatih Isenmulang, Mundari Karya, menyebut perjalanan antarkota turut menyulitkan pemulihan pemain, terutama setelah tim menjalani laga tandang di Jepara sebelum bertanding di Yogyakarta.
“Walaupun kita tahu masalah recovery juga menjadi apa masalah untuk tim kami karena perjalanan dari Jepara ke Yogyakarta cukup memakan waktu. Dan ini yang harus kita antisipasi,” kata Mundari, Senin (19/10/2026).
Ia juga menjelaskan kendala yang muncul ketika tim harus berpindah dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya.
“Kami agak kesulitan, jadi setelah pertandingan satu, kami harus membuat perjalanan ke pertandingan yang lain. Mungkin itu ya jadi masalah recovery itu yang menjadi hambatan,” ujarnya.
Kondisi tersebut berlangsung di tengah penanganan karhutla yang masih berjalan di Kalimantan Tengah. Dalam laporan BNPB dengan data hingga 19 Oktober 2026, luas sasaran penanganan karhutla di provinsi itu mencapai 452,49 hektare.
Dari angka tersebut, 63,10 hektare dilaporkan telah dipadamkan, sedangkan 389,39 hektare masih dalam penanganan.
Angka tersebut merupakan luas sasaran penanganan dalam operasi yang dilaporkan BNPB, bukan total akumulasi lahan terbakar di seluruh Kalimantan Tengah.
Meski begitu, data itu menunjukkan upaya penanganan masih berlangsung ketika agenda kompetisi Isenmulang harus menyesuaikan kondisi di daerah asalnya.
Situasi ini mengingatkan pada Kalteng Putra pada 2019, ketika kabut asap juga mengganggu aktivitas latihan dan membuat tim sementara berpindah ke Banjarmasin.
Kala itu, langkah tersebut dilakukan untuk menjaga kondisi pemain di tengah memburuknya kualitas udara.
Bagi Isenmulang, kepastian bermain di Stadion Tuah Pahoe berkaitan langsung dengan kesiapan tim dan akses suporter untuk menyaksikan pertandingan.
Selama kondisi asap belum memungkinkan laga digelar di Palangka Raya, klub tetap harus mengelola konsekuensi perjalanan dan penyesuaian operasional, sementara besaran tambahan biaya maupun kerugian finansialnya belum dapat dipastikan tanpa data resmi klub.
(Artha Tidar)




























