Wartatrans.com, ACEH — Kali ini Penyair Din Saja menulis puisinya dengan cara yang agak di luar biasa, narasi Tuhan dan dialektika tentang iman dan tafsir kepada kebebalan iman, ia menulis pada tahun 2024 yang lalu, namun siapa yang bisa menebak, kini di tahun 2025 peristiwa puisi itu masih sangat relevan dan bahkan kita bisa saja menganggapnya sebagai lampu kuning yang diterabas di sini, Indonesia.
Berikut puisi lengkapnya;

___
Tuhan sedang sakit, kataku
Apakah benar Tuhan sakit, katamu sedikit melotot
Aku ajak saudaraku itu ke istana kenegaraan, lalu aku katakan, berapa banyak penipuan, penculasan, persekongkolan, terjadi di tempat ini?
Saudaraku itu hanya diam dan terpana.
Aku ajak lagi ke gedung parlemen, lalu aku katakan, berapa banyak produk hukum dihasilkan yang menjerat leher rakyatnya, yang menguntungkan segelintir orang untuk menguasai hampir seluruh harta kekayaan negara.
Saudaraku itu terdiam, wajahnya sedikit muram.
Aku ajak lagi ke rumah-rumah sakit, sambil melihat-lihat pasien dengan beragam penyakit, cacat setelah operasi, batuk yang akhirnya tbc, asam lambung, asma, pilek, yang tidak sembuh-sembuh.
Saudaraku itu memoles ujung matanya dengan ujung lengan bajunya.
Aku ajak juga ke tempat para gembel, pemabuk, pencopet, pelacur, anak-anak yang kehilangan cermin, janda-janda yang kehilangan dermaga.
Di tempat itu, saudaraku menangis tersedu-sedu, sambil berujar “benar Tuhan sedang sakit”
Malam semakin panjang
Kabut tebal melebar
Hujan deras dalam dada
Kami pun tidak bisa tertidur
2024
___
Tuhan menamakan bencana
sebagai _kun_, maka jadilah, apapun nama-nama setelahnya hendak diberikan, itu adalah nama lain selainNya, nama sebuah pengkhianatan kepada takdir dan kepada tafsir.
Puisi-puisi menjadi mesin mengkaji gelagat Tuhan, termasuk pada puisi Din Saja kali ini.
Ada _’pulak’_ Tuhan _’bisa’_ sakit? Seperti apa pula kekuatan Tuhan bisa melemah sampai jatuh, tergelincir sakit? Tuhan sebagai apa yang dimaksudkan Din Saja di puisi tak berjudul ini, terbit 2024 lalu?
Kita mulai membaca narasi imagine ala Din berikut untuk mengurai tanda-tanda sakitNya itu sebagai tafsir di kehidupan manusia;
berapa banyak penipuan, penculasan, persekongkolan di istana?
berapa banyak -hukum dihasilkan-(justru) menjerat leher rakyat-menguntungkan segelintir-untuk menguasai hampir seluruh harta-negara
Apa yang disampaikan ini selanjutnya dimunculkan akibatnya, pada bait lanjutan.
Dua ikatan pada pembuka dan penutup adalah dialog yang ingin disetirnya selaku penyair yang menciptakan langit ayat-ayat sastra, tuhan yang berkuasa kepada puitikal dan emotif sastrawan Din Saja secara bernalar menunjukkan diskursus sebuah wawasan bagaimana membaca Tuhan dan kaitannya dengan bencana, wabah, kehancuran negara, juga bencana lahirnya pemerintahan _drakula_ yang menghisap apa saja tanpa memberi kita sisa.
Tuhan sedang dipakai sebagai dialektika pertunjukan kritik yang menohok bagi kaum yang mengaku beriman, Tuhan siapa saja tentunya bagi negeri yang telah melahirkan Din Saja, Indonesia.
Bencana adalah undangan? Ataukah banyak yang menyebutkan sebagai adanya takdir yang ditentukan olehNya tanpa bisa dielak, tak mampukah manusia mengubah nasibnya sebagai umat ciptaan Tuhan agar tidak terkena murka dan kehilangan kehidupan yang _dirahmatinya_? Din Saja cukup lihai menyetir ayat-ayat puisinya untuk mengatai-ngatai _Tuhan_ yang disembah di negara namun sekaligus dikhianati seluruh ajarannya dengan berbekal kekuatan dari kekuasaan.
Fatwa Din Saja merupakan tempat untuk pembaca mengetahui dengan akal dan pikirannya segera mafhum, paham, sadar dan tidak menjadi melotot seperti dialog di awal puisi dan lalu membenarkan;
benar Tuhan sedang sakit”
sebagai kegelapan yang menyentuh cahaya di saat meraba tafsir kebenaran secara reseptif lewat puisi tersebut.
Semua itu, tutup Din Saja, akan memawa kegelapan dalam menafsirkan fenomena alam dan kehidupan bernegara ketika kabut kekhilafan kian tebal melebar.
Manusia akhirnya akan lelah dalam keadaan tak tercerahkan, kalang kabut dan sesat akibat tidak berkenan pada peringatan dan amar makruf dan nahi mungkar yang turut disampaikan penyair.
hujan deras dalam dada
Ini adalah pesan simbolik dan membacanya tidak literlet, tapi dibaca sebagai pemahaman yang mengias karena memang dihias seperti itulah puisi, sebuah kronik kritik berTuhan namun membawa iman ke dalam kosong pada perwujudan, enggan menerima tegur indah sekalipun, maka kadangkala penyair enggan menulis di era musibah, bencana adalah tafsir yang telah matang di dalam gerak laku kepenyairan Din Saja, setidaknya ia telah melintasi 8 jam perjalanan laut untuk sampai ke sebuah pulau Semeulue mengurusi kubah ‘Tuhan’ sepanjang berkarir di BRR saat Rekonstruksi Gempa dan Tsunami Aceh – Nias 2006 silam.
Ia tentu paham apa itu rekonstruksi hati dan iman, tetapi itu tidak lebih penting menurut banyak kalangan, karena yang penting bencana datang tok karena Tuhan.
Beda jika bencana itu adalah bencana moral, entah siapa pula yang hendak kita salahkan, mencari alibi, mencari yang hitam untuk dipersalahkan.
Orang-orang di masa kini memandang bencana sebagai canda tawa belaka, ada hinaan dan bahkan pembiaran, mampus sana! Seolah ia jadi _’Tuhan’ yang _’tega’_ membenamkan kezaliman tetapi kekuatan pemerintahan yang langgeng saat bencana demi bencana terus tiba adalah kekuatan mengundang murka, murka manusia dan alam dan itulah mengapa Tuhan mengirim air dan tanah sekalian mengirim pula penafsir yang berfatwa, penyair.
kami pun tidak bisa tertidur
Ketika bencana tiba, bukan tidur biasa yang mampu dilakukan namun _’tertidur’_ sebagai bukti ini adalah peristiwa luar biasa, setidaknya ada yang berhari-hari dan bermalam-malam para pengungsi tidak mampu bahkan untuk tidur, sebab banjir susulan bisa saja datang lagi, bencana kembali hampiri, sebegitukah iman manusia harus teruk diuji.
Bahkan untuk mampu melihat hari esok, bayang maut harus rapat di sisi? Apakah sebodoh itu baru bisa sadar dan insyaf? Wahai.*** (Muhrain)
Banda Aceh, 14 Desember 2025










