Menu ✖

Mode Gelap
KAI Angkut 191 Ribu Ton Barang Retail hingga September 2026, Dorong Efisiensi Logistik Kemenhub dan Kemenlu Fasilitasi Kepulangan 4 Awak Kapal Korban Pembajakan di Somalia Lima Tahun Bersatu, Terminal Teluk Lamong Terus Tumbuh dan Bertransformasi Bersama Pelindo B50 Jadi Program Utama KAI, Target Pangkas Emisi 133.676 Ton CO₂e Pelindo Regional 2 Dorong Generasi Muda Kenali Strategi dan Bisnis Kepelabuhanan Alhamdulillah, Biaya yang Ditanggung Jemaah Haji 2027 Turun Rp3,4 Juta

PERON

KAI Angkut 191 Ribu Ton Barang Retail hingga September 2026, Dorong Efisiensi Logistik

badge-check


 KAI Angkut 191 Ribu Ton Barang Retail hingga September 2026, Dorong Efisiensi Logistik Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat pertumbuhan angkutan barang retail sepanjang Januari–September 2026. Dalam periode tersebut, sebanyak 191.232 ton barang diangkut melalui jalur rel, meningkat 2,96 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan volume tersebut menunjukkan semakin terbukanya peran kereta api dalam mendukung distribusi barang, terutama untuk pengiriman dalam jumlah besar dan berulang yang membutuhkan efisiensi biaya serta waktu tempuh.

Biaya pengiriman ikut membentuk harga barang ketika sampai ke konsumen. Ketika distribusi menghadapi kemacetan, konsumsi bahan bakar tinggi, waktu tempuh panjang, atau biaya penanganan yang besar, ongkos logistik ikut meningkat dan dapat masuk ke struktur harga produk. BPS juga mencatat bahwa perubahan biaya transportasi dapat berdampak pada biaya distribusi, logistik, serta harga barang dan jasa.

Dalam kondisi tersebut, kereta api memiliki ruang lebih besar untuk melayani angkutan barang berkapasitas tinggi. Sepanjang Januari–September 2026, KAI mengangkut 191.232 ton angkutan retail, meningkat 2,96 persen dibandingkan sekitar 185.733 ton pada periode yang sama tahun 2025. Secara volume, terdapat tambahan sekitar 5.499 ton barang yang bergerak melalui jaringan rel.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa pelaku usaha mulai memanfaatkan lebih banyak pilihan moda untuk mengatur distribusi barang.

“Sebanyak 191 ribu ton angkutan retail telah bergerak menggunakan kereta api selama sembilan bulan pertama 2026. Bagi pelanggan bisnis, pilihan moda menjadi penting karena setiap jenis barang memiliki kebutuhan volume, jarak, waktu pengiriman, dan biaya yang berbeda,” ujar Anne.

Angkutan retail menjadi bagian dari portofolio nonbatu bara KAI. Hingga 30 September 2026, volume angkutan nonbatu bara mencapai 9.148.571 ton, tumbuh 2,6 persen dibandingkan 8.912.566 ton pada periode yang sama tahun 2025. Komoditasnya mencakup petikemas, pupuk, semen, BBM, pulp, hasil perkebunan, dan retail. Pendapatan angkutan nonbatu bara pada periode tersebut mencapai sekitar Rp1,095 triliun, meningkat 7,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Menurut Anne, kereta api memiliki karakter yang sesuai untuk barang dengan volume besar dan pengiriman yang berulang pada koridor tertentu. Satu rangkaian dapat membawa muatan dalam jumlah besar dalam satu perjalanan, sehingga sebagian arus barang jarak menengah dan jauh dapat dialihkan dari jalan raya ke rel.

“Kereta api cocok untuk pengiriman dalam jumlah besar dan pola yang rutin. Sementara truk tetap penting untuk mengambil barang dari lokasi produksi menuju terminal dan mengantarkannya dari terminal ke tujuan akhir. Pembagian fungsi seperti ini membuat rantai distribusi dapat dirancang lebih efisien,” kata Anne.

Kementerian Perhubungan mencatat lebih dari 90 persen angkutan barang di Indonesia masih mengandalkan jalan raya. Ketergantungan yang tinggi terhadap kendaraan berat memberi dampak pada kemacetan, kerusakan jalan, konsumsi energi, serta biaya distribusi. Pengembangan angkutan berbasis rel menjadi salah satu pilihan untuk mengurangi beban tersebut.

Pemanfaatan rel juga relevan dengan perdagangan antarwilayah. BPS mencatat kebutuhan dan ketersediaan komoditas yang berbeda antardaerah mendorong arus perdagangan dari satu provinsi ke provinsi lain. Karena itu, sistem distribusi yang efisien menjadi penting agar barang dapat bergerak dengan biaya yang lebih terukur dan harga di daerah tujuan tetap kompetitif.

KAI melihat peluang pengembangan angkutan retail masih terbuka pada koridor dengan volume dan frekuensi pengiriman yang memadai. Pengembangan diarahkan pada konektivitas terminal, pola perjalanan yang terjadwal, kapasitas angkut, serta integrasi dengan layanan logistik darat.

“Semakin efisien barang bergerak dari produsen ke pasar, semakin kecil tekanan biaya yang harus ditanggung dalam rantai distribusi. Karena itu, KAI melihat kereta api memiliki ruang lebih besar untuk mengambil porsi angkutan barang pada koridor yang sesuai, sekaligus membantu mengurangi beban kendaraan berat di jalan raya,” tutup Anne.(fahmi)

 

Baca Lainnya

B50 Jadi Program Utama KAI, Target Pangkas Emisi 133.676 Ton CO₂e

7 Oktober 2026 - 20:14 WIB

Penumpang Mancanegara KA Pangrango-Siliwangi Naik 17,17 Persen

7 Oktober 2026 - 15:34 WIB

KAI Commuter Targetkan Eskalator Stasiun Duri Kembali Beroperasi Pekan Ketiga Oktober

7 Oktober 2026 - 13:37 WIB

41,6 Juta Ton Batu Bara Diangkut KAI Sepanjang Januari–September 2026, Jadi Andalan Angkutan Barang

7 Oktober 2026 - 06:05 WIB

KAI: Minat Pelanggan terhadap Perjalanan Panoramic dan Kabin Privat Terus Menguat

7 Oktober 2026 - 04:37 WIB

Penumpang KA Joglosemarkerto Tembus 1,1 Juta hingga September 2026, Naik 9,73 Persen

6 Oktober 2026 - 23:52 WIB

8.336 Peserta Rekrutmen KAI Jalani Seleksi Kesehatan di Klinik Mediska Manggarai

6 Oktober 2026 - 14:05 WIB

Wisatawan Meningkat, Pelanggan Kereta Panoramic Tumbuh 62,86 Persen

6 Oktober 2026 - 10:21 WIB

Whoosh Tebar Promo 10.10! Ada Diskon hingga 50% dan Potongan hingga Rp150 Ribu

6 Oktober 2026 - 10:15 WIB

Travelator Integrasi Karet-Sudirman Baru Mulai Dirakit, KAI Kejar Penyelesaian Akhir Tahun

5 Oktober 2026 - 21:18 WIB

Trending di PERON