Wartatrans.com, JAKARTA – Konsolidasi PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI dengan PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA memasuki tahap akhir untuk disatukan, ketika Indonesia masih bergantung pada pasokan sarana perkeretaapian dari luar negeri.
China menjadi pemasok terbesar dengan nilai US$351,64 juta atau sekitar 56 persen dari total impor komoditas perkeretaapian Indonesia pada 2025.
Kepala Badan Pengaturan BUMN sekaligus COO Danantara Dony Oskaria mengatakan konsolidasi KAI dan INKA ditargetkan selesai sebelum Januari 2027.
“Harusnya sebelum Januari sudah (merger),” kata Dony di Jakarta, Selasa (29/9/2026).
INKA nantinya berada di bawah KAI setelah proses konsolidasi selesai.
Sebelumnya, Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menyebut integrasi KAI dan INKA ditargetkan efektif 1 Januari 2027.
Pernyataan itu disampaikan dalam RDP bersama Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu (23/9/2026).
“Rencana konsolidasi integrasinya itu pada 1 Januari,” ujar Bobby.
Kebutuhan armada menjadi salah satu konteks konsolidasi tersebut. KAI menyatakan membutuhkan penggantian 87 trainset KRL hingga 2031 dan mengusulkan impor 23 trainset KRL nonbaru dari Jepang sebagai solusi transisi.
“Ini sebagai transisi kita,” ujar Bobby.
Dalam rapat yang sama, Bobby juga mengungkapkan adanya keterlambatan pengadaan KRL dari INKA. Dari 16 unit yang dipesan, baru tujuh unit yang beroperasi, sedangkan sembilan unit belum diterima KAI.
“16 unit dari INKA, itu yang baru beroperasi tujuh unit. Sembilan unitnya ini belum kita terima. Jadi ada keterlambatan lebih dari 1 tahun,” kata Bobby.
Data perdagangan menunjukkan nilai impor komoditas dalam kelompok HS 86 pada 2025 mencapai US$627,77 juta, naik 165,9 persen dibandingkan 2024 sebesar US$236,11 juta.
Nilai tersebut merupakan yang tertinggi dalam lima tahun terakhir.
China menyumbang US$351,64 juta atau sekitar 56 persen dari total nilai impor HS 86. Setelah China, Amerika Serikat menyumbang US$184,04 juta dan Jepang US$44,82 juta.
Kelompok HS 86 mencakup lokomotif, kendaraan yang bergerak di atas rel, gerbong, serta bagian dan perlengkapannya.
Karena itu, nilai impor tersebut tidak dapat langsung diterjemahkan sebagai jumlah kereta atau trainset yang masuk ke Indonesia.
Di sisi lain, KAI dan INKA juga tengah menangani kebutuhan perawatan armada.
Tujuh trainset KRL iE305/CLI 225 menjalani pemeriksaan dan perawatan sebelum dikembalikan untuk mendukung operasional Commuter Line Jabodetabek.
“Setiap trainset yang telah menyelesaikan seluruh rangkaian pemeriksaan dan dinyatakan siap akan diserahkan kepada KAI Commuter untuk mendukung pelayanan Commuter Line Jabodetabek sesuai kebutuhan operasional,” ujar VP Corporate Communication KAI Anne Purba, 16 September 2026.
Konsolidasi KAI dan INKA berlangsung ketika kebutuhan penggantian armada, keterlambatan pengadaan domestik, perawatan sarana, dan tingginya nilai impor berada dalam satu ekosistem.
Struktur baru KAI sebagai induk dan INKA sebagai bagian manufaktur akan diuji oleh kemampuan menghubungkan kebutuhan operator dengan kapasitas produksi dan perawatan dalam negeri. (Artha Tidar)


























