Wartatrans.com, BANDUNG – PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) memperkuat pengamanan operasional Whoosh melalui koordinasi dengan Polda Jawa Barat. Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi berbagai gangguan terhadap jalur, aset, prasarana, hingga aktivitas perjalanan kereta cepat.
Penguatan koordinasi itu dibahas dalam pertemuan jajaran KCIC dengan Polda Jawa Barat di Bandung, Senin (21/9). Rombongan KCIC dipimpin Direktur Utama KCIC Dwiyana Slamet Riyadi dan diterima Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Pipit Rismanto beserta jajaran.
General Manager Corporate Secretary KCIC Eva Chairunisa mengatakan, kerja sama dengan Kepolisian RI telah dilakukan sejak tahap pembangunan hingga Whoosh memasuki masa operasional.
“Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui pengamanan dan patroli, pengamanan kegiatan strategis, serta sosialisasi kepada masyarakat. Sinergi dengan Kepolisian menjadi penguatan agar pencegahan dan penanganan berbagai potensi gangguan dapat dilakukan secara lebih efektif dan terkoordinasi,” ujar Eva.
Saat ini, KCIC mengerahkan 531 personel pengamanan di berbagai titik, mulai dari stasiun, depo, sepanjang jalur, hingga area operasional lainnya.
Sistem pengamanan juga diperkuat dengan teknologi pemantauan. KCIC mengoperasikan 1.773 kamera CCTV yang terintegrasi pada fasilitas, jalur, dan rangkaian Whoosh. Selain itu, sejumlah sensor digunakan untuk membantu pemantauan aspek keselamatan dan operasional.
Menurut KCIC, pengamanan tersebut menjadi salah satu bagian dalam menjaga keandalan perjalanan Whoosh. Sejak beroperasi pada Oktober 2023, Whoosh tercatat tidak mengalami kecelakaan (accident).
Dari sisi ketepatan waktu, rata-rata ketepatan keberangkatan Whoosh pada periode Januari hingga Agustus 2026 mencapai 99,42 persen.
Meski demikian, KCIC masih menghadapi sejumlah potensi gangguan di sepanjang jalur Whoosh yang memiliki panjang 142,3 kilometer. Gangguan dapat berasal dari aktivitas masyarakat, kondisi lingkungan maupun aspek keamanan aset.
Beberapa gangguan yang ditemukan antara lain layang-layang, satwa yang masuk ke area jalur seperti biawak, vandalisme dan pencurian komponen prasarana, potensi kebakaran, hingga aktivitas pembangunan di sekitar trase.
Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, KCIC mencatat 222 kejadian gangguan yang berkaitan dengan layang-layang dan 15 kejadian akibat biawak. Data tersebut menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat patroli, pengawasan serta edukasi kepada masyarakat.
Koordinasi dengan kepolisian juga dilakukan dalam penanganan sejumlah kasus keamanan di wilayah operasional Whoosh. Sepanjang 2026, beberapa kasus vandalisme dan pencurian aset telah ditindaklanjuti bersama jajaran kepolisian di wilayah terkait dan sejumlah pelaku berhasil diamankan.
Dalam pertemuan dengan Polda Jawa Barat, KCIC turut memaparkan kondisi pengamanan terkini, potensi gangguan serta evaluasi atas berbagai kejadian yang telah terjadi. Kedua pihak kemudian membahas langkah penguatan koordinasi di lapangan, termasuk pengamanan aset dan prasarana serta penanganan gangguan.
Koordinasi juga diarahkan pada pemetaan wilayah yang memiliki potensi gangguan dan peningkatan edukasi bagi masyarakat yang tinggal maupun beraktivitas di sekitar jalur Whoosh.
“Keselamatan perjalanan dan keamanan seluruh fasilitas Whoosh merupakan prioritas. Kami mengapresiasi koordinasi dan dukungan yang selama ini diberikan Kepolisian, khususnya Polda Jawa Barat beserta seluruh jajaran kewilayahan. Sinergi ini akan terus kami perkuat untuk menjaga Whoosh tetap aman, andal, dan dapat melayani masyarakat dengan baik,” tutup Eva.(fahmi)
























