Menu

Mode Gelap
Kembang Api di Jembatan Esplanade, Singapura: Harapan Baru Menyambut 2026 Presiden Tinjau Huntara Aceh Tamiang, Tegaskan Komitmen Pemerintah Tangani Dampak Bencana Sanggar Seni Surawisesa Gelar Diskusi Nasab Leluhur Awali Tahun 2026 KA Bandara Adi Soemarmo Catat Okupansi 129 Persen Selama Nataru, jadi Pilihan Utama Masyarakat Madiun Refleksi Awal Tahun, Noyo Gimbal View Dipadati Wisatawan Pelindo Berbagi Kasih di Akhir Tahun, Santuni 150 Anak Yatim Piatu di Kota Makassar

RAGAM

Kuyang Legenda Kalimantan Diangkat Ke Dalam Film

badge-check


					Kuyang Legenda Kalimantan Diangkat Ke Dalam Film Perbesar

Wartatrans.com, KALBAR — Legenda Kuyang, sosok mistis yang telah lama hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Kalimantan, kembali dihadirkan ke ruang publik melalui medium film layar lebar.

Rumah produksi DHF Entertainment mengangkat folklore tersebut dalam film horor bertajuk Kuyank, sebuah karya yang tidak hanya menonjolkan teror supranatural, tetapi juga mengajak penonton menyelami lapisan emosional manusia, terutama tentang cinta, rumah tangga, dan tekanan sosial yang kerap luput disadari sebagai pemantik tragedi.

Berbeda dari film horor pada umumnya yang mengandalkan kejutan instan, Kuyank memilih jalur penceritaan yang perlahan namun menekan. Teror dalam film ini tidak hadir secara tiba-tiba, melainkan tumbuh dari relasi antarmanusia yang rapuh.

Cinta yang terhimpit tuntutan, pilihan hidup yang kian menyempit, serta konflik keluarga yang tak menemukan jalan keluar menjadi fondasi cerita yang kemudian bertransformasi menjadi kutukan.

Produser DHF Entertainment, Victor G Pramusinto, menegaskan bahwa pendekatan tersebut menjadi ruh utama film ini. Dalam jumpa pers yang digelar di kawasan Jakarta Timur, Rabu (24/12/2025), ia menyebutkan bahwa Kuyank sengaja dirancang agar penonton lebih dulu terhubung dengan sisi kemanusiaan para tokohnya.

“Lewat film ini, kami ingin penonton peduli dahulu pada manusianya, karena dari situlah rasa takutnya terasa nyata,” ujar Victor. Menurutnya, horor akan lebih membekas ketika berangkat dari emosi yang dekat dengan keseharian penonton, bukan sekadar visual menakutkan.

Legenda Kuyang sendiri dikenal sebagai makhluk mistis khas Kalimantan, digambarkan sebagai perempuan yang mempelajari ilmu hitam demi kecantikan dan keabadian, dengan konsekuensi mengerikan.

Dalam Kuyank, sosok ini tidak dihadirkan semata sebagai figur seram, melainkan sebagai manifestasi dari konflik batin, tekanan tradisi, dan norma sosial yang dilanggar.

Victor menjelaskan, pemilihan legenda Kuyang bukan tanpa alasan. Folklore tersebut dinilai memiliki kekuatan emosional yang selaras dengan tema keluarga dan relasi personal yang diangkat dalam film.

“Lewat film ini kita coba gambarkan rasa cinta yang jadi kutukan, yang sumbernya dari realita irasional berkaitan dengan keluarga, tradisi, dan norma yang dilanggar, sehingga memunculkan sosok Kuyang sebagai simbol mistis dari konflik itu,” tegasnya.

Cerita Kuyank berpusat pada kehidupan Rusmiati, seorang gadis kampung yang sederhana, dan Badri, lelaki terpandang di wilayah Banjar, Kalimantan. Keduanya memilih menikah atas dasar cinta, meski keputusan tersebut mendapat penolakan keras dari keluarga besar.

Penolakan itu tidak lepas dari ramalan yang dipercaya turun-temurun, bahwa pernikahan mereka akan membawa kesialan.

Pada awal pernikahan, kehidupan rumah tangga Rusmiati dan Badri digambarkan berjalan harmonis.

Kebahagiaan sederhana di kampung, kehangatan relasi suami istri, dan harapan akan masa depan menjadi gambaran awal yang menenangkan. Namun, ketenangan itu perlahan terkikis oleh satu persoalan klasik yang kerap menjadi sumber konflik dalam rumah tangga: keturunan.

Waktu berjalan, tetapi Rusmiati dan Badri belum juga dikaruniai anak. Tekanan pun mulai datang, bukan hanya dari dalam diri mereka, tetapi terutama dari keluarga besar Badri. Desakan agar Badri menikah lagi demi mendapatkan keturunan semakin kuat, dengan dalih mematahkan ramalan buruk yang selama ini menghantui.

Situasi ini membuat posisi Rusmiati semakin terjepit, terombang-ambing antara cinta pada suami dan ketakutan kehilangan segalanya.

Dalam kondisi terdesak itulah Rusmiati mengambil keputusan fatal. Ia memilih jalan gelap dengan mempelajari ajian Kuyang, ilmu hitam kuno yang diyakini mampu memberi kecantikan, daya tarik, dan keabadian.

Keputusan tersebut bukan lahir dari ambisi, melainkan dari rasa takut dan keputusasaan seorang perempuan yang merasa cintanya terancam.

Namun, apa yang awalnya dianggap sebagai jalan keluar justru menjadi awal petaka. Teror demi teror mulai terjadi. Bayi dan perempuan hamil menjadi korban misterius, menciptakan ketakutan massal di tengah masyarakat.

Kecurigaan perlahan mengarah pada Rusmiati, hingga akhirnya jati dirinya terbongkar.

Amarah warga pun tak terbendung. Dalam situasi genting itu, batas antara cinta dan kutukan semakin kabur.

Badri dihadapkan pada pilihan paling pahit dalam hidupnya: melindungi perempuan yang ia cintai, atau menyerah pada tekanan masyarakat demi keselamatan bersama. Konflik inilah yang menjadi puncak emosional film, mempertemukan tragedi personal dengan kekerasan sosial.

Aktor Rio Dewanto dipercaya memerankan tokoh Badri. Ia mengaku peran tersebut menuntut proses yang tidak mudah, terutama karena latar budaya yang jauh dari kesehariannya.

Salah satu tantangan terbesar adalah penguasaan dialek bahasa Banjar, serta kebiasaan dan gestur masyarakat setempat.

“Tantangan saat membintangi film ini lebih kepada dialek dan kebiasaan karakter. Jujur, sebelum film ini saya belum pernah ke Kalimantan. Jadi butuh belajar ekstra,” ungkap Rio.

Meski demikian, pengalaman tersebut justru meninggalkan kesan mendalam baginya.

“Setelah main di film ini, saya jadi kangen dengan situasi yang saya dapatkan, terutama tentang keramahan dan kehangatan masyarakat Kalimantan,” tambahnya.

Selain Rio Dewanto, Kuyank juga dibintangi oleh Putri Intan Kasela sebagai Rusmiati, Ochi Rosdiana, Jolene Marie, serta aktor senior Barry Prima. Deretan pemain lainnya seperti Dayu Wijanto, Ananda George, Betari Ayu, Hazman Al Idrus, dan Ellizabeth Christine turut memperkuat dinamika cerita dengan karakter-karakter yang merepresentasikan tekanan sosial dan tradisi.

Dengan pendekatan horor yang berakar pada realitas emosional dan budaya lokal, Kuyank menawarkan pengalaman menonton yang berbeda.

Film ini tidak sekadar menghidupkan kembali legenda Kuyang, tetapi juga mengajak penonton merenungkan bagaimana cinta, ketika ditekan oleh norma dan ekspektasi sosial, dapat berubah menjadi sesuatu yang destruktif.

Film Kuyank dijadwalkan tayang di bioskop Tanah Air mulai 29 Januari 2026. Kehadirannya diharapkan tidak hanya memperkaya khazanah film horor Indonesia, tetapi juga membuka ruang dialog tentang tradisi, tekanan keluarga, dan pilihan-pilihan pahit yang kerap dihadapi manusia dalam diam.*** (LonyenkRap)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kembang Api di Jembatan Esplanade, Singapura: Harapan Baru Menyambut 2026

2 Januari 2026 - 01:10 WIB

Sanggar Seni Surawisesa Gelar Diskusi Nasab Leluhur Awali Tahun 2026

1 Januari 2026 - 21:20 WIB

Refleksi Awal Tahun, Noyo Gimbal View Dipadati Wisatawan

1 Januari 2026 - 18:57 WIB

Pelindo Berbagi Kasih di Akhir Tahun, Santuni 150 Anak Yatim Piatu di Kota Makassar

1 Januari 2026 - 18:14 WIB

Pelindo Regional 2 Tanjung Priok Jaga Stabilitas Arus Kapal dan Barang Sepanjang 2025 di Tengah Tantangan Logistik

1 Januari 2026 - 17:47 WIB

Trending di ANJUNGAN