Wartatrans.com, PADANG — Kelelahan setelah perjalanan panjang kerap menjadi alasan terbaik untuk menunda petualangan. Itulah yang terjadi pada Selasa petang, 6 Januari, saat saya tiba di Kota Padang dan memutuskan bermalam di Hotel Whiz. Hotel ini dipilih bukan tanpa alasan: lokasinya strategis, tepat di jantung kota, memudahkan mobilitas—terutama karena esok paginya saya harus kembali ke wilayah perbatasan Bunga, Dharmasraya.
Kamar yang disediakan cukup lega, dengan ukuran tempat tidur 180 x 200 sentimeter. Fasilitasnya sederhana namun fungsional, dan yang terpenting, harga yang ditawarkan masih masuk akal. Di sekeliling hotel, berbagai pilihan kuliner mudah dijangkau—dari rumah makan ikan bakar khas Padang hingga gerai waralaba seperti Solaria dan pusat belanja Transmart yang tak terlalu jauh.
Namun rencana berburu kuliner di luar hotel akhirnya kandas. Tubuh yang letih membuat kami memilih bertahan. Resepsionis kemudian mengarahkan kami ke restoran hotel yang berada di lantai sembilan. Menu tersedia di kamar—praktis dan informatif.


Sekitar pukul 18.00, kami menuju restoran. Sambutan hangat datang dari seorang petugas bernama Andre yang melayani dengan ramah dan sigap. Pesanan pun dibuat, termasuk segelas latte yang menemani waktu tunggu.
Dari lantai sembilan, Kota Padang terbentang luas. Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi terlihat jelas, menjadi titik visual yang menenangkan. Restoran ini terbagi dalam dua area: ruang berpendingin udara dan area terbuka dengan semilir angin malam. Musik lembut—lagu-lagu Dewa—mengalun, menambah suasana syahdu di tengah kota yang perlahan meredup.
Menu yang dipesan cukup beragam: iga bakar, ayam bakar Bali, sate taichan, dan crispy chicken steak. Tak lama, hidangan pun datang satu per satu. Ayam bakar Bali menjadi pembuka yang mengesankan—dagingnya gurih dan matang sempurna, sambalnya tajam dan berani. Sambal merah dan sambal mentah habis hingga dua kali tambah.
Iga bakar menyusul, empuk dan kaya rasa, seolah dirancang untuk dinikmati perlahan. Sate taichan dan crispy chicken steak melengkapi meja makan, masing-masing tampil meyakinkan tanpa perlu banyak komentar.
“Sepertinya kalau satu menu enak, yang lain juga enak. Mungkin karena chef-nya sama,” ujar Mami Nun, setengah berseloroh, setengah memastikan kepuasan.
Makan malam itu menjadi penutup hari yang tepat. Tanpa perlu keluar hotel, tanpa hiruk-pikuk kota, pengalaman kuliner di restoran lantai sembilan Hotel Whiz Padang justru menghadirkan kejutan yang tak disangka: sederhana, hangat, dan meninggalkan kesan mendalam.*** (Ifal)

Citarasa yang mengesankan di Hotel Whiz Padang.





















6 Komentar
Penulisan yg ringan dan padat membuat kita merasakan deskripsi dari sang penulis. Mantab
Penulisan yg ringan dan padat membuat kita merasakan deskripsi dari sang penulis.Mantab
[7/1 08.27] Ludfan Nasution: Ringan, tapi penting. Ada sentuhan-sentuhan lembut saat pikiran sedang tegang-tegangnya. Kalam alam dan malam kembali menyapa hati yang kembali tertimbun pekat pikiran. Tentu, Kota Padang selalu punya pesan yang selalu dikenang.
[7/1 08.42] Ludfan Nasution: Seperti Bungo, dia selalu jadi kuntum hasrat di kampung jiwa. Hehehe…. Horas
Ringan, tapi penting. Ada sentuhan-sentuhan lembut saat pikiran sedang tegang-tegangnya. Kalam alam dan malam kembali menyapa hati yang kembali tertimbun pekat pikiran. Tentu, Kota Padang selalu punya pesan yang selalu dikenang.
Seperti Bungo, dia selalu jadi kuntum hasrat di kampung jiwa. Hehehe…. Horas
Mantap.
Mantaaap!