Oleh: Raisa Adzana Davita
_________

Wartatrans.com, KISAH — Namaku Raisa. Aku berusia sebelas tahun dan masih duduk di kelas lima sekolah dasar. Namun hari itu, aku belajar tentang kehidupan dengan cara yang tidak pernah kutemukan di ruang kelas.
Alam yang kulihat tak lagi sama dengan yang biasa kugambar di buku gambarku. Gunung-gunung yang dulu hijau dan megah kini tampak runtuh. Longsor menutup jalan, menghancurkan rumah-rumah warga yang sebelumnya berdiri kokoh. Di posko pengungsian, aku melihat ibu-ibu menangis pelan. Bapak-bapak duduk terdiam, menatap kosong ke arah puing-puing. Rumah yang dulu mereka tinggali kini tinggal kenangan.
Hatiku terasa sesak melihat semua itu. Aku ingin membantu, meski aku masih anak-anak. Bersama bunda dan Pak Ngah, aku datang membawa sedikit bantuan. Tidak banyak, tapi itulah yang kami punya. Saat tiba, aku melihat anak-anak seusiaku. Wajah mereka tampak lelah, tetapi mata mereka masih menyimpan harapan. Aku mengajak mereka bermain. Kami tertawa, berlari kecil di tanah yang masih basah oleh longsor. Untuk sesaat, kesedihan seperti ikut menjauh.
Di tengah tawa itu, hatiku kembali terasa sedih saat melihat hutan di sekitar desa. Pohon-pohon besar yang dulu berdiri tegak kini banyak yang hilang. Aku mendengar orang-orang dewasa berkata, gunung menjadi longsor karena terlalu banyak pohon ditebang. Alam, kata mereka, menjadi marah karena manusia tidak menjaganya. Rumah-rumah warga pun akhirnya tertimpa longsor.

Perjalanan kami belum selesai. Kami harus menuju desa lain yang kondisinya lebih parah. Jembatan menuju desa itu sudah rusak. Tidak ada jalan biasa untuk dilewati. Satu-satunya cara adalah menyeberang menggunakan tali sling yang terbentang di atas jurang.
Jantungku berdebar kencang. Aku takut. Tapi aku juga ingin sampai ke sana—bertemu teman-teman baru dan berbagi kebahagiaan.
Dengan hati-hati aku melangkah, menggenggam tali sling erat-erat. Angin bertiup pelan. Aku menatap ke bawah sejenak, lalu berdoa dalam hati. Setiap langkah terasa menegangkan. Hingga akhirnya, kakiku menginjak tanah di seberang.
Aku tersenyum lega. Ternyata aku bisa.
Di desa itu, aku kembali bermain bersama anak-anak. Kami bernyanyi, tertawa, dan saling bercerita. Kami juga membawa kue sebagai hadiah kecil. Anak-anak menyambutnya dengan wajah ceria. Senyum mereka membuat hatiku hangat—bahagia karena bisa melihat mereka tertawa lagi, meski hanya sebentar.
Hal paling mengejutkan terjadi saat warga desa memberi kami hadiah balasan. Mereka memberikan durian dalam jumlah banyak. Padahal mereka sendiri sedang kesulitan. Kami makan durian bersama dengan penuh rasa syukur. Rasanya sangat manis, bukan hanya di lidah, tetapi juga di hati.
Hari itu aku belajar satu hal penting: ketika kita berbagi dengan tulus, orang lain pun akan berbagi kembali, meski mereka tidak memiliki banyak.
Perjalanan itu menjadi salah satu hari paling membahagiakan dalam hidupku. Aku belajar tentang keberanian, tentang arti berbagi, dan tentang pentingnya menjaga alam. Aku berharap suatu hari nanti, alam yang terluka ini bisa pulih kembali. Gunung kembali hijau, rumah-rumah dibangun lagi, dan anak-anak bisa tertawa tanpa rasa takut.
Semoga alam kembali tersenyum. Dan semoga manusia belajar untuk lebih mencintainya.









