Menu ✖

Mode Gelap
Pemuda Kalai Anim Didorong Kuasai Jurnalistik, Suarakan Aspirasi Kampung Lewat Media Formas dan BNPB Bahas Uji Coba Kembali Cairan Penanggulangan Karhutla di Sumatera Selatan Syahrial Abadi, penggerak perjuangan Jalan dan Jembatan Tajuk Enang-Enang, berpulang Ditjen Hubdat Temukan Pelanggaran Bus AntarKota Didominasi Penyimpangan Trayek Jasa Raharja Pastikan Seluruh Korban Kecelakaan Truk di Bekasi Terjamin Santunan H. Fikri Hudi Oktiarwan Gelar Pendidikan Politik Kewarganegaraan, Diikuti 300 Peserta dari Berbagai Kecamatan di Kabupaten Bogor

SOSOK

Meniti Tali Sling, Belajar dari Alam yang Terluka

badge-check


 Meniti Tali Sling, Belajar dari Alam yang Terluka Perbesar

Oleh: Raisa Adzana Davita

_________

Wartatrans.com, KISAH — Namaku Raisa. Aku berusia sebelas tahun dan masih duduk di kelas lima sekolah dasar. Namun hari itu, aku belajar tentang kehidupan dengan cara yang tidak pernah kutemukan di ruang kelas.

Alam yang kulihat tak lagi sama dengan yang biasa kugambar di buku gambarku. Gunung-gunung yang dulu hijau dan megah kini tampak runtuh. Longsor menutup jalan, menghancurkan rumah-rumah warga yang sebelumnya berdiri kokoh. Di posko pengungsian, aku melihat ibu-ibu menangis pelan. Bapak-bapak duduk terdiam, menatap kosong ke arah puing-puing. Rumah yang dulu mereka tinggali kini tinggal kenangan.

Hatiku terasa sesak melihat semua itu. Aku ingin membantu, meski aku masih anak-anak. Bersama bunda dan Pak Ngah, aku datang membawa sedikit bantuan. Tidak banyak, tapi itulah yang kami punya. Saat tiba, aku melihat anak-anak seusiaku. Wajah mereka tampak lelah, tetapi mata mereka masih menyimpan harapan. Aku mengajak mereka bermain. Kami tertawa, berlari kecil di tanah yang masih basah oleh longsor. Untuk sesaat, kesedihan seperti ikut menjauh.

Di tengah tawa itu, hatiku kembali terasa sedih saat melihat hutan di sekitar desa. Pohon-pohon besar yang dulu berdiri tegak kini banyak yang hilang. Aku mendengar orang-orang dewasa berkata, gunung menjadi longsor karena terlalu banyak pohon ditebang. Alam, kata mereka, menjadi marah karena manusia tidak menjaganya. Rumah-rumah warga pun akhirnya tertimpa longsor.

Perjalanan kami belum selesai. Kami harus menuju desa lain yang kondisinya lebih parah. Jembatan menuju desa itu sudah rusak. Tidak ada jalan biasa untuk dilewati. Satu-satunya cara adalah menyeberang menggunakan tali sling yang terbentang di atas jurang.

Jantungku berdebar kencang. Aku takut. Tapi aku juga ingin sampai ke sana—bertemu teman-teman baru dan berbagi kebahagiaan.

Dengan hati-hati aku melangkah, menggenggam tali sling erat-erat. Angin bertiup pelan. Aku menatap ke bawah sejenak, lalu berdoa dalam hati. Setiap langkah terasa menegangkan. Hingga akhirnya, kakiku menginjak tanah di seberang.

Aku tersenyum lega. Ternyata aku bisa.

Di desa itu, aku kembali bermain bersama anak-anak. Kami bernyanyi, tertawa, dan saling bercerita. Kami juga membawa kue sebagai hadiah kecil. Anak-anak menyambutnya dengan wajah ceria. Senyum mereka membuat hatiku hangat—bahagia karena bisa melihat mereka tertawa lagi, meski hanya sebentar.

Hal paling mengejutkan terjadi saat warga desa memberi kami hadiah balasan. Mereka memberikan durian dalam jumlah banyak. Padahal mereka sendiri sedang kesulitan. Kami makan durian bersama dengan penuh rasa syukur. Rasanya sangat manis, bukan hanya di lidah, tetapi juga di hati.

Hari itu aku belajar satu hal penting: ketika kita berbagi dengan tulus, orang lain pun akan berbagi kembali, meski mereka tidak memiliki banyak.

Perjalanan itu menjadi salah satu hari paling membahagiakan dalam hidupku. Aku belajar tentang keberanian, tentang arti berbagi, dan tentang pentingnya menjaga alam. Aku berharap suatu hari nanti, alam yang terluka ini bisa pulih kembali. Gunung kembali hijau, rumah-rumah dibangun lagi, dan anak-anak bisa tertawa tanpa rasa takut.

Semoga alam kembali tersenyum. Dan semoga manusia belajar untuk lebih mencintainya.

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Pemuda Kalai Anim Didorong Kuasai Jurnalistik, Suarakan Aspirasi Kampung Lewat Media

2 November 2026 - 15:53 WIB

Formas dan BNPB Bahas Uji Coba Kembali Cairan Penanggulangan Karhutla di Sumatera Selatan

2 November 2026 - 14:19 WIB

H. Fikri Hudi Oktiarwan Gelar Pendidikan Politik Kewarganegaraan, Diikuti 300 Peserta dari Berbagai Kecamatan di Kabupaten Bogor

2 November 2026 - 13:22 WIB

Ananda Omesh Punya Banyak Cerita dengan Kereta, Jadi Brand Ambassador Kampanye Ayo Naik Kereta

2 November 2026 - 10:29 WIB

Teuku Iskandar Muda pimpin ORARI Bener Meriah, Muslok pertama tetapkan arah organisasi

1 November 2026 - 17:52 WIB

Borobudur Disorot: Kesejahteraan Warga dan Kontroversi Konser Andrea Bocelli

1 November 2026 - 11:31 WIB

Percaya Diri dan Disiplin Antar Andika Ageng Pamungkas Terpilih Jadi Spark KAI Services Oktober 2026

1 November 2026 - 06:55 WIB

KEMALA Jabodetabek Gelar Maulid Nabi, Hadirkan Penceramah dari Palestina

31 Oktober 2026 - 22:26 WIB

FIFGROUP Raih 2 Penghargaan dalam Ajang Indonesia Corporate Sustainability Initiatives 2026

31 Oktober 2026 - 14:08 WIB

Perayaan Ulang Tahun Panglima Langit Bareng Anak Yatim-piatu serta Perayaan Maulid Nabi Muhammad 

31 Oktober 2026 - 12:52 WIB

Trending di RAGAM