Menu ✖

Mode Gelap
Pemuda Kalai Anim Didorong Kuasai Jurnalistik, Suarakan Aspirasi Kampung Lewat Media Formas dan BNPB Bahas Uji Coba Kembali Cairan Penanggulangan Karhutla di Sumatera Selatan Syahrial Abadi, penggerak perjuangan Jalan dan Jembatan Tajuk Enang-Enang, berpulang Ditjen Hubdat Temukan Pelanggaran Bus AntarKota Didominasi Penyimpangan Trayek Jasa Raharja Pastikan Seluruh Korban Kecelakaan Truk di Bekasi Terjamin Santunan H. Fikri Hudi Oktiarwan Gelar Pendidikan Politik Kewarganegaraan, Diikuti 300 Peserta dari Berbagai Kecamatan di Kabupaten Bogor

RAGAM

Puisi sebagai Arsip Ingatan, Chairil Gibran Ramadhan Melawan Lupa Sejarah

badge-check


 Puisi sebagai Arsip Ingatan, Chairil Gibran Ramadhan Melawan Lupa Sejarah Perbesar

Wartatrabs.com, JAKARTA — Di tengah maraknya puisi populer yang menekankan ekspresi personal dan metafora yang mudah dikutip, penyair dan peneliti Chairil Gibran Ramadhan (CGR) memilih jalur yang berbeda. Melalui buku terbarunya, Tjente Manis Hoedjan Gerimis, CGR menempatkan puisi sebagai medium penggalian sejarah dan ingatan kolektif—sebuah upaya melawan lupa yang kerap menyelimuti narasi kebudayaan kota.

Berbeda dari kecenderungan puisi liris yang ringkas dan emosional, puisi-puisi CGR hadir dengan struktur yang tak lazim. Larik-lariknya yang relatif sederhana disertai catatan kaki panjang dan rinci, memuat nama, tanggal, tempat, serta kronologi peristiwa yang sebagian besar tak tercatat dalam buku pelajaran sejarah. Tokoh-tokoh seperti Souw Beng Kong, Nie Hoe Kong, Lie Tjian Tjoen, hingga Kho Tjeng Lie alias Ateng, dihadirkan bukan sebagai figur monumental, melainkan sebagai manusia yang hidup dalam denyut zamannya.

Pilihan estetik ini bukan tanpa risiko. Puisi sejarah dengan catatan kaki bukanlah genre yang lazim diminati pembaca arus utama. Tidak ada larik yang dirancang untuk menjadi kutipan media sosial, juga tidak ada ledakan emosi khas puisi protes atau puisi cinta. Namun, di situlah konsistensi CGR terlihat. Ia tidak menyederhanakan masa lalu agar mudah dikonsumsi, melainkan mengajak pembaca untuk bersabar, menelusuri konteks, dan berhadapan langsung dengan kerumitan sejarah.

Dalam karya-karyanya, catatan kaki tidak sekadar berfungsi sebagai pelengkap informasi. Ia menjadi jembatan antara imajinasi dan fakta, antara pengalaman estetik dan pengetahuan historis. Puisi tidak diposisikan sebagai ruang yang terlepas dari realitas, melainkan sebagai pintu masuk untuk memahami realitas yang pernah ada. Dengan cara itu, puisi berperan sebagai pemantik rasa ingin tahu—mendorong pembaca membuka arsip, menelusuri sejarah, dan mempertanyakan ingatan yang selama ini dianggap telah selesai.

Pendekatan tersebut menempatkan karya CGR dalam konteks yang lebih luas. Ia tidak hanya menulis puisi, tetapi juga menawarkan metode. Dalam tangannya, puisi berfungsi sebagai bentuk historiografi alternatif—mencatat peristiwa kecil, tradisi lokal, dialek, dan kebiasaan sehari-hari yang kerap terpinggirkan oleh narasi besar sejarah resmi.

Buku Tjente Manis Hoedjan Gerimis merupakan judul keenam dari seri Setangkle Puisi Sejarah & Budaya: Betawi, Batavia, Jakarta. Lima buku sebelumnya telah menjadi koleksi Universiteit Leiden, Belanda. Buku ini secara khusus mengulas tokoh-tokoh seni dan budaya Tionghoa di Batavia serta tradisi Cina Betawi, dengan konsultan isi dan penulis pendahuluan David Kwa, serta pengakhiran oleh sastrawan Eka Budianta. Menariknya, buku ini terbit atas dukungan Kaum Pribumi, bukan lembaga Tionghoa Indonesia maupun konsorsium pengusaha Cina.

Peluncuran buku Tjente Manis Hoedjan Gerimis berlangsung pada Jumat, 23 Januari 2026, pukul 13.00–16.00 WIB, di Aula Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Gedung Ali Sadikin Lantai 4, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat.

Acara ini akan menghadirkan sejumlah pembicara, antara lain Chairil Gibran Ramadhan, Idrus F. Shahab (mantan wartawan senior Tempo), serta Nuthayla Anwar (penyair dan Wakil Rektor Universitas Al Ghurabba). Diskusi akan dimoderatori oleh M. Syakur Usman (Ketua Forum Jurnalis Betawi), dengan pembacaan doa oleh KH Rakhmad Zailani Kiki (MUI Jakarta).

Selain diskusi, acara juga diisi pembacaan puisi oleh sejumlah sastrawan dan budayawan, di antaranya Djuhairiyah RM, Giyanto Subagiyo, Putra Gara, Sam Mukhtar Chaniago, Sihar Ramses Simatupang, dan Prof. Dr. Tuti Tarwiyah. Sejumlah tokoh dijadwalkan memberikan sambutan, termasuk Aba Mardjani, Diki Lukman Hakim, Prof. Dr. Edi Sukardi, M. Rizal Moen’im, serta Prof. Dr. Yasmine Zaki Shahab.

Peluncuran buku ini terselenggara atas kerja sama Penerbit Padasan dan PDS HB Jassin, dengan dukungan Betawi Institute, PSB UHAMKA, Forum Jurnalis Betawi, Komunitas Literasi Betawi, Sahabat Budaya Indonesia, serta Stamboel: Journal of Betawi Socio-Cultural Studies. Sejumlah media turut menjadi mitra peliputan kegiatan ini.

Melalui buku dan pendekatan estetiknya, Chairil Gibran Ramadhan kembali menegaskan bahwa puisi tidak semata ruang ekspresi personal, melainkan juga sarana merawat ingatan—agar sejarah, terutama yang berada di pinggiran, tidak lenyap ditelan waktu.*** (PG)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Pemuda Kalai Anim Didorong Kuasai Jurnalistik, Suarakan Aspirasi Kampung Lewat Media

2 November 2026 - 15:53 WIB

Formas dan BNPB Bahas Uji Coba Kembali Cairan Penanggulangan Karhutla di Sumatera Selatan

2 November 2026 - 14:19 WIB

H. Fikri Hudi Oktiarwan Gelar Pendidikan Politik Kewarganegaraan, Diikuti 300 Peserta dari Berbagai Kecamatan di Kabupaten Bogor

2 November 2026 - 13:22 WIB

Festival Sastra Jakarta 2026, Perkuat Komunitas dan Regenerasi Sastrawan

2 November 2026 - 13:18 WIB

Ananda Omesh Punya Banyak Cerita dengan Kereta, Jadi Brand Ambassador Kampanye Ayo Naik Kereta

2 November 2026 - 10:29 WIB

Menteri Kebudayaan Fadli Zon Luncurkan Gala Indonesia Bercerita 2026–2027, Perkuat Pelestarian Cerita Rakyat Nusantara

2 November 2026 - 05:27 WIB

Bedah Puisi “Ay Lien dalam Empat Babak”, Menguak Jejak Kemanusiaan dan Sejarah dalam Diskusi Sastra di Magelang

2 November 2026 - 03:41 WIB

Teuku Iskandar Muda pimpin ORARI Bener Meriah, Muslok pertama tetapkan arah organisasi

1 November 2026 - 17:52 WIB

Borobudur Disorot: Kesejahteraan Warga dan Kontroversi Konser Andrea Bocelli

1 November 2026 - 11:31 WIB

Pengamanan Konser Andrea Bocelli di Borobudur Libatkan Ribuan Personel, Terbesar Sepanjang Sejarah?

1 November 2026 - 10:58 WIB

Trending di SENI BUDAYA